<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Bertanda Silang... </title>
	<atom:link href="http://urangmudiak.blog.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://urangmudiak.blog.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Wed, 02 Apr 2008 07:40:13 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>sajak</title>
		<link>http://urangmudiak.blog.com/2008/04/02/sajak/</link>
		<comments>http://urangmudiak.blog.com/2008/04/02/sajak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Apr 2008 07:40:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tam</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<font size="4"><b>BUKIT PAINAN</b><br /></font><br />
<i>&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</i><br />
<font size="3"><br />
<i>&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; untuk Ervanita</i><br /></font><br />
<br />
<br />
<font size="3">"aku pernah ingin mengajakmu ke bukit itu."<br />
<br />
<br />
<br />
"ketika seumuranmu, ibuku dibawa perahu bugis ke pulau terdekat. kau lihat, matahari hanya sebesar telur penyu. laut bercerita tentang nenek moyangmu. asal-usul semakin haru biru. pasir-pasir melonjak dalam matamu. seperti hantu dari masalalu, kelepak terompah kuda, bendi yang dipacu terpaksa, dan erang sapi-sapi di padang terbuka."<br />
<br />
<br />
<br />
"aku masih belum lupa warna peta yang kita beri tanda. ke sini, ke sini kelak kita akan pergi. kau menunjuk arahnya. ada jejak peniti pada ujung jarimu."<br />
<br />
<br />
<br />
"tapi kau terlanjur menjadi oranglain."<br />
<br />
<br />
<br />
"aku kesakitan menanggalkanmu dari tubuhku. seperti menanggalkan desa asul-usul, tanah tanpa jawaban, musim hujan yang berlarut-larut, dan air sungai yang keruh perlahan-lahan dari riwayatku. kita tak dapat lagi berencana. membangun rumah dari semuanya. aku pernah memberimu gelang dari pelepah pinang. kita pernah berjanji untuk tak saling meninggalkan. merajut sarang di satu dahan yang tinggi. membiarkan elang-elang itu berkitar-kitar di atas kepala kita."<br />
<br />
<br />
<br />
"tapi kita tak pernah jadi bepergian."<br />
<br />
<br />
<br />
"lengkung teluk painan, biduk-biduk nelayan, dan kota kecil bau ikan, pelabuhan kapal agak ke selatan, pekan tripang, lokan, dan umang-umang. batu kureta di barat daya. derak pedati yang sesak muatan. lenguh kerbau di tanjakan. mengajarkan kita melupakan."&#160;&#160;&#160; &#160;&#160;</font>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><font size="4"><b>BUKIT PAINAN</b><br /></font><br />
<i>&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</i><br />
<font size="3"><br />
<i>&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; untuk Ervanita</i><br /></font></p>
<p>
<font size="3">&#8220;aku pernah ingin mengajakmu ke bukit itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;ketika seumuranmu, ibuku dibawa perahu bugis ke pulau terdekat. kau lihat, matahari hanya sebesar telur penyu. laut bercerita tentang nenek moyangmu. asal-usul semakin haru biru. pasir-pasir melonjak dalam matamu. seperti hantu dari masalalu, kelepak terompah kuda, bendi yang dipacu terpaksa, dan erang sapi-sapi di padang terbuka.&#8221;</p>
<p>&#8220;aku masih belum lupa warna peta yang kita beri tanda. ke sini, ke sini kelak kita akan pergi. kau menunjuk arahnya. ada jejak peniti pada ujung jarimu.&#8221;</p>
<p>&#8220;tapi kau terlanjur menjadi oranglain.&#8221;</p>
<p>&#8220;aku kesakitan menanggalkanmu dari tubuhku. seperti menanggalkan desa asul-usul, tanah tanpa jawaban, musim hujan yang berlarut-larut, dan air sungai yang keruh perlahan-lahan dari riwayatku. kita tak dapat lagi berencana. membangun rumah dari semuanya. aku pernah memberimu gelang dari pelepah pinang. kita pernah berjanji untuk tak saling meninggalkan. merajut sarang di satu dahan yang tinggi. membiarkan elang-elang itu berkitar-kitar di atas kepala kita.&#8221;</p>
<p>&#8220;tapi kita tak pernah jadi bepergian.&#8221;</p>
<p>&#8220;lengkung teluk painan, biduk-biduk nelayan, dan kota kecil bau ikan, pelabuhan kapal agak ke selatan, pekan tripang, lokan, dan umang-umang. batu kureta di barat daya. derak pedati yang sesak muatan. lenguh kerbau di tanjakan. mengajarkan kita melupakan.&#8221;&#160;&#160;&#160; &#160;&#160;</font>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urangmudiak.blog.com/2008/04/02/sajak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sajak</title>
		<link>http://urangmudiak.blog.com/2008/04/02/sajak/</link>
		<comments>http://urangmudiak.blog.com/2008/04/02/sajak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Apr 2008 07:35:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tam</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<br />
<br />
pagi ke berapa ini, sudah kembali sepi<br />
<br />
Masih kau di sana, aku rindu sekali. Menyelami matamu<br />
<br />
Merenangi garis hitam bibirmu<br />
<br />
<br />
<br />
Hidup ini begitu mencekam tanpamu<br />
<br />
<br />
<br />
Mendekatlah<br />
<br />
Apa kau tak lelah<br />
<br />
Bersandarlah<br />
<br />
<br />
<br />
Kita sewaktu-waktu bisa kalah bukan? Lalu menyerah. Matamu basah,<br />
matamu penuh asap, sayang. Sudahlah, jangan tiup lagi bara itu.<br />
<br />
<br />
<br />
Aku akan menyapu awan-awan di pipimu.<br />
<br />
Besok kita beli minyak tanah.<br />
<br />
<br />
<br />
Air sudah kau masak?<br />
<br />
Buatkan aku kopi, beri aku nasi<br />
<br />
Lupakan tentang kianat kita<br />
<br />
sendiri-sendiri<br />
<br />
<br />
<br />
Suapi aku dengan tanganmu<br />
<br />
<br />
<br />
Aku ingin menciumi nasib pahitmu<br />
<br />
Cucilah baju. Sapu saja halamanmu<br />
<br />
<br />
<br />
Retak langit ini<br />
<br />
Sekelilingmu anak-anak<br />
<br />
Menangis banyak<br />
<br />
<br />
<br />
Pagi ke berapa lagi ini<br />
<br />
<br />
<br />
Sudah, sudah<br />
<br />
Kembali padaku<br />
<br />
<br />
<br />
Jarak ini kejam, cintaku<br />
<br />
<br />
<br />
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>pagi ke berapa ini, sudah kembali sepi</p>
<p>Masih kau di sana, aku rindu sekali. Menyelami matamu</p>
<p>Merenangi garis hitam bibirmu</p>
<p>Hidup ini begitu mencekam tanpamu</p>
<p>Mendekatlah</p>
<p>Apa kau tak lelah</p>
<p>Bersandarlah</p>
<p>Kita sewaktu-waktu bisa kalah bukan? Lalu menyerah. Matamu basah,<br />
matamu penuh asap, sayang. Sudahlah, jangan tiup lagi bara itu.</p>
<p>Aku akan menyapu awan-awan di pipimu.</p>
<p>Besok kita beli minyak tanah.</p>
<p>Air sudah kau masak?</p>
<p>Buatkan aku kopi, beri aku nasi</p>
<p>Lupakan tentang kianat kita</p>
<p>sendiri-sendiri</p>
<p>Suapi aku dengan tanganmu</p>
<p>Aku ingin menciumi nasib pahitmu</p>
<p>Cucilah baju. Sapu saja halamanmu</p>
<p>Retak langit ini</p>
<p>Sekelilingmu anak-anak</p>
<p>Menangis banyak</p>
<p>Pagi ke berapa lagi ini</p>
<p>Sudah, sudah</p>
<p>Kembali padaku</p>
<p>Jarak ini kejam, cintaku</p>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urangmudiak.blog.com/2008/04/02/sajak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Kutuk Kegelapan</title>
		<link>http://urangmudiak.blog.com/2008/03/23/jangan-kutuk-kegelapan/</link>
		<comments>http://urangmudiak.blog.com/2008/03/23/jangan-kutuk-kegelapan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Mar 2008 01:04:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tam</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<br />
<br />
"Jangan kutuk kegelapan, nyalakan lilin!"<br />
<br />
<br />
<br />
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>&#8220;Jangan kutuk kegelapan, nyalakan lilin!&#8221;</p>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urangmudiak.blog.com/2008/03/23/jangan-kutuk-kegelapan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://urangmudiak.blog.com/2008/03/13/</link>
		<comments>http://urangmudiak.blog.com/2008/03/13/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Mar 2008 02:32:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tam</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<font face="times new roman,times" size="3"><b>Iwan Fals, Hijau, dan 50:50</b><br />
<br />
<br />
<i>Di sini aku sendiri. Datanglah</i><br />
<br />
<i>Bukit yang dingin, bukit yang sepi &#160;</i><br />
<br />
<i>Tak akan membuatmu tersiksa</i><br />
&#160;<br />
<br />
Iwan Fals bernyanyi di tahun 1992. Suaranya tak seberat sekarang. Suara itu, seperti seorang ibu dari dusun yang jauh dan sepi, suara seorang ibu dalam <i>Mushasi</i>-nya Eiji Yoshikawa, yang berteriak-teriak, "Pemuda-pemuda dusun seharusnya tinggal di dusun!". Ketika itu, Takezo, si Mushasi muda, hendak meninggalkan dusunnya, demi perang, demi cita-cita menjadi Samurai, dan melakukakn sesuatu yang bakal mengesankan sang ayah yang juga seorang samurai. Ia yang sangat ingin membuktikan diri sebagai orang yang harus diperhitungkan, dihormati, bukan hanya sebagai perisau dusun.<br />
<br />
Iwan Fals bernyanyi di tahun 1992, dengan suara yang-tentu saja-tak merdu. Dan album <i>Hijau</i> dirilis. Tapi tak ditanggapi meriah. Album itu terbilang tak laku. Hijau. Entah kenapa, mungkin mengambil salah-satu judul lagu dalam album itu. Atau Hijau merupakan sesuatu yang terancam, yang dicemaskan keberadaan dan kelangsungannya.<br />
<br />
Tahun-tahun itu, pembangunan pesat di satu sisi, industri maju dan semarak, kota-kota mekar dan gemerlap. Tapi kehancuran terus mengejar dan mengancam di lain pihak. Kita mengingat kawasan-kawasan industri yang lahir, galangan kapal, pabrik pesawat terbang, satelit palapa yang mengorbit ke angkasa, dan lainnya. Sekaligus kita tak bisa melupakan hutan yang habis, langit yang bocor, laut yang tercemar. Dan kita, (yang telah menjadi) si orangkota, yang juga bisa berarti manusia industri, diminta kembali. Tapi bisakah, sementara kata kembali adalah kata yang mengandung kalah dan gagal.<br />
<br />
Barangkali sebuah masyarakat yang dibentuk oleh rezim yang menumpuk-numpuk kekayaan dan menghitung-hitungnya, selalu tak pernah mau menanam, selalu menyepelekan kearifan macam apa pun yang hendak diperoleh dari sebuah rangkaian usaha mencipta., dan selalu ingin memetik. Di sana, hasil hari ini menjadi segala-galanya. Ada yang lupa untuk dipikirkan ulang. Bahwa hukum kausalitas ada dan mutlak terjadi. Bahwa apa yang diperbuat hari ini, baik-buruknya, adalah tanggungan manusia yang akan datang. Ia tak cukup lepas hanya untuk hari ini, hari ketika itu. &#160;&#160;<br />
<br />
Dan usaha menjadi masyarakat industri, juga usaha menjadi manusia yang serba otomatis-praktis, tetap digandrungi. Sebab kota-kota terus memoles diri, dengan plasa, dengan mall. Dan televisi yang telah sampai ke dusun-dusun yang sunyi dan dingin menawarkan sesuatu. Sesuatu yang dulu hanya dibawa dan tersebar lewat cerita para perantau di kedai-kedai kopi ketika waktu lebaran tiba. Gambaran yang menakjubkan sehingga membentuk janji, harapan, peruntungan, dan sebagainya.<br />
<br />
Dan kini, Iwan Fals berbicara lagi tentang ‘yang hijau'. Sebuah album bertajuk <i>50:50</i> dirilis tahun ini. Tapi tidak terasa lagi kesunyian yang menggetar itu. Iwan kehilangan daya bercerita, juga daya gugah seorang penyampai seperti dalam album Hijau yang dirilis belasan tahun yang lalu itu. Mungkin suasananya berbeda. Ada yang terasa hambar dan melelahkan untuk disimak dalam duabelas lagu di album ini. Entah kenapa. Mungkin Iwan putus-asa. Mungkin kita yang lelah.<br />
<br />
Namun perambah hutan tidak pernah lelah. Harimau ditembak, karena si raja rimba itu mengganggu manusia. Karena ia kehilangan mangsa. Kenapa? Apa karena kita suka berburu babi? Mungkin benar. Tapi babi punya regenerasi yang mudah, gampang beranak-pinak, sekali melahirkan bisa banyak anak. Kenyataannya, walaupun sudah banyak kelompok-kelompok buru babi, hama babi tetap merajalela. Sedangkan regenerasi harimau terbilang sulit. Apalagi harimau Sumatera. Lantas kenapa? Di lain daerah di Sumatara, gajah menyerang penduduk, masuk perkampungan, memporak-porandakan rumah dan ladang. Habitatnya mulai terancam dan terus terdesak.<br />
<br />
Sementara itu hutan terus juga ditebang, banjir bagai terjadwal di kalender. Dan bumi yang bocor hingga ke perutnya, menyemburkan lumpur panas yang tak mampu disumbat. Kota-kota terus merembes masuk ke daerah-daerah serapan air, bersolek dengan plasa-plasa baru dan mall, dengan beragam industri baru, cerobong-cerobong pabrik dan racun-tuba yang diarahkan ke langit tinggi.<br />
<br />
Jika Tan Malaka dalam Madilog bersikeras bahwa hanya dengan industri kita bisa maju, mengingat Indonesia kaya dengan barang tambang, maka Iwan Fals lewat kumpulan lagu berlabel 50:50-setidak-tidaknya dari label itu-menawarkan keseimbangan, jalan tengah antara boros dan kikir, antara malas menggali dan rakus. Antara memajukan industri dan tetap menjaga kelangsungan alamraya. Jika alam terkembang jadikan guru. Maka membunuh guru adalah kejahatan paling tak terampuni.<br />
<br />
Puncak kemajuan sebuah peradaban pada akhirnya adalah suatu kesadaran untuk kembali, ke akar-akar, ke mata air yang memancarkan kejernihan dan kesejukan. Ke tempat asal manusia yang kodrati: Alamraya. Suatu saat ada masanya, kesadaran tumbuh, bahwa alamraya, dengan segenap rahasia dan kearifannya, begitu menakjubkan kita. Kita akan merindukannya. Kelak. Entah kepan. Mungkin ketika kita telah kehilangannya begitu banyak. Bukankah kehilangan yang membuat sesuatu menjadi berarti?<br />
<br />
Padang, 2007<br />
&#160;<br />
<br /></font>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><font face="times new roman,times" size="3"><b>Iwan Fals, Hijau, dan 50:50</b></p>
<p>
<i>Di sini aku sendiri. Datanglah</i></p>
<p><i>Bukit yang dingin, bukit yang sepi &#160;</i></p>
<p><i>Tak akan membuatmu tersiksa</i><br />
&#160;</p>
<p>Iwan Fals bernyanyi di tahun 1992. Suaranya tak seberat sekarang. Suara itu, seperti seorang ibu dari dusun yang jauh dan sepi, suara seorang ibu dalam <i>Mushasi</i>-nya Eiji Yoshikawa, yang berteriak-teriak, &#8220;Pemuda-pemuda dusun seharusnya tinggal di dusun!&#8221;. Ketika itu, Takezo, si Mushasi muda, hendak meninggalkan dusunnya, demi perang, demi cita-cita menjadi Samurai, dan melakukakn sesuatu yang bakal mengesankan sang ayah yang juga seorang samurai. Ia yang sangat ingin membuktikan diri sebagai orang yang harus diperhitungkan, dihormati, bukan hanya sebagai perisau dusun.</p>
<p>Iwan Fals bernyanyi di tahun 1992, dengan suara yang-tentu saja-tak merdu. Dan album <i>Hijau</i> dirilis. Tapi tak ditanggapi meriah. Album itu terbilang tak laku. Hijau. Entah kenapa, mungkin mengambil salah-satu judul lagu dalam album itu. Atau Hijau merupakan sesuatu yang terancam, yang dicemaskan keberadaan dan kelangsungannya.</p>
<p>Tahun-tahun itu, pembangunan pesat di satu sisi, industri maju dan semarak, kota-kota mekar dan gemerlap. Tapi kehancuran terus mengejar dan mengancam di lain pihak. Kita mengingat kawasan-kawasan industri yang lahir, galangan kapal, pabrik pesawat terbang, satelit palapa yang mengorbit ke angkasa, dan lainnya. Sekaligus kita tak bisa melupakan hutan yang habis, langit yang bocor, laut yang tercemar. Dan kita, (yang telah menjadi) si orangkota, yang juga bisa berarti manusia industri, diminta kembali. Tapi bisakah, sementara kata kembali adalah kata yang mengandung kalah dan gagal.</p>
<p>Barangkali sebuah masyarakat yang dibentuk oleh rezim yang menumpuk-numpuk kekayaan dan menghitung-hitungnya, selalu tak pernah mau menanam, selalu menyepelekan kearifan macam apa pun yang hendak diperoleh dari sebuah rangkaian usaha mencipta., dan selalu ingin memetik. Di sana, hasil hari ini menjadi segala-galanya. Ada yang lupa untuk dipikirkan ulang. Bahwa hukum kausalitas ada dan mutlak terjadi. Bahwa apa yang diperbuat hari ini, baik-buruknya, adalah tanggungan manusia yang akan datang. Ia tak cukup lepas hanya untuk hari ini, hari ketika itu. &#160;&#160;</p>
<p>Dan usaha menjadi masyarakat industri, juga usaha menjadi manusia yang serba otomatis-praktis, tetap digandrungi. Sebab kota-kota terus memoles diri, dengan plasa, dengan mall. Dan televisi yang telah sampai ke dusun-dusun yang sunyi dan dingin menawarkan sesuatu. Sesuatu yang dulu hanya dibawa dan tersebar lewat cerita para perantau di kedai-kedai kopi ketika waktu lebaran tiba. Gambaran yang menakjubkan sehingga membentuk janji, harapan, peruntungan, dan sebagainya.</p>
<p>Dan kini, Iwan Fals berbicara lagi tentang ‘yang hijau&#8217;. Sebuah album bertajuk <i>50:50</i> dirilis tahun ini. Tapi tidak terasa lagi kesunyian yang menggetar itu. Iwan kehilangan daya bercerita, juga daya gugah seorang penyampai seperti dalam album Hijau yang dirilis belasan tahun yang lalu itu. Mungkin suasananya berbeda. Ada yang terasa hambar dan melelahkan untuk disimak dalam duabelas lagu di album ini. Entah kenapa. Mungkin Iwan putus-asa. Mungkin kita yang lelah.</p>
<p>Namun perambah hutan tidak pernah lelah. Harimau ditembak, karena si raja rimba itu mengganggu manusia. Karena ia kehilangan mangsa. Kenapa? Apa karena kita suka berburu babi? Mungkin benar. Tapi babi punya regenerasi yang mudah, gampang beranak-pinak, sekali melahirkan bisa banyak anak. Kenyataannya, walaupun sudah banyak kelompok-kelompok buru babi, hama babi tetap merajalela. Sedangkan regenerasi harimau terbilang sulit. Apalagi harimau Sumatera. Lantas kenapa? Di lain daerah di Sumatara, gajah menyerang penduduk, masuk perkampungan, memporak-porandakan rumah dan ladang. Habitatnya mulai terancam dan terus terdesak.</p>
<p>Sementara itu hutan terus juga ditebang, banjir bagai terjadwal di kalender. Dan bumi yang bocor hingga ke perutnya, menyemburkan lumpur panas yang tak mampu disumbat. Kota-kota terus merembes masuk ke daerah-daerah serapan air, bersolek dengan plasa-plasa baru dan mall, dengan beragam industri baru, cerobong-cerobong pabrik dan racun-tuba yang diarahkan ke langit tinggi.</p>
<p>Jika Tan Malaka dalam Madilog bersikeras bahwa hanya dengan industri kita bisa maju, mengingat Indonesia kaya dengan barang tambang, maka Iwan Fals lewat kumpulan lagu berlabel 50:50-setidak-tidaknya dari label itu-menawarkan keseimbangan, jalan tengah antara boros dan kikir, antara malas menggali dan rakus. Antara memajukan industri dan tetap menjaga kelangsungan alamraya. Jika alam terkembang jadikan guru. Maka membunuh guru adalah kejahatan paling tak terampuni.</p>
<p>Puncak kemajuan sebuah peradaban pada akhirnya adalah suatu kesadaran untuk kembali, ke akar-akar, ke mata air yang memancarkan kejernihan dan kesejukan. Ke tempat asal manusia yang kodrati: Alamraya. Suatu saat ada masanya, kesadaran tumbuh, bahwa alamraya, dengan segenap rahasia dan kearifannya, begitu menakjubkan kita. Kita akan merindukannya. Kelak. Entah kepan. Mungkin ketika kita telah kehilangannya begitu banyak. Bukankah kehilangan yang membuat sesuatu menjadi berarti?</p>
<p>Padang, 2007<br />
&#160;</p>
<p></font>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urangmudiak.blog.com/2008/03/13/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://urangmudiak.blog.com/2008/03/13/</link>
		<comments>http://urangmudiak.blog.com/2008/03/13/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Mar 2008 02:15:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tam</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<p><font face="times new roman,times" size="3"><b><font size="5">Langkisau Bukit Painan</font></b></font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">langkisau bukik langkisau</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">tanang aie di talao</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">tangiang kampuang maimbau</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">taganang si aie mato</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">langkisau bukik painan</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">batampek mandi pincuran nago</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">elok karantau den bajalan</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">kok lai tabangkik batang tarandam</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">badabua ombak mahampeh</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">batu kureta mamanciang ikan</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">kok lai mujua bundo malapeh</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">ayam pulang ka pautan</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">--Langkisau</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Apa kita Manusia Ambang, mengutip Goenawan, "tidak cukup mencintai tempat asal, tapi juga gagal menambatkan hati ke tempat yang baru?"&#160;</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">***</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Seseorag menciptakan lagu itu. Elly Kasim menyanyikannya di tahun yang entah. Begitu lirih dan pilu. Saya mengunjungi kota itu. Juga bukit itu. Dari atasnya kita bisa melihat kota Painan yang kecil. Indah dan menakjubkan. Ada terlihat pantai Batu Kureta yang melekuk agak ke barat. Di ujung lekuk yang lain, terlihat pelabuhan kapal agak ke selatan.<br /></font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Painan memang hanya sebuah lekuk. Sekitar tahun 70-an pelaut-pelaut Bugis banyak berdatangan ke sini. Bermukim, menciptakan hidup. Ada beberapa yang kawin dengan penduduk asli. Di Painan akan kita temukan beberapa orang peranakannya.<br /></font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Mungkin saja. Karena Painan-dan beberapa kota kecil lain di Pesisir itu seperti Salido dan Indrapura yang terletak lebih ke selatan memang terkenal sebagai Bandar-bandar transit sejak dahulu. Di lepas pantai Samudra Hindia, di pulau cingkuk misalnya ada berdiri sebuah benteng Belanda.</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Pelaut-pelaut Bugis yang datang ke situ punya kapal-kapal besar, bagan dan pukat yang lebih mutakhir. Nelayan-nelayan pribumi kalah saing.&#160; Dan di sekitar tahun 70-an itu pelaut-peluat Bugis yang terkenal handal itu mulai menyusut kehadirannya di kota kecil itu. Dan bahkan mulai terkikis habis. Entah peristiwa apa yang menyertainya. Beberapa orang mencatat, ada bentrok terjadi. Kapal-kapal Bugis dibakar penduduk asli di lepas pantai.<br /></font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Walaupun begitu, Painan tetap menawan dengan alamnya yang elok.<br /></font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Tapi Painan, kota kecil yang menawan itu, acap tak banyak memberi peruntungan. Seperti daerah lain di ranah ini banyak orang yang bertolak. Meninggalkan keindahan dan keelokan itu. Seperti sajak Takdir, "aku tinggalkan tasik yang tenang tiada beriak".<br /></font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Painan memang kota yang tenang. Ombak pantainya lembut tak berdebur seperti ombak Pantai Purus. Mungkin lebih tepatnya kota ini lamban. Ia mendekati kota mati. Di hari sabtu, kota ini akan tambah sepi. Anak-anak sekolah biasanya telah pulang ke daerah-daerah pinggiran painan. ke Bayang, Tarusan, Batangkapeh, Kambang, Belaisalasa, ...</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Maka seseorang-dan banyak orang-ingin ke Jakarta, Batam, Semarang, atau kota-kota besar lainnya. Merantau. Mencari peruntungan. Ingin merubah nasib. Menggeliat. Painan tidak menjanjikan itu. Ia hanya kota kecil. Sebuah transit yang penuh kenangan.</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Dan orang-orang yang berangkat itu selalu akan kembali pulang. Nanti. Mengabarkan hasil pencarian selama ini. Mereka mungkin tak pernah mencintai Jakarta, Batam, Semarang, Surabaya, atau... kota-kota lainnya yang ketika akhir lebaran tiba akan lebih sering mengadakan razia para pendatang gelap. Ah, pendatang gelap. Bagaimana istilah ini dirumuskan kepada mereka, penduduk sebuah negara, yang tengah berada di dalam negaranya sendiri?</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Elly Kasim bernyanyi. Dan jauh di Jawa sana ada yang terus merindukan kampung halaman. Apalagi RRI pusat, di hari-hari tertentu akan menyiarkan program "Minang Maimbau" yang menyiarkan lagu-lagu minang ternama, Aneh mungkin, kita disuruh berangkat, tapi sekaligus dipanggil pulang.<br /></font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Padang, 2007</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">&#160;&#160;&#160;</font></p>
<p>&#160;</p>

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p><font face="times new roman,times" size="3"><b><font size="5">Langkisau Bukit Painan</font></b></font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">langkisau bukik langkisau</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">tanang aie di talao</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">tangiang kampuang maimbau</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">taganang si aie mato</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">langkisau bukik painan</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">batampek mandi pincuran nago</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">elok karantau den bajalan</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">kok lai tabangkik batang tarandam</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">badabua ombak mahampeh</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">batu kureta mamanciang ikan</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">kok lai mujua bundo malapeh</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">ayam pulang ka pautan</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">&#8211;Langkisau</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Apa kita Manusia Ambang, mengutip Goenawan, &#8220;tidak cukup mencintai tempat asal, tapi juga gagal menambatkan hati ke tempat yang baru?&#8221;&#160;</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">***</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Seseorag menciptakan lagu itu. Elly Kasim menyanyikannya di tahun yang entah. Begitu lirih dan pilu. Saya mengunjungi kota itu. Juga bukit itu. Dari atasnya kita bisa melihat kota Painan yang kecil. Indah dan menakjubkan. Ada terlihat pantai Batu Kureta yang melekuk agak ke barat. Di ujung lekuk yang lain, terlihat pelabuhan kapal agak ke selatan.<br /></font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Painan memang hanya sebuah lekuk. Sekitar tahun 70-an pelaut-pelaut Bugis banyak berdatangan ke sini. Bermukim, menciptakan hidup. Ada beberapa yang kawin dengan penduduk asli. Di Painan akan kita temukan beberapa orang peranakannya.<br /></font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Mungkin saja. Karena Painan-dan beberapa kota kecil lain di Pesisir itu seperti Salido dan Indrapura yang terletak lebih ke selatan memang terkenal sebagai Bandar-bandar transit sejak dahulu. Di lepas pantai Samudra Hindia, di pulau cingkuk misalnya ada berdiri sebuah benteng Belanda.</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Pelaut-pelaut Bugis yang datang ke situ punya kapal-kapal besar, bagan dan pukat yang lebih mutakhir. Nelayan-nelayan pribumi kalah saing.&#160; Dan di sekitar tahun 70-an itu pelaut-peluat Bugis yang terkenal handal itu mulai menyusut kehadirannya di kota kecil itu. Dan bahkan mulai terkikis habis. Entah peristiwa apa yang menyertainya. Beberapa orang mencatat, ada bentrok terjadi. Kapal-kapal Bugis dibakar penduduk asli di lepas pantai.<br /></font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Walaupun begitu, Painan tetap menawan dengan alamnya yang elok.<br /></font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Tapi Painan, kota kecil yang menawan itu, acap tak banyak memberi peruntungan. Seperti daerah lain di ranah ini banyak orang yang bertolak. Meninggalkan keindahan dan keelokan itu. Seperti sajak Takdir, &#8220;aku tinggalkan tasik yang tenang tiada beriak&#8221;.<br /></font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Painan memang kota yang tenang. Ombak pantainya lembut tak berdebur seperti ombak Pantai Purus. Mungkin lebih tepatnya kota ini lamban. Ia mendekati kota mati. Di hari sabtu, kota ini akan tambah sepi. Anak-anak sekolah biasanya telah pulang ke daerah-daerah pinggiran painan. ke Bayang, Tarusan, Batangkapeh, Kambang, Belaisalasa, &#8230;</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Maka seseorang-dan banyak orang-ingin ke Jakarta, Batam, Semarang, atau kota-kota besar lainnya. Merantau. Mencari peruntungan. Ingin merubah nasib. Menggeliat. Painan tidak menjanjikan itu. Ia hanya kota kecil. Sebuah transit yang penuh kenangan.</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Dan orang-orang yang berangkat itu selalu akan kembali pulang. Nanti. Mengabarkan hasil pencarian selama ini. Mereka mungkin tak pernah mencintai Jakarta, Batam, Semarang, Surabaya, atau&#8230; kota-kota lainnya yang ketika akhir lebaran tiba akan lebih sering mengadakan razia para pendatang gelap. Ah, pendatang gelap. Bagaimana istilah ini dirumuskan kepada mereka, penduduk sebuah negara, yang tengah berada di dalam negaranya sendiri?</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Elly Kasim bernyanyi. Dan jauh di Jawa sana ada yang terus merindukan kampung halaman. Apalagi RRI pusat, di hari-hari tertentu akan menyiarkan program &#8220;Minang Maimbau&#8221; yang menyiarkan lagu-lagu minang ternama, Aneh mungkin, kita disuruh berangkat, tapi sekaligus dipanggil pulang.<br /></font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Padang, 2007</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">&#160;&#160;&#160;</font></p>
<p>&#160;</p>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urangmudiak.blog.com/2008/03/13/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://urangmudiak.blog.com/2008/03/13/</link>
		<comments>http://urangmudiak.blog.com/2008/03/13/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Mar 2008 02:04:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tam</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<font face="times new roman,times" size="3"><b><br />
<font size="5">Sarjana dan Hama</font></b><font size="5"><br /></font><br />
<br />
Sekolah telah membuat banyak orang menjadi murung. Bangku sekolah tidak jarang telah memisahkan pikiran-pikiran manusia dari kenyataan di sekelilingnya. Ali Syaria'ti pernah mengatakan, "Dalam kebudayaan dan sistem pendidikan modern, kaum muda kita dididik dan dilatih dalam benteng-benteng yang terlindung dan tak tertembus."<br />
<br />
Tetapi apalah bedanya? Tidak sekolah pun, siapa pun barangkali akan tetap rentan menjadi murung. Banyak hal yang membuat orang menjadi mudah murung akhir-akhir ini. Cuaca buruk misalnya, yang menyebabkan ladang terserang hama; orang-orang tidak bisa naik menakik getah ke rimba; nelayan tak berani melaut. Mendengar berita kecelakaan di mana-mana, gunung api yang siap meletus, dan entah...<br />
<br />
Saya kira, sekolah-yang menyebabkan orang mudah murung itu-barangkali hanyalah usaha meretas jalan untuk menjadi pegawai negeri, atau bekerja di kantor-kantor pemerintahan, menerima gaji tetap setiap bulan, dan jika pensiun nanti bisa dapat tunjangan: sebuah usaha untuk tidak menjadi murung tentunya. Walaupun itu ‘sekolah' Pertanian sekalipun. Saya tak bermaksud mengatakan seorang yang sekolah dan memperolah gelar sarjana pertanian harus pula menjadi petani, tapi coba perkirakan, berapakah mahasiswa pertanian yang tergerak turun ke ladang, benar-benar berkeinginan menjadi petani, setidak-tidaknya bergerak dalam usaha memajukan pertanian?<br />
<br />
Menjadi petani? Bergerak untuk memajukan pertanian barangkali adalah cita-cita semua mahasiswa pertanian. Bahkan di luar itu. Semoga saja. Tapi untuk terjun lansung ke ladang dan ke sawah? Bukankah mereka punya laboratorium hidup di kampus-kampus mereka? Tentu. Tetapi itu hanya dikunjungi di tahun-tahun masa perkuliahan.&#160;&#160;<br />
<br />
Toh, untuk memajukan pertanian kita tak harus menjadi petani, tak harus langsung turun ke sawah-sawah, ke ladang-ladang, memegang cangkul dan sabit, kedong dan parang, bajak dan sikat.<br />
<br />
Barangkali tak salah. Saya berpikir, apalah yang bisa dibuat oleh seorang (yang hanya) sarjana pertanian untuk memajukan pertanian kita, sedang doktor atau profesor pertanian pun, atau apalah namanya, barangkali belum (tentu) mengetahui hama baru apa yang menjangkiti tanaman pertanian di "kampong" mereka sendiri, yang harus segera mendapatkan penanggulangan serius. Seberapa besar peran "orang-orang pertanian yang terdidik" itu dalam memajukan pertanian itu sendiri? Dan seberapa jauh mereka terjun ke tengah ladang, memberikan ilmu mereka bagi kemajuan pertanian? Ini pun barangkali juga pernyataan yang tak sepenuhnya keliru: Para petani kita dewasa ini seperti berjalan sendiri, mengatur sendiri penanggulangan hama, pembibitan bibit unggul, pemakaian pupuk, hanya dengan mengandalkan kemampuan mereka yang terbatas. &#160;<br />
<br />
Seseorang saya bayangkan berkata: "Dulu ada proyek-proyek percontohan pemakaian bibit unggul, penyuluhan-penyuluhan tentang pupuk dan pestisida yang aman dan tepat, penanggulangan hama .... Dewasa ini semua itu seperti sepi. Apa yang harus kita katakan. Dari rona mukanya, seseorang itu tampaknya pasrah. Hama yang merajalela ditanggulangi sebisa ilmunya saja. Ia (mungkin banyak orang lainya) tak terlalu berharap lagi ada penyuluhan-penyuluhan semacam itu. Bukankah fakultas-fakultas pertanian, lebih banyak menciptakan orang-orang yang akan diperkerjakan sebagai pegawai di kantor-kantor pemerintahan?<br />
<br />
Tetapi setidak-tidaknya mereka yang belajar di fakultas-fakultas pertanian tidak lagi menjadi petani yang harus menanggungkan keganasan hama yang semakin beragam dan aneh-aneh, dan tak jelas apa penyebabnya yang (hampir) tak ada obat pemberantasnya. Dan selalu kita hanya bisa berharap pada sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya kita harapkan.<br />
<br />
Sementara untuk mengharapkan pemerintah semata-mata adalah bagian dari kesia-siaan itu. Bukankah pemerintah masih berkutat perihal impor beras dan pasokan dalam negeri yang tidak mencukupi karena kegagalan panen dan sebagainya. Tapi kita mungkin tak lupa, kegagalan-kegagalan itu tak selalu disebabkan takdir musim dan cuaca yang tak bisa dilawan, tapi barangkali termasuk keengganan kita untuk mencari, meneliti, dan menemukan penangkalnya. Bukankah yang membesarkan hati kita kadang hanyalah harapan-harapan kosong belaka? Maka ramalan Indonesia akan mencapai swasembada mutlak barangkali tak akan pernah tercapai.&#160;&#160;<br />
<br />
(Padang-Pesisir, 2007)<br />
<br />
<br /></font>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><font face="times new roman,times" size="3"><b><br />
<font size="5">Sarjana dan Hama</font></b><font size="5"><br /></font></p>
<p>Sekolah telah membuat banyak orang menjadi murung. Bangku sekolah tidak jarang telah memisahkan pikiran-pikiran manusia dari kenyataan di sekelilingnya. Ali Syaria&#8217;ti pernah mengatakan, &#8220;Dalam kebudayaan dan sistem pendidikan modern, kaum muda kita dididik dan dilatih dalam benteng-benteng yang terlindung dan tak tertembus.&#8221;</p>
<p>Tetapi apalah bedanya? Tidak sekolah pun, siapa pun barangkali akan tetap rentan menjadi murung. Banyak hal yang membuat orang menjadi mudah murung akhir-akhir ini. Cuaca buruk misalnya, yang menyebabkan ladang terserang hama; orang-orang tidak bisa naik menakik getah ke rimba; nelayan tak berani melaut. Mendengar berita kecelakaan di mana-mana, gunung api yang siap meletus, dan entah&#8230;</p>
<p>Saya kira, sekolah-yang menyebabkan orang mudah murung itu-barangkali hanyalah usaha meretas jalan untuk menjadi pegawai negeri, atau bekerja di kantor-kantor pemerintahan, menerima gaji tetap setiap bulan, dan jika pensiun nanti bisa dapat tunjangan: sebuah usaha untuk tidak menjadi murung tentunya. Walaupun itu ‘sekolah&#8217; Pertanian sekalipun. Saya tak bermaksud mengatakan seorang yang sekolah dan memperolah gelar sarjana pertanian harus pula menjadi petani, tapi coba perkirakan, berapakah mahasiswa pertanian yang tergerak turun ke ladang, benar-benar berkeinginan menjadi petani, setidak-tidaknya bergerak dalam usaha memajukan pertanian?</p>
<p>Menjadi petani? Bergerak untuk memajukan pertanian barangkali adalah cita-cita semua mahasiswa pertanian. Bahkan di luar itu. Semoga saja. Tapi untuk terjun lansung ke ladang dan ke sawah? Bukankah mereka punya laboratorium hidup di kampus-kampus mereka? Tentu. Tetapi itu hanya dikunjungi di tahun-tahun masa perkuliahan.&#160;&#160;</p>
<p>Toh, untuk memajukan pertanian kita tak harus menjadi petani, tak harus langsung turun ke sawah-sawah, ke ladang-ladang, memegang cangkul dan sabit, kedong dan parang, bajak dan sikat.</p>
<p>Barangkali tak salah. Saya berpikir, apalah yang bisa dibuat oleh seorang (yang hanya) sarjana pertanian untuk memajukan pertanian kita, sedang doktor atau profesor pertanian pun, atau apalah namanya, barangkali belum (tentu) mengetahui hama baru apa yang menjangkiti tanaman pertanian di &#8220;kampong&#8221; mereka sendiri, yang harus segera mendapatkan penanggulangan serius. Seberapa besar peran &#8220;orang-orang pertanian yang terdidik&#8221; itu dalam memajukan pertanian itu sendiri? Dan seberapa jauh mereka terjun ke tengah ladang, memberikan ilmu mereka bagi kemajuan pertanian? Ini pun barangkali juga pernyataan yang tak sepenuhnya keliru: Para petani kita dewasa ini seperti berjalan sendiri, mengatur sendiri penanggulangan hama, pembibitan bibit unggul, pemakaian pupuk, hanya dengan mengandalkan kemampuan mereka yang terbatas. &#160;</p>
<p>Seseorang saya bayangkan berkata: &#8220;Dulu ada proyek-proyek percontohan pemakaian bibit unggul, penyuluhan-penyuluhan tentang pupuk dan pestisida yang aman dan tepat, penanggulangan hama &#8230;. Dewasa ini semua itu seperti sepi. Apa yang harus kita katakan. Dari rona mukanya, seseorang itu tampaknya pasrah. Hama yang merajalela ditanggulangi sebisa ilmunya saja. Ia (mungkin banyak orang lainya) tak terlalu berharap lagi ada penyuluhan-penyuluhan semacam itu. Bukankah fakultas-fakultas pertanian, lebih banyak menciptakan orang-orang yang akan diperkerjakan sebagai pegawai di kantor-kantor pemerintahan?</p>
<p>Tetapi setidak-tidaknya mereka yang belajar di fakultas-fakultas pertanian tidak lagi menjadi petani yang harus menanggungkan keganasan hama yang semakin beragam dan aneh-aneh, dan tak jelas apa penyebabnya yang (hampir) tak ada obat pemberantasnya. Dan selalu kita hanya bisa berharap pada sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya kita harapkan.</p>
<p>Sementara untuk mengharapkan pemerintah semata-mata adalah bagian dari kesia-siaan itu. Bukankah pemerintah masih berkutat perihal impor beras dan pasokan dalam negeri yang tidak mencukupi karena kegagalan panen dan sebagainya. Tapi kita mungkin tak lupa, kegagalan-kegagalan itu tak selalu disebabkan takdir musim dan cuaca yang tak bisa dilawan, tapi barangkali termasuk keengganan kita untuk mencari, meneliti, dan menemukan penangkalnya. Bukankah yang membesarkan hati kita kadang hanyalah harapan-harapan kosong belaka? Maka ramalan Indonesia akan mencapai swasembada mutlak barangkali tak akan pernah tercapai.&#160;&#160;</p>
<p>(Padang-Pesisir, 2007)</p>
<p></font>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urangmudiak.blog.com/2008/03/13/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://urangmudiak.blog.com/2008/03/13/</link>
		<comments>http://urangmudiak.blog.com/2008/03/13/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Mar 2008 01:56:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tam</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<p>&#160;</p>
<p><font size="5"><b><font face="times new roman,times">Ajo Sidi</font></b></font></p>
<p><font size="5"><b><font face="times new roman,times"><br /></font></b></font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Ini tentang Ajo Sidi. Ini tentang si Pembual. Juga tentang Kakek Garin yang menggorok lehernya sendiri dengan pisau cukur yang diasahnya sendiri. Entah pisau cukur siapa, mungkin pisau cukur Ajo Sidi, mungkin pisau cukur seorang lain yang minta tolong diasahkan pada Kakek Garin. Karena memang demikianlah keseharian Kakek Garin yang terkenal sebagai pengasah pisau di samping melaksanakan tugasnya sebagai garin pada sebuah surau. Surau yang sepeninggal Kakek Garin papan-papannya hilang satu-satu diambil perempuan untuk kayu api, dan digunakan anak-anak sebagai tempat bermain. Memainkan segala apa yang disukai mereka.</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Saya membayangkan Navis. Saya membayangkan senyum penuh satir. Begitu juga cerpen ini kiranya, <i>Robohnya Surau Kami</i> yang di tahun 1955 mendapatkan Hadiah Kedua majalah <i>Kisah</i>. Cerpen yang lahir ketika umur kemerdekaan republik ini masih dapat dihitung dengan jari. Di saat penuh getir, di waktu persaingan politik mulai terdengar bagai tambur di malam buta, semarak partai, kejatuhan kabinet, daerah-daerah dengan ancang-ancang pemberontakan, dan pidato-pidato Soekarno yang mencoba menawar perut lapar di lapangan-lapangan terbuka. Beberapa waktu menjelang Hatta mengundurkan dari dari kursi wakil presiden (dan dengan sendirinya, berakhir pulalah dwitunggal yang terkenal itu). Tahun-tahun ketika Soekarno mulai mengambil kuda-kuda ke arah Demokrasi Terpimpin yang menyatukan tiga aliran sekaligus dalam satu konsep yang kemudian dikenal sebagai NASAKOM.</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Ketika gairah politik ‘gembira' di satu sisi, maka keputus-asaan muncul di lain pihak. Mungkin karena harga beras yang tinggi menanjak, kelaparan di mana-mana, antrian panjang ibu-ibu membeli minyak tanah, aksi-aksi sepihak yang sewenang-wenang.... Sehingganya, banyak orang kemudian melarikan diri dari keadaan macam itu, melupakan dunia, dan tak lagi peduli pada kehidupan sosial yang bermasalah. Bukankah beberapa aliran tasawuf pada mulanya juga berawal dari keadaan-keadaan rupa ini? &#160;&#160;</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Dalam beberapa hitungan tahun setelahnya, tujuh jenderal dibenam di Lubang Buaya. Orang-orang PKI kemudian dikejar di mana-mana. Pembantaian, penghilangan nyawa besar-besaran, dan penghukuman tanpa dalil yang jelas menjadi semarak. Tak terkecuali di sini. Saya membayangkan begitu banyak orang bersorak. Tapi ada mungkin yang murung. Sebuah anekdot hadir saat itu, ketika kata ‘ganyang' acap disorakkan, ‘bapakmu PKI, ya?', atau ‘jangan gambar palu-arit lagi, nanti kau dituduh anak PKI!' (dua yang terakhir meminjam dialog Seno Gumira Ajidarma dalam novel terbarunya bertajuk <i>Kalatidha</i>).</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Anekdot yang tak sepenuhnya membuat kita terpingkal:</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Masjid-masjid diserbu jemaah. Pengajian dan wirid dilangsungkan tiap malam. Bahkan surau-surau tua yang dulu ditingggalkan pun kini sampai tak mampu menampung. Sebab kalau tak datang ke masjid jangan-jangan nanti dicap komunis. Maka seorang lelaki tua-yang sebelumnya diketahui jarang ke masjid dan terkenal tak <i>siak</i>-menangis tersedu-sedu di suatu sudut surau tua, ketika mendengar pengajian pada suatu wirid, oleh seorang dai yang tak kondang-kondang amat. Para jemaah lainnya saling bergumam menyaksikannya: Mungkin lelaki tua itu "termakan kaji", insaf, dan sadar diri.</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Orang-orang itu mencoba menenangkan Pak Tua. Jangan terlalu memikirkan yang sudah-sudah, yang lalu biarlah berlalu, dan sebagai-bagainya. Tapi ternyata, semakin ramai jemaah mendekatinya, maka semakin kencanglah tangis si tua itu.</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Yang benarnya, "anu" lelaki tua itu terjepit papan surau yang sudah bolong-bolong, yang pakunya banyak tanggal, yang memang sudah tak layak pakai dan menunggu roboh.&#160;</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Orang-orang kemudian berlomba membangun masjid baru, atau memperbaiki surau lama yang dulu ditinggalkan. Mungkin tak ada lagi rumah ibadah yang akan roboh. Tak ada perempuan-perempuan dan anak-anak yang mengambil satu-satu papan surau untuk kayu api atau untuk medan bermain. Mungkin yang terus roboh adalah prilaku beragama, tidak ‘tempat' secara harfiah. Tetapi Navis menulis cerpen ini jauh sebelumnya, ketika kegamangan beragama menanjak naik dalam batin manusia, paham dan aliran berkelebat masuk, maka atheisme acap memproklamirkan diri, dan surau menjadi lapuk karena ditinggalkan.</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Ini cukup tentang Ajo Sidi, si pembual itu. Atau Kakek Garin yang menggorok leher sendiri dengan pisau cukur yang diasahnya sendiri. Salahkah Ajo Sidi karena bercerita (membual) tentang seorang haji (Haji Shaleh)-dan beberapa orang <i>siak</i> lainnya-yang mendemo Tuhan di akhirat karena tak dimasukkan ke surga padahal rajin beribadah, bahkan ada yang berkali-kali naik haji dan bergelar syekh? Dan cerita itu terdengar pula oleh Kakek Garin yang memang seorang yang taat?</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Kakek Garin telah mengabdikan diri di surau itu sejak masih muda. Ia tak ingat punya istri, punya anak, punya keluarga seperti orang-orang lain. Tak dipikirkannya hidupnya sendiri. Segala kehidupannya lahir dan batin diserahkannya pada Allah. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat, dari seperempat hasil pemungguhan ikan mas dari kolam di depan surau, dari zakat fitrah orang-orang setahun sekali... dan dari hasil ucapan terimakasih orang yang meminta tolong diasahkan pisau cukur kepadanya. Tetapi Ajo Sidi mengatainya manusia terkutuk, umpan neraka! Memang tidak secara langsung dikatakan Ajo Sidi demikian, tapi bualannya tentang haji-haji yang mendemo Tuhan, mengisyaratkannya.&#160;</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Seorang yang terkenal pembual, seorang Ajo Sidi, membuat Kakek Garin tersinggung, sekaligus terguncang. Yang disampaikan Ajo Sidi tak sepenuhnya serius. Apa yang disampaikannya hanya anekdot biasa, ringan, layaknya cerita yang umum disuguhkan dan berkembang di kedai-kedai kopi, yang kadang membuat orang terjungkal karena geli. Pun tak tergolong ‘haram' untuk disampaikan di sembarang keadaan karena tidak seberat kajian al-Hallaj yang memproklamirkan Aku adalah Tuhan, Tuhan adalah Aku.</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Navis, lewat Ajo Sidi, barangkali ingin mengkritisi prilaku beragama umat di zamannya ketika cerpen ini dibuat. Ketika itu Tuhan acap dilupakan, dan di pihak lain ‘dirangkul' tapi dengan melupakan tempat berpijak. Tetapi ‘Navis' kemudian menjadi tak terbatas ruang dan waktu. Kini, di sesudut lain, demi ketaatan pribadi, demi kesiakan sendiri-sendiri... ada juga karena bertengkar dengan suami, dan lain sebagainya, banyak yang melakukan wisata religius dengan ber-umrah, menghabiskan banyak uang ke tanah suci. Beberapa orang artis di tayangan televisi bahkan pergi haji berkali-kali, diumbar media demikian luas. Tak hanya artis, orang-orang kaya kebanyakan pun demikian, demi mencari ketaatan dan kedamaian diri, ketentraman jiwa, atau mencari jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi-konon tanah suci menjanjikan itu.</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Di satu sisi mungkin baik-seorang teman menimbang-nimbang-daripada menghabiskan uang ke tempat-tempat wisata ‘lain' tentu lebih baik berwisata religius ke tanah suci. Namun di sisi lain menjadi paradoks. Ketika Haji Shaleh dan para orang <i>siak</i> lainnya dalam <i>Robohnya Surau Kami</i> mendemo Tuhan karena berpikir mungkin Tuhan silap-mereka begitu yakin akan masuk surga tapi malah dicemplungkan ke neraka-dan atas pertanyaan Haji Shaleh kepada malaikat-Nya-karena Haji Shaleh tidak berani bertanya langsung kepada Tuhan-yang mengatakan bahwa "Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami menyembah Tuhan di dunia?" Maka malaikat memberi jawab: "Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan diri sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat sembayang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri...."</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Ketika banyak pintu dan dinding rumah distempeli, dipasangi stiker bertuliskan RUMAH TANGGA MISKIN, maka keinginan berhaji lebih dari satu kali, atau pergi berwisata religius demi ketaatan pribadi dan ketenangan sendiri patut diberi tanda tanya besar. Apalagi mereka yang rela mengeluarkan uang jutaan utuk membangkitkan motivasi spiritual yang menurun dengan mengikuti training-training. Bukankah dalam suatu riwayat pernah disebutkan, bahwa seorang tak jadi pergi haji, tapi ia dinilai mabrur karena memberikan uang perjalanan hajinya itu untuk membantu tetangganya yang sedang kesusahan?&#160;&#160;&#160;&#160; &#160;&#160;&#160;&#160;</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Navis, lewat Robohnya Surau Kami, barangkali juga ingin mengatakan sesuatu. Bahwa ternyata keshalehan semacam keshalehannya Kakek Garin tak tahan uji, ia terlalu mudah terguncang, terlalu mudah dibuat berantakan: Kakek Garin yang terkenal shaleh dan taat menggorok lehernya sendiri dengan pisau cukur yang juga diasahnya sendiri.</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Dan Ajo Sidi?</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Padang, 2007</font></p>

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>&#160;</p>
<p><font size="5"><b><font face="times new roman,times">Ajo Sidi</font></b></font></p>
<p><font size="5"><b><font face="times new roman,times"><br /></font></b></font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Ini tentang Ajo Sidi. Ini tentang si Pembual. Juga tentang Kakek Garin yang menggorok lehernya sendiri dengan pisau cukur yang diasahnya sendiri. Entah pisau cukur siapa, mungkin pisau cukur Ajo Sidi, mungkin pisau cukur seorang lain yang minta tolong diasahkan pada Kakek Garin. Karena memang demikianlah keseharian Kakek Garin yang terkenal sebagai pengasah pisau di samping melaksanakan tugasnya sebagai garin pada sebuah surau. Surau yang sepeninggal Kakek Garin papan-papannya hilang satu-satu diambil perempuan untuk kayu api, dan digunakan anak-anak sebagai tempat bermain. Memainkan segala apa yang disukai mereka.</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Saya membayangkan Navis. Saya membayangkan senyum penuh satir. Begitu juga cerpen ini kiranya, <i>Robohnya Surau Kami</i> yang di tahun 1955 mendapatkan Hadiah Kedua majalah <i>Kisah</i>. Cerpen yang lahir ketika umur kemerdekaan republik ini masih dapat dihitung dengan jari. Di saat penuh getir, di waktu persaingan politik mulai terdengar bagai tambur di malam buta, semarak partai, kejatuhan kabinet, daerah-daerah dengan ancang-ancang pemberontakan, dan pidato-pidato Soekarno yang mencoba menawar perut lapar di lapangan-lapangan terbuka. Beberapa waktu menjelang Hatta mengundurkan dari dari kursi wakil presiden (dan dengan sendirinya, berakhir pulalah dwitunggal yang terkenal itu). Tahun-tahun ketika Soekarno mulai mengambil kuda-kuda ke arah Demokrasi Terpimpin yang menyatukan tiga aliran sekaligus dalam satu konsep yang kemudian dikenal sebagai NASAKOM.</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Ketika gairah politik ‘gembira&#8217; di satu sisi, maka keputus-asaan muncul di lain pihak. Mungkin karena harga beras yang tinggi menanjak, kelaparan di mana-mana, antrian panjang ibu-ibu membeli minyak tanah, aksi-aksi sepihak yang sewenang-wenang&#8230;. Sehingganya, banyak orang kemudian melarikan diri dari keadaan macam itu, melupakan dunia, dan tak lagi peduli pada kehidupan sosial yang bermasalah. Bukankah beberapa aliran tasawuf pada mulanya juga berawal dari keadaan-keadaan rupa ini? &#160;&#160;</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Dalam beberapa hitungan tahun setelahnya, tujuh jenderal dibenam di Lubang Buaya. Orang-orang PKI kemudian dikejar di mana-mana. Pembantaian, penghilangan nyawa besar-besaran, dan penghukuman tanpa dalil yang jelas menjadi semarak. Tak terkecuali di sini. Saya membayangkan begitu banyak orang bersorak. Tapi ada mungkin yang murung. Sebuah anekdot hadir saat itu, ketika kata ‘ganyang&#8217; acap disorakkan, ‘bapakmu PKI, ya?&#8217;, atau ‘jangan gambar palu-arit lagi, nanti kau dituduh anak PKI!&#8217; (dua yang terakhir meminjam dialog Seno Gumira Ajidarma dalam novel terbarunya bertajuk <i>Kalatidha</i>).</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Anekdot yang tak sepenuhnya membuat kita terpingkal:</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Masjid-masjid diserbu jemaah. Pengajian dan wirid dilangsungkan tiap malam. Bahkan surau-surau tua yang dulu ditingggalkan pun kini sampai tak mampu menampung. Sebab kalau tak datang ke masjid jangan-jangan nanti dicap komunis. Maka seorang lelaki tua-yang sebelumnya diketahui jarang ke masjid dan terkenal tak <i>siak</i>-menangis tersedu-sedu di suatu sudut surau tua, ketika mendengar pengajian pada suatu wirid, oleh seorang dai yang tak kondang-kondang amat. Para jemaah lainnya saling bergumam menyaksikannya: Mungkin lelaki tua itu &#8220;termakan kaji&#8221;, insaf, dan sadar diri.</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Orang-orang itu mencoba menenangkan Pak Tua. Jangan terlalu memikirkan yang sudah-sudah, yang lalu biarlah berlalu, dan sebagai-bagainya. Tapi ternyata, semakin ramai jemaah mendekatinya, maka semakin kencanglah tangis si tua itu.</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Yang benarnya, &#8220;anu&#8221; lelaki tua itu terjepit papan surau yang sudah bolong-bolong, yang pakunya banyak tanggal, yang memang sudah tak layak pakai dan menunggu roboh.&#160;</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Orang-orang kemudian berlomba membangun masjid baru, atau memperbaiki surau lama yang dulu ditinggalkan. Mungkin tak ada lagi rumah ibadah yang akan roboh. Tak ada perempuan-perempuan dan anak-anak yang mengambil satu-satu papan surau untuk kayu api atau untuk medan bermain. Mungkin yang terus roboh adalah prilaku beragama, tidak ‘tempat&#8217; secara harfiah. Tetapi Navis menulis cerpen ini jauh sebelumnya, ketika kegamangan beragama menanjak naik dalam batin manusia, paham dan aliran berkelebat masuk, maka atheisme acap memproklamirkan diri, dan surau menjadi lapuk karena ditinggalkan.</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Ini cukup tentang Ajo Sidi, si pembual itu. Atau Kakek Garin yang menggorok leher sendiri dengan pisau cukur yang diasahnya sendiri. Salahkah Ajo Sidi karena bercerita (membual) tentang seorang haji (Haji Shaleh)-dan beberapa orang <i>siak</i> lainnya-yang mendemo Tuhan di akhirat karena tak dimasukkan ke surga padahal rajin beribadah, bahkan ada yang berkali-kali naik haji dan bergelar syekh? Dan cerita itu terdengar pula oleh Kakek Garin yang memang seorang yang taat?</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Kakek Garin telah mengabdikan diri di surau itu sejak masih muda. Ia tak ingat punya istri, punya anak, punya keluarga seperti orang-orang lain. Tak dipikirkannya hidupnya sendiri. Segala kehidupannya lahir dan batin diserahkannya pada Allah. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat, dari seperempat hasil pemungguhan ikan mas dari kolam di depan surau, dari zakat fitrah orang-orang setahun sekali&#8230; dan dari hasil ucapan terimakasih orang yang meminta tolong diasahkan pisau cukur kepadanya. Tetapi Ajo Sidi mengatainya manusia terkutuk, umpan neraka! Memang tidak secara langsung dikatakan Ajo Sidi demikian, tapi bualannya tentang haji-haji yang mendemo Tuhan, mengisyaratkannya.&#160;</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Seorang yang terkenal pembual, seorang Ajo Sidi, membuat Kakek Garin tersinggung, sekaligus terguncang. Yang disampaikan Ajo Sidi tak sepenuhnya serius. Apa yang disampaikannya hanya anekdot biasa, ringan, layaknya cerita yang umum disuguhkan dan berkembang di kedai-kedai kopi, yang kadang membuat orang terjungkal karena geli. Pun tak tergolong ‘haram&#8217; untuk disampaikan di sembarang keadaan karena tidak seberat kajian al-Hallaj yang memproklamirkan Aku adalah Tuhan, Tuhan adalah Aku.</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Navis, lewat Ajo Sidi, barangkali ingin mengkritisi prilaku beragama umat di zamannya ketika cerpen ini dibuat. Ketika itu Tuhan acap dilupakan, dan di pihak lain ‘dirangkul&#8217; tapi dengan melupakan tempat berpijak. Tetapi ‘Navis&#8217; kemudian menjadi tak terbatas ruang dan waktu. Kini, di sesudut lain, demi ketaatan pribadi, demi kesiakan sendiri-sendiri&#8230; ada juga karena bertengkar dengan suami, dan lain sebagainya, banyak yang melakukan wisata religius dengan ber-umrah, menghabiskan banyak uang ke tanah suci. Beberapa orang artis di tayangan televisi bahkan pergi haji berkali-kali, diumbar media demikian luas. Tak hanya artis, orang-orang kaya kebanyakan pun demikian, demi mencari ketaatan dan kedamaian diri, ketentraman jiwa, atau mencari jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi-konon tanah suci menjanjikan itu.</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Di satu sisi mungkin baik-seorang teman menimbang-nimbang-daripada menghabiskan uang ke tempat-tempat wisata ‘lain&#8217; tentu lebih baik berwisata religius ke tanah suci. Namun di sisi lain menjadi paradoks. Ketika Haji Shaleh dan para orang <i>siak</i> lainnya dalam <i>Robohnya Surau Kami</i> mendemo Tuhan karena berpikir mungkin Tuhan silap-mereka begitu yakin akan masuk surga tapi malah dicemplungkan ke neraka-dan atas pertanyaan Haji Shaleh kepada malaikat-Nya-karena Haji Shaleh tidak berani bertanya langsung kepada Tuhan-yang mengatakan bahwa &#8220;Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami menyembah Tuhan di dunia?&#8221; Maka malaikat memberi jawab: &#8220;Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan diri sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat sembayang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri&#8230;.&#8221;</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Ketika banyak pintu dan dinding rumah distempeli, dipasangi stiker bertuliskan RUMAH TANGGA MISKIN, maka keinginan berhaji lebih dari satu kali, atau pergi berwisata religius demi ketaatan pribadi dan ketenangan sendiri patut diberi tanda tanya besar. Apalagi mereka yang rela mengeluarkan uang jutaan utuk membangkitkan motivasi spiritual yang menurun dengan mengikuti training-training. Bukankah dalam suatu riwayat pernah disebutkan, bahwa seorang tak jadi pergi haji, tapi ia dinilai mabrur karena memberikan uang perjalanan hajinya itu untuk membantu tetangganya yang sedang kesusahan?&#160;&#160;&#160;&#160; &#160;&#160;&#160;&#160;</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Navis, lewat Robohnya Surau Kami, barangkali juga ingin mengatakan sesuatu. Bahwa ternyata keshalehan semacam keshalehannya Kakek Garin tak tahan uji, ia terlalu mudah terguncang, terlalu mudah dibuat berantakan: Kakek Garin yang terkenal shaleh dan taat menggorok lehernya sendiri dengan pisau cukur yang juga diasahnya sendiri.</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Dan Ajo Sidi?</font></p>
<p><font face="times new roman,times" size="3">Padang, 2007</font></p>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urangmudiak.blog.com/2008/03/13/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Artikel</title>
		<link>http://urangmudiak.blog.com/2008/03/11/artikel/</link>
		<comments>http://urangmudiak.blog.com/2008/03/11/artikel/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Mar 2008 19:51:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tam</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<font size="3"><br /></font>
<h1><font size="3">Al-Quran merupakan sumber ajaran Islam yang paling utama. Al-Quran menjadi tinjauan paling pertama ketika umat dihadapkan pada berbagai persoalan yang minta untuk diselesaikan. Namun, dewasa ini, ketika komunitas muslim tertentu atau individu-individu yang dengan mengatas-namakan Agama, dengan berhujjaah pada ayat-ayat tertentu dalam al-Qur'an, melalukan tindakan-tindakan yang kemudian diketahui tidak sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri. Tindakan ini berakibat dengan adanya pen-cap-an Islam sebagai agama penyebar teror dan kekerasan. Maka, dengan demikian, metode penafsiran mereka terhadap ayat-ayat Al-Qur'an dipertanyakan kembali. Penafsiran ayat-ayat al-Quran secara sepenggal-sepenggal, tanpa menelaah asbab al-nuzul terlebih dahulu, dan berbagai kaidah-kadidah penafsiran yang tidak dijalankan, disebut-sebut menjadi sebab.</font></h1>
<font size="3"><br />
Ulumul Qur'an mengambil posisi yang tak terbantahkan dalam persoalan ini, yaitu sebagai tinjauan terhadap ilmu Qur'an yang secara lansung mempengaruhi ketetapan penafsiran. &#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;<br /></font> <font size="3"><br /></font>
<h1><font size="3">A. Pengertian Ulumul Qur'an</font></h1>
<font size="3">Perkataan "ulumul qur'an" berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata yaitu "ulum" dan "al-Qur'an". Kata "ulum" adalah bentuk jamak dari kata "ilm" yang berarti ilmu-ilmu. "al-Qur'an adalah kitab suci umat Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammd SAW untuk menjadi pedoman hidup bagi manusia. Ungkapan Ulumul Qur'an telah menjadi nama bagi suatu disipiln ilmu dalam kajian Islam. Secara bahasa, ungkapan ini berarti ilmu-ilmu al-Qur'an.<a title="_ftnref1" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a><br />
<br />
Kata ulum disandarkan kepada kata al-quran telah memberikan pengertian bahwa ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah ilmu yang berhubungan dengan al-Qur'an, baik dari segi keberadaanya sebagai al-Qur'an maupun dari segi sebagai pemahaman terhadap pertunjuk yang terkandung di dalalmnya. Dengan demikian, ilmu tafsir, ilmu <i>qira'at</i>, ilmu <i>rasmil</i> Qur'an, ilmu <i>I'jazil</i> Qur'an, ilmu <i>asbabin nuzul</i>, dan ilmu-ilmu yang ada kaitannya dengan al-Qur'an menjadi bagian dari Ulumul Qur'an.<a title="_ftnref2" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a><br />
<br />
Secara istilah, beberapa ulama telah merumuskan berbagai definisi Ulumul Qur'an. Al-Zarqani mengemukakan dalam bukunya, <i>"Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulumul al-Quran Jilid I"</i> (1988:27), seperti yang dialih bahasakan Ramli Abdul Wahid, yaitu:<br />
<br />
"Beberapa pembahasan yang berhubungan dengan al-Qur'an al-Karim, dari segi turunnya, urut-urutannya, pengumpulannya, penulisannya, bacaannya, tasfsirannya, kemukjizatannya, <i>nasikh</i> dan <i>mansukhnya</i>, penolakannya terhadap hal-hal yang bisa menimbulkan keraguan terhadapnya, dan sebagainya".<a title="_ftnref3" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a>&#160;&#160;&#160;&#160; Manna' al-Qaththan memberikan definisi:<br />
<br />
"Ilmu yang mencakup pembahasan-pembahasan yang berhubungan dengan al-Qur'an, dari segi pengetahuan tentang sebab-sebab turunnya, pengumpulan al-Qur'an dan urutan-urutannya, pengetahuan tentang ayat-ayat Makkiah dan Madaniah, dan hal-hal lain yang ada hubungannya dengan al-Qur'an." <a title="_ftnref4" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a><br />
<br />
Kedua definisi di atas pada dasarnya sama. Keduanya menunjukkan bahwa Ulumul Qur'an adalah kumpulan sejumlah pembahasan yang pada mulanya merupakan ilmu-ilmu yang berdiri sendiri. Ilmu-ilmu ini tidak keluar dari ilmu agama dan bahasa. Masing-masing menampilkan sejumlah aspek pembahasan yang dianggapnya penting. Objek pembahasanya adalah al-Qur'an.<br />
<br />
Ada pun perbedaannya terletak pada aspek pembahasannya. Definisi pertama menampilkan sembilan aspek pembahasan, dan yang kedua menampilkan hanya lima daripadanya. Dengan demikian, definisi pertama lebih luas cakupannya dari yang kedua.<br />
<br />
Dari kedua pengertian di atas, dapat disimpulkan, adanya dua unsur penting dalam definisi Ulumul Quran, yaitu:<br />
<br />
1. Ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah pembahasan.<br />
<br />
2. Kedua, pembahasan-pembahasan ini mempunyai hubungan dengan al-Qur'an, baik dari segi aspek keberadaannya sebagai al-Qur'an maupun aspek pemahaman kandungannya sebagai pedoman dan petunjuk bagi manusia.<br />
<br /></font>
<h1><font size="3">B. Ruang Lingkup Pembahasan Ulumul Qur'an</font></h1>
<font size="3">Dari definisi-definisi tersebut di atas, dapat dipahami bahwa Ulumul Qur'an adalah suatu ilmu yang mempunyai ruang lingkup pembahasan yang luas. Ulumul Qur'an meliputi semua ilmu yang ada kaitannya dengan al-Qur'an, baik berupa ilmu-ilmu agama, seperti ilmu tafsir maupun ilmu-ilmu bahasa Arab, seperti ilmu <i>balaghah</i> dan ilmu <i>I'rab al-Qur'an</i>. Ilmu-ilmu yang tersebut dalam definisi ini berupa ilmu-ilmu tentang sebab-sebab turunnya ayat al-Qur'an, urutan-utrutannya, pengumpulannya, penulisannya, <i>qira'atnya</i>, tafsirnya, kemukijizatannya, <i>nasikh</i> dan <i>mansukhnya</i> , ayat-ayat Makkiah dan Madaniah, ayat-ayat <i>muhkamah</i> dan <i>mutasyabihatnya</i>, hanyalah sebagian dari pembahasan pokok ilmu Qur'an. Di samping itu masih banyak lagi ilmu-ilmu yang tercakup di dalamnya seperti ilmu <i>Gharib</i> al-Qur'an, ilmu <i>badai' al-Qur'an</i>, ilmu <i>tanasub</i> ayat al-Qur'an, ilmu <i>Aqsam</i> al-Qur'an, ilmu <i>Amtsal</i><i>jidal</i> al-Qur'an, ilmu <i>adab tilawah</i> al-Qur'an, dan sebagainya.<a title="_ftnref5" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</a> Bahkan sebagian ilmu ini masih dapat dipecah kepada beberapa cabang dan macam ilmu yang masing-masing mempunyai objek kajian tersendiri.<br />
<br />
Demikian luasnya ruang lingkup kajian <u>U</u>lumul Quran sehingga sebagian ulama menjadikannya luas yang tak terbatas. Al-Suyuthi memperluasnya sehingga memasukkan astronomi, ilmu ukur, kedokteran, dan sebagainya. Hal ini mungkin berkenaan, karena ada beberapa ayat al-Quran yang berbicara mengenai kajian-kajian ilmu tersebut di atas. Al-Suyuthi mengutip Abu Bakar ibn al-Arabi yang mengatakan bahwa Ulumul Qur'an terdiri dari 775 ilmu. Hal ini didasarkan kepada jumlah kata yang terdapat dalam al-Qur'an mengandung makna zahir, batin, terbatas dan tak terbatas. Perhitungan ini masih dilihat dari sudut <i>mufratnya</i> kata-katanya. Adapun jika dilihat dari sudut hubungan kalimat-kalimatnya, maka jumlahnya menjadi tidak terhitung.<br />
<br />
<a title="_ftnref6" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn6" name="_ftnref6">[6]</a>Ash-Shiddieqy<a title="_ftnref7" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn7" name="_ftnref7">[7]</a> memandang segala macam pembahsan Ulumul Quran itu kembali kepada beberapa pokok persoalan saja, yaitu:<br />
<br />
1. Persoalan Nuzul. Persoalan ini menyangkut dengan ayat-ayat yang diturunkan di Makkah yang disebut Makkiah, ayat-ayat yang diturunkan di Madinah yang disebut Madaniah, ayat-ayat yang diturunkan ketika Nabi berada di kampung yang disebut <i>Hadhariah</i>. Ayat-ayat yang diturunkan ketika Nabi dalam perjalanan disebut <i>Safariah</i>, ayat-ayat yang diturunkan pada malam hari disebut <i>Lailiah</i>, yang diturunkan di musim dingin disebut <i>Syitaiah</i>, yang diturunkan di musim panas disebut <i>Shaifiah</i>, dan yang diturunkan ketika Nabi di tempat tidur disebut <i>Fisasyiah</i>. Persoalan ini juga meliputi hal yang menyangkut sebab-sebab turunnya ayat, yang mula-mula turun, yang terakhir turun, yang berulang-ulang turun, yang turun terpisah-pisah, yang turun sekaligus, yang pernah diturunkan kepada seorang Nabi, dan yang belum pernah sama sekali.<br />
<br />
2. Persoalan <i>Sanad</i><a title="_ftnref8" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn8" name="_ftnref8">[8]</a>. Persoalan ini meliputi hal-hal yang menyangkut sanad yang <i>Mutawatir</i>,<a title="_ftnref9" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn9" name="_ftnref9">[9]</a> yang <i>Ahad</i>,<a title="_ftnref10" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn10" name="_ftnref10">[10]</a> yang <i>Syaz</i>,<a title="_ftnref11" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn11" name="_ftnref11">[11]</a> bentuk-bentuk <i>qiraat</i> Nabi, para periwayat dan para penghapal al-Qur'an, dan cara <i>tahmul</i> (penerima wahyu).<br />
<br />
3. Persoalan <i>ada' al-qiraan</i> (cara membaca al-Qur'an). Hal ini menyangkut <i>waaf</i> (cara berhenti), <i>ibtida'</i> (cara memulai), <i>imalah madd</i> (bacaan yang dipanjangkan), <i>takhtif hamzah</i> (meringankan bacaan hamzah), <i>Idgham</i> (memasukkan bunyi huruf yang <i>sakin</i> kepada bunyi huruf sesudahnya).<br />
<br />
4. Pembahasan yang menyangkut lafal al-Quran, yaitu tentang yang <i>gharib</i> (pelik), <i>mu'rab</i> (menerima perubahan akhir kata), <i>majaz</i> (metafora), <i>musytarak</i> (lafal yang mengandung lebih dari satu makna), <i>muradif</i> (sinonim), <i>isti'arah</i> (metafor), dan <i>tasybih</i><br />
<br />
5. Pesoalan makna al-Qur'an yang berhubungan dengan hukum, yaitu ayat-ayat yang bermakna <i>‘amm</i> (umum) yang dimaksudkan khusus, <i>‘amm</i> (umum) yang dimaksudkan Sunnah, yang <i>nash</i>, yang zahir, yang <i>mujmal</i> (bersifat global), yang <i>mufashshal</i> (dirinci), yang <i>manthuq</i> (makna yang berdasarkan pengutaraan), yang <i>mafhum</i> (makna yang berdasarkan pemahaman), <i>muthlaq</i> (tidak terbatas), yang <i>muqayyad</i> (terbatas), yang <i>muhkam</i> (kukuh, jelas), <i>mutasyabih</i> (samar), yang <i>musykil</i> (maknanya pelik), yang <i>nasikh</i> (menghapus) dan <i>mansukh</i> (dihapus), <i>muqaddam</i> (didahulukan), <i>muakhkhar</i> (dikemudiankan), <i>ma'mul</i> (diamalkan) pada waktu tertentu, dan yang hanya <i>ma'mul</i> (diamalkan) oleh seorang saja.<br />
<br />
6. Persoalan makna al-Qur'an yang berhubungan dengan lafal, yaitu <i>fashl</i> (pisah), <i>washl</i> (berhubung), <i>ijaz</i> (singkat), <i>ithnab</i><i>musawah</i> (sama), <i>qashr</i> (pendek).<br />
<br />
Demikianlah Ash-Shiddieqy memberi ruang lingkup Ulumul Qur'an. Namun, persoalan-persoalan yang dikemukakannya juga tidak keluar dari ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab. Pandangan ini tampaknya sejalan dengan pendapat al-Zarqani yang tidak setuju memasukkan ilmu-ilmu astronomi, kosmologi, ekonomi, kedokteran ke dalam pembahasan Ulumul Qur'an. Al-Zarqani menolak pandangan al-Suyuthi yang memandang ilmu-ilmu tersebut terakhir ini sebagai pembahasan Ulumul Quran. Al-Zarqani mengakui bahwa al-Qur'an menganjurkan agar kaum muslimin mempelajarinya dan mendalami ilmu-ilmu tersebut, terutama ketika diperlukan. Akan tetapi ilmu yang dianjurkan al-Quran untuk mempelajarinya berbeda dengan ilmu yang masalahnya atau hukumnya ditunjukkan oleh al-Qur'an dan ilmu yang mengabdi kepada al-Qur'an. Menurut dia, ilmu yang pertama tidak termasuk dalam kategori Ulumul Qur'an. Sedangkan dua terakhir jelas mempunyai hubungan dengan al-Qur'an.<a title="_ftnref12" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn12" name="_ftnref12">[12]</a> &#160;&#160;&#160;&#160;<br />
<br />
Dari keterangan di atas dapat dipahami bahwa pada dasarnya, dan yang menjadi pokok pembahasan Ulumul Quran itu adalah ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab. Namun, melihat kenyataan adanya ayat-ayat yang menyangkut berbagai aspek kehidupan dan tuntutan yang semakin besar kepada petunjuk al-Qur'an, maka untuk menafsirkan ayat-ayat menyangkut disiplin ilmu tertentu memerlukan pengetahuan tetnang ilmu tersebut. Penafsiran ayat-ayat <i>kauniah<a title="_ftnref13" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn13" name="_ftnref13">[13]</a></i> memerlukan pengetahuan astronomi, ayat-ayat ekonomi memerlukan ilmu ekonomi, dan ayat-ayat politik memerlukan ilmu politik, dan seterusnya.&#160;<br />
<br />
&#160;<br /></font>
<h1><font size="3">C. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Ulumul Qur'an</font></h1>
<font size="3">Di masa Rasulullah SAW dan para sahabat, Ulumul Qur'an belum dikenal sebagai suatu ilmu yang berdiri sendiri dan tertulis. Para sahabat adalah orang-orang Arab asli yang dapat merasakan struktur bahasa Arab yang tinggi dan memahami apa yang diturunkan kepada Rasul SAW. Bila mereka menemukan kesulitan dalam memahami ayat-ayat tertentu, mereka dapat menanyakan langsung kepada Rasul SAW.<br />
<br />
Adapun mengenai kemampuan Rasul memahami al-Qur'an tentunya tidak diragukan lagi karena Dialah yang menerimanya dari Allah SWT, dan Allah mengajarinya segala sesuatu.<br />
<br />
Ada tiga faktor yang menyebabkan Ulumul Qur'an tidak dibukukan pada masa Rasul dan sahabat, yaitu:<br />
<br />
1. Kondisinya tidak mermbutuhkan karena kemampuan mereka yang besar dan untuk memahami al-Qur'an dan Rasul dapat menjelaskan maksudnya.<br />
<br />
2. Para sahabat sedikit sekali yang pandai menulis.<br />
<br />
3. Adanya larangan Rasul untuk menuliskan selain al-Qur'an.<br />
<br />
Semuanya ini merupakan faktor yang menyebabkan tidak tertulisnya ilmu ini baik di masa Nabi maupun di zaman sahabat.<a title="_ftnref14" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn14" name="_ftnref14">[14]</a><br />
<br />
Di zaman Kahlifah Ustman, wilayah Islam bertambah luas sehingga terjadi pembauran antara penakluk Arab dan bangsa-bangsa yang tidak mengetahui bahasa Arab. Keadaan demikian menimbulkan kekhawatiran sahabat akan tercemarnya keistimewaan bahasa Arab dari bangsa Arab. Bahkan kekhawatiran akan terjadinya perpecahan di kalangan kamu Muslimin tentang bacaan al-Qur'an selama mereka tidak memiliki sebuah al-Qur'an yang menjadi standar bagi bacan mereka. Untuk menjaga agar tidak terjadinya kekhawatiran itu, disalinlah dari tulisan-tulisan aslinya sebuah al-Qur'an yang disebut <i>Mushhaf Imam.</i> Dengan terlaksananya penyalinan ini maka berarti Ustman telah meletakkan dasar Ulumul Qur'an yang disebut <i>Rasm al-Qur'an</i> atau <i>‘Ilm al-Rasm al-Ustmani.</i><a title="_ftnref15" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn15" name="_ftnref15">[15]</a><br />
<br />
Di masa Ali terjadi perkembangan baru dalam ilmu al-Qur'an. Karena melihat banyaknya umat Islam yang berasal dari bangsa non-Arab, kemerosotan dalam bahasa Arab, dan kesalahan pembacaan al-Qur'an, Ali menyuruh Abu al-Aswad al-Duali (w. 69 H.) untuk menyusun kaidah-kaidah bahasa Arab. Hal ini dilakukan untuk memelihara bahasa Arab dari pencemaran dan menjaga al-Qur'an dari keteledoran pembacanya. Tindakan Khalifah Ali ini dianggap perintis bagi lahirnya <i>ilmu nahwu</i> dan <i>I'rab al-Qur'an.</i><a title="_ftnref16" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn16" name="_ftnref16">[16]</a><br />
<br />
Setelah berakhirnya zaman Khalifah yang Empat, timbul zaman Bani Umayyah. Kegiatan para sahabat dan tabi'in terkenal dengan usaha-usaha mereka yang tertumpu pada penyebaran ilmu-ilmu al-Qur'an melalui jalan periwayatan dan pengajaran secara lisan, bukan melalui tulisan dan catatan. Kegiatan-kegiatan ini dipandang sebagai persiapan bagi masa pembukuannya.<br />
<br />
Pada masa ini dianggap sebagai peletak batu pertama bagi apa yang disebut ilmu tafsir, <i>asbab al-nuzul,</i> ilmu <i>nasikh</i> dan <i>mansukh,</i> ilmu <i>gharib al</i>-<i>Qur'an</i> dan lainnya.<a title="_ftnref17" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn17" name="_ftnref17">[17]</a><br />
<br />
Ulumul Qur'an memasuki masa pembukuannya pada abad ke-2 H. Para ulama memberikan prioritas perhatian mereka kepada ilmu tafsir karena fungsinya sebagai <i>Umm al-‘Ulum</i> (induk ilmu-ilmu al-Qur'an). Para penulis pertama dalam tafsir adalah Syu'bah Ibn al-Hajjaj (w. 160 H.), Sufyan ibn ‘Uyaynah dan Wali' Ibn al-Jarrah.<br />
<br />
Pada abad ke-3 lahir ilmu <i>asbab al-nuzul</i>, ilmu <i>nasikh</i> dan <i>mansukh</i>, ilmu tentang ayat Makkiah dan Madaniah, <i>qiraat</i>, <i>I'rab</i> dan <i>istinbath</i><br />
<br />
Abad ke-4 lahir ilmu <i>gharib al-Qur'an</i>. Abad ke-5 lahir ilmu <i>amtsal al-Qur'an</i>. Abad ke-6 di samping banyak ulama yang melnajutkan pengembangan ilmu-ilmu al-Qur'an yang telah ada, lahir pula ilmu <i>mabhat al-Qur'an</i>. Ilmu ini menerangkan lafal-lafal ql-Qur'an yang masksudnya apa dan siapa tidak jelas.&#160;&#160;&#160;<br />
<br />
Pada Abad ke-8 muncul beberapa ulama yang menyusun ilmu-ilmu tentang al-Qur'an. Ibn Abi al-Ishba' menulis tentang <i>badai' al-Qur'an,</i> yang membahas macam-macam keindahan bahasa dalam al-Qur'an. Ibn Qayyim menulis tentang <i>aqsam al-Qur'an</i>, yang membahas tentang sumpah-sumpah al-Quran.<br />
<br />
Pada Abab ke-9, Jalaluddin al-Suyithi menyusun dua kitab, <i>al-Tahbir fi ‘Ulum al-Tafsir</i> dan <i>al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur'an</i>. Kedua kitab ini dianggap puncak karang-mengarang dalam Ulumul Qur'an. Setelah abad ini hampir tidak ada lagi yang mampu melampaui karyanya. Ini terjadi sebagai akibat meluasnya sifat taklid.<br />
<br />
Sejak penghujung abab ke-13 H. sampai saat ini perhatian para ulama terhadap penyusunan kitab-kitab Ulumul Qur'an bangkit kembali. Kebangkitan ini bersamaan dengan masa kebangkitan modern dalam perkembangan ilmu-ilmu agama lainnya.<br />
<br />
Dalam bahasa Indonesia, ada beberapa buku Ulumul qur'an yang dikarang oleh ulama Indonesia sendiri, di antaranya kitab <i>Ilmu-ilmu al-Qur'an</i> karya T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, <i>Pengantar Ilmu Tafsir</i> karya Rifa'at Syauki Nawawi dan Ali Hasan, dan yang terbaru berjudul <i>Membumikan Al-Qur'an</i> karya ahli tafsir Indonesia M. Quraish Shihab.&#160;<br />
<br /></font> (penggalian hukum dari al-Qur'an).
<h1><font size="3">D.&#160;&#160;&#160; Pembagian dan Cabang-cabang Ulumul Qur'an</font></h1>
<font size="3">Ilmu-ilmu Qur'an pada dasarnya terbagi ke dalam dua kategori,<a title="_ftnref18" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn18" name="_ftnref18">[18]</a> yaitu:<br />
<br />
1. Ilmu <i>Riwayah</i>, yaitu ilmu-ilmu yang hanya dapat diketahui melalui jalan riwayat, seperti bentuk-bentuk <i>qiraat</i>, tempat-tempat turunnya al-Qur'an, waktu-waktu turunnya, dan sebab-sebab turunnya.<br />
<br />
2. Ilmu <i>Dirayah</i>, yaitu ilmu-ilmu yang diketahui melalui perenungan, berpikir, dan penyelidikan, seperti mengetahui pengertian lafal yang gharib, makna-makna yang menyangkut hukum, penafsiran ayat-ayat yang perlu ditafsirkan.<br />
<br />
Menurut T.M Hasbi Ash-Shiddieqy, ada tujuh belas ilmu-ilmu al-Qur'an yang terpokok.<a title="_ftnref19" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn19" name="_ftnref19">[19]</a><br />
<br />
1. Ilmu Mawathin al-Nuzul<br />
<br />
Ilmu ini menerangkan tempat-tempat turun ayat, masanya, awalnya, dan akhirnya.<br />
<br />
2. Ilmu tawarikh al-Nuzul<br />
<br />
Ilmu ini menjelaskan masa turun ayat dan urutan turunnya satu persatu, dari permulaan sampai akhirnya serta urutan turun surah dengan sempurna.&#160;<br />
<br />
3. Ilmu Asbab al-Nuzul<br />
<br />
Ilmu ini menjelaskan sebab-sebab turunnya ayat.<br />
<br />
4. Ilmu Qiraat<br />
<br />
Ilmu ini menerangkan bentuk-bentuk bacaan al-Qur'an yang telah diterima dari Rasul SAW. Ada sepuluh Qiraat yang sah dan beberapa macam pula yang tidak sah.<br />
<br />
5. Ilmu Tajwid<br />
<br />
Ilmu ini menerangkan cara membaca al-Qur'an dengan baik. Ilmu ini menerangkan di mana tempat memulai, berhenti, bacaan panjang dan pendek, dan sebagainya.<br />
<br />
6. Ilmu Gharib al-Qur'an<br />
<br />
Ilmu ini menerangkan makna kata-kata yang ganjil dan tidak terdapat dalam kamus-kamus bahasa Arab yang biasa atau tidak terdapat dalam percakapan sehari-hari. Ilmu ini berarti menjelskan makna kata-kata yang pelik dan tinggi.<br />
<br />
7. Ilmu I'rab al-Qur'an<br />
<br />
Ilmu ini menerangkan baris kata-kata al-Qur'an dan kedudukannya dalam susunan kalimat.<br />
<br />
8. Ilmu Wujuh wa al-Nazair<br />
<br />
Ilmu ini menerangkan kata-kata al-Qur'an yang mengandung banyak arti dan menerangkan makna yang dimaksud pada tempat tertentu.&#160;<br />
<br />
9. Ilmu Ma'rifah al-Muhkam wa al-Mutasyabih<br />
<br />
Ilmu ini menjelaskan ayat-ayat yang dipandang muhkam (jelas maknanya) dan yang mutasyabihat (samar maknanya, perlu ditakwil).<br />
<br />
10. Ilmu Nasikh wa al-Mansukh<br />
<br />
Ilmu ini menerangkan ayat-ayat yang dianggap <i>mansukh</i> (yang dihapuskan) oleh sebagian <i>mufassir<a title="_ftnref20" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn20" name="_ftnref20">[20]</a>.</i><br />
<br />
11. Ilmu Badai' al-Qur'an<br />
<br />
Ilmu ini bertujuan menampilkan keindahan-keindahan al-Qur'an dari sudut kesusastraan, keanehan-keanehan, dan ketinggian balaghahnya.<br />
<br />
12. Ilmu I'jaz al-Qur'an<br />
<br />
Ilmu ini menerangkan kekuatan susunan dan kandungan ayat-ayat al-Qur'an sehingga dapat membungkam para sastrawan Arab.<br />
<br />
13. Ilmu Tanasub Ayat al-Qur'an<br />
<br />
Ilmu ini menerangkan persesuaian dan keserasian antara suatu ayat dan ayat yang di depan dan yang di belakangnya.<br />
<br />
14. Ilmu Aqsam al-Qur'an<br />
<br />
Ilmu ini menerangkan arti dan maksud-maksud sumpah Tuhan yang terdapat dalam al-Qur'an.<br />
<br />
15. Ilmu Amtsal al-Qur'an<br />
<br />
Ilmu ini menerangkan maskud perumpamaan-perumpamaan yang dikemukan al-Qur'an.<br />
<br />
16. Ilmu Jidal al-Qur'an<br />
<br />
Ilmu ini membahas bentuk-bentuk dan cara-cara debat dan bantahan al-Qur'an yang dihadapkan kepada kamu Musyrik yang tidak bersedia menerima kebenaran dari Tuhan.<br />
<br />
17. Ilmu Adab Tilawah al-Qur'an&#160;&#160;<br />
<br />
Ilmu ini memaparkan tata-cara dan kesopanan yang harus diikuti ketika membaca al-Qur'an.<br />
<br />
<br />
Ramli Abdul Wahid menambahkan ilmu tafsir sebagai bagian dari Ulumul Qur'an<a title="_ftnref21" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn21" name="_ftnref21">[21]</a>. Ilmu tafsir berfungsi sebagai alat untuk mengungkap isi dan pesan yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur'an. Menurunya, Ulumul Qur'an lebih umum dari ilmu tafsir karena ulumul Qur'an ialah segala ilmu-ilmu yang mempunyai hubungan dengan al-Qur'an. Ilmu tafsir tidak kurang penting dari ilmu-ilmu tersebut di atas, terutama setelah berkembang dengan menampilkan berbagai metodologi, corak, dan alirannya.<br />
&#160;<br />
Ulumul Qur'an merupakan kumpulan berbagai ilmu yang berhubungan dengan al-Quran. Pada dasarnya, ilmu-ilmu ini adalah ilmu agama dan bahasa Arab. Namun, menyangkut ayat-ayat tertentu seperti ayat-ayat <i>kauniah</i> dan perjalanan bulan dan bintang diperlukan pengetahuan kosmologi<a title="_ftnref22" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn22" name="_ftnref22">[22]</a> dan astronomi. Karena itu, ilmu ini mempunyai ruang lingkup yang luas dan dalam sejarahnya selalu mengalami perkembangan.<br />
<br />
Pintu ilmu ini selalu terbuka kepada setiap ulama yang datang kemudian untuk memasuki persoalan-persoalan yang belum terjamah para ulama terdahulu karena faktor-faktor tertentu.&#160;<br />
<br />
Dengan ilmu ini seseorang akan dapat menunjukkan dan mempertahankan kesucian dan kebenaran al-Qur'an. Betapa pentingnya ilmu ini sehingga Al-Zarqani memberikan perumpamaan Ulumul Qur'an sebagai anak kunci bagi para mufassir.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br clear="all" /></font>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<font size="3"><a title="_ftn1" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> Ramli Abdul Wahid, <i><u>Ulumul Quran</u></i>, Grafindo, Jakarta, 1996, hal. 7.<br />
<br />
<a title="_ftn2" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> Ibid, hal. 7-8.<br />
<br />
<a title="_ftn3" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> Ibid, hal 8.<br />
<br />
<a title="_ftn4" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> Ibid, hal 9<br />
<br />
<a title="_ftn5" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</a> Ibid, hal. 10<br />
<br />
<a title="_ftn6" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref6" name="_ftn6">[6]</a> Muhammad Abd al-Azim al-Zarqani, op. cit Hal. 23<br />
<br />
<a title="_ftn7" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref7" name="_ftn7">[7]</a> Hasbi TM Ash-Ahiddieqy, <i>Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran/Tafsir,</i> Bulan Bintang, Jakarta, 197, hal 103-104.<br />
<br />
<a title="_ftn8" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref8" name="_ftn8">[8]</a> <i>Sanad</i> secara bahasa berarti sandaran. Dalam istilah ilmu hadits, sanad berarti rangkaian para periwayat hadits dari Nabi sampai kepada Penulis atau pengumpulnya.<br />
<br />
<a title="_ftn9" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref9" name="_ftn9">[9]</a> <i>Mutawatir</i> berarti berita yang diriwayatkan oleh orang-orang yang jumlah mereka membuat tidak masuk akal bila dikatakan bahwa mereka sepakat untuk mengada-adakan berita itu. Mereka ini menerima berita tersebut dari sejumlah orang yang keadaanya sama dengan mereka, dan begitulah jalan periwayatnya sampai sumber pertama, yaitu Nabi.&#160;<br />
<br />
<a title="_ftn10" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref10" name="_ftn10">[10]</a> Ahad berarti berita yang diriwayatkan oleh satu orang periwayat atau lebih tetapi jumlahnya tidak sampai mencapai jumlah periwayat yang mutawatir.<br />
<br />
<a title="_ftn11" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref11" name="_ftn11">[11]</a> Syaz secara bahasa berarti aneh atau asing. Dalam istilah ilmu hadts berarti hadits yang diriwayatkan oleh seorang yang terpercaya, tetapi riwayatnya menyalahi riwayat orang banyak yang terpercaya. Namun dalam ilmu Qiraat, syaz berarti qiraat yang sanadnya tidak sahih.<br />
<br />
<a title="_ftn12" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref12" name="_ftn12">[12]</a> Ramli Abdul Wahid, MA., op. cit,,, hal. 15<br />
<br />
<a title="_ftn13" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref13" name="_ftn13">[13]</a> <i>Kauniah</i>, ayat-ayat yang bersifat ilmu.<br />
<br />
<a title="_ftn14" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref14" name="_ftn14">[14]</a> al-Shahih, Shubhi, <i>Mabahits fi ‘Ulum al-Qur'an,</i> Dar altlm li al-Malayin<i>,</i> Beirut, 1977, hal. 120.<br />
<br />
<a title="_ftn15" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref15" name="_ftn15">[15]</a> Al-Zarqani, op. cit., hal 30.<br />
<br />
<a title="_ftn16" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref16" name="_ftn16">[16]</a> Ibid<br />
<br />
<a title="_ftn17" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref17" name="_ftn17">[17]</a> Ramli Abdul Wahid, op. cit., hal. 17.<br />
<br />
<a title="_ftn18" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref18" name="_ftn18">[18]</a> Ramli Abdul Wahid, op. cit., hal 23.<br />
<br />
<a title="_ftn19" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref19" name="_ftn19">[19]</a> T.M Hasbi Ash-Shiddieqy, <i>Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur'an/ tafsir, op. cit., hal 105-106.&#160;</i><br />
<br />
<a title="_ftn20" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref20" name="_ftn20">[20]</a> <i>Mufassir</i>, orang yang melakukan penafsiran terhadap teks al-Qur'an<br />
<br />
<a title="_ftn21" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref21" name="_ftn21">[21]</a> ramil Abdul Wahid, op. cit., hal 27.<br />
<br />
<a title="_ftn22" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref22" name="_ftn22">[22]</a> Kosmologi, Ilmu jagat raya, ilmu langit<br />
<br /></font>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><font size="3"><br /></font></p>
<h1><font size="3">Al-Quran merupakan sumber ajaran Islam yang paling utama. Al-Quran menjadi tinjauan paling pertama ketika umat dihadapkan pada berbagai persoalan yang minta untuk diselesaikan. Namun, dewasa ini, ketika komunitas muslim tertentu atau individu-individu yang dengan mengatas-namakan Agama, dengan berhujjaah pada ayat-ayat tertentu dalam al-Qur&#8217;an, melalukan tindakan-tindakan yang kemudian diketahui tidak sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri. Tindakan ini berakibat dengan adanya pen-cap-an Islam sebagai agama penyebar teror dan kekerasan. Maka, dengan demikian, metode penafsiran mereka terhadap ayat-ayat Al-Qur&#8217;an dipertanyakan kembali. Penafsiran ayat-ayat al-Quran secara sepenggal-sepenggal, tanpa menelaah asbab al-nuzul terlebih dahulu, dan berbagai kaidah-kadidah penafsiran yang tidak dijalankan, disebut-sebut menjadi sebab.</font></h1>
<p><font size="3"><br />
Ulumul Qur&#8217;an mengambil posisi yang tak terbantahkan dalam persoalan ini, yaitu sebagai tinjauan terhadap ilmu Qur&#8217;an yang secara lansung mempengaruhi ketetapan penafsiran. &#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;<br /></font> <font size="3"><br /></font></p>
<h1><font size="3">A. Pengertian Ulumul Qur&#8217;an</font></h1>
<p><font size="3">Perkataan &#8220;ulumul qur&#8217;an&#8221; berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata yaitu &#8220;ulum&#8221; dan &#8220;al-Qur&#8217;an&#8221;. Kata &#8220;ulum&#8221; adalah bentuk jamak dari kata &#8220;ilm&#8221; yang berarti ilmu-ilmu. &#8220;al-Qur&#8217;an adalah kitab suci umat Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammd SAW untuk menjadi pedoman hidup bagi manusia. Ungkapan Ulumul Qur&#8217;an telah menjadi nama bagi suatu disipiln ilmu dalam kajian Islam. Secara bahasa, ungkapan ini berarti ilmu-ilmu al-Qur&#8217;an.<a title="_ftnref1" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a></p>
<p>Kata ulum disandarkan kepada kata al-quran telah memberikan pengertian bahwa ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah ilmu yang berhubungan dengan al-Qur&#8217;an, baik dari segi keberadaanya sebagai al-Qur&#8217;an maupun dari segi sebagai pemahaman terhadap pertunjuk yang terkandung di dalalmnya. Dengan demikian, ilmu tafsir, ilmu <i>qira&#8217;at</i>, ilmu <i>rasmil</i> Qur&#8217;an, ilmu <i>I&#8217;jazil</i> Qur&#8217;an, ilmu <i>asbabin nuzul</i>, dan ilmu-ilmu yang ada kaitannya dengan al-Qur&#8217;an menjadi bagian dari Ulumul Qur&#8217;an.<a title="_ftnref2" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></p>
<p>Secara istilah, beberapa ulama telah merumuskan berbagai definisi Ulumul Qur&#8217;an. Al-Zarqani mengemukakan dalam bukunya, <i>&#8220;Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulumul al-Quran Jilid I&#8221;</i> (1988:27), seperti yang dialih bahasakan Ramli Abdul Wahid, yaitu:</p>
<p>&#8220;Beberapa pembahasan yang berhubungan dengan al-Qur&#8217;an al-Karim, dari segi turunnya, urut-urutannya, pengumpulannya, penulisannya, bacaannya, tasfsirannya, kemukjizatannya, <i>nasikh</i> dan <i>mansukhnya</i>, penolakannya terhadap hal-hal yang bisa menimbulkan keraguan terhadapnya, dan sebagainya&#8221;.<a title="_ftnref3" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a>&#160;&#160;&#160;&#160; Manna&#8217; al-Qaththan memberikan definisi:</p>
<p>&#8220;Ilmu yang mencakup pembahasan-pembahasan yang berhubungan dengan al-Qur&#8217;an, dari segi pengetahuan tentang sebab-sebab turunnya, pengumpulan al-Qur&#8217;an dan urutan-urutannya, pengetahuan tentang ayat-ayat Makkiah dan Madaniah, dan hal-hal lain yang ada hubungannya dengan al-Qur&#8217;an.&#8221; <a title="_ftnref4" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a></p>
<p>Kedua definisi di atas pada dasarnya sama. Keduanya menunjukkan bahwa Ulumul Qur&#8217;an adalah kumpulan sejumlah pembahasan yang pada mulanya merupakan ilmu-ilmu yang berdiri sendiri. Ilmu-ilmu ini tidak keluar dari ilmu agama dan bahasa. Masing-masing menampilkan sejumlah aspek pembahasan yang dianggapnya penting. Objek pembahasanya adalah al-Qur&#8217;an.</p>
<p>Ada pun perbedaannya terletak pada aspek pembahasannya. Definisi pertama menampilkan sembilan aspek pembahasan, dan yang kedua menampilkan hanya lima daripadanya. Dengan demikian, definisi pertama lebih luas cakupannya dari yang kedua.</p>
<p>Dari kedua pengertian di atas, dapat disimpulkan, adanya dua unsur penting dalam definisi Ulumul Quran, yaitu:</p>
<p>1. Ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah pembahasan.</p>
<p>2. Kedua, pembahasan-pembahasan ini mempunyai hubungan dengan al-Qur&#8217;an, baik dari segi aspek keberadaannya sebagai al-Qur&#8217;an maupun aspek pemahaman kandungannya sebagai pedoman dan petunjuk bagi manusia.</p>
<p></font></p>
<h1><font size="3">B. Ruang Lingkup Pembahasan Ulumul Qur&#8217;an</font></h1>
<p><font size="3">Dari definisi-definisi tersebut di atas, dapat dipahami bahwa Ulumul Qur&#8217;an adalah suatu ilmu yang mempunyai ruang lingkup pembahasan yang luas. Ulumul Qur&#8217;an meliputi semua ilmu yang ada kaitannya dengan al-Qur&#8217;an, baik berupa ilmu-ilmu agama, seperti ilmu tafsir maupun ilmu-ilmu bahasa Arab, seperti ilmu <i>balaghah</i> dan ilmu <i>I&#8217;rab al-Qur&#8217;an</i>. Ilmu-ilmu yang tersebut dalam definisi ini berupa ilmu-ilmu tentang sebab-sebab turunnya ayat al-Qur&#8217;an, urutan-utrutannya, pengumpulannya, penulisannya, <i>qira&#8217;atnya</i>, tafsirnya, kemukijizatannya, <i>nasikh</i> dan <i>mansukhnya</i> , ayat-ayat Makkiah dan Madaniah, ayat-ayat <i>muhkamah</i> dan <i>mutasyabihatnya</i>, hanyalah sebagian dari pembahasan pokok ilmu Qur&#8217;an. Di samping itu masih banyak lagi ilmu-ilmu yang tercakup di dalamnya seperti ilmu <i>Gharib</i> al-Qur&#8217;an, ilmu <i>badai&#8217; al-Qur&#8217;an</i>, ilmu <i>tanasub</i> ayat al-Qur&#8217;an, ilmu <i>Aqsam</i> al-Qur&#8217;an, ilmu <i>Amtsal</i><i>jidal</i> al-Qur&#8217;an, ilmu <i>adab tilawah</i> al-Qur&#8217;an, dan sebagainya.<a title="_ftnref5" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</a> Bahkan sebagian ilmu ini masih dapat dipecah kepada beberapa cabang dan macam ilmu yang masing-masing mempunyai objek kajian tersendiri.</p>
<p>Demikian luasnya ruang lingkup kajian <u>U</u>lumul Quran sehingga sebagian ulama menjadikannya luas yang tak terbatas. Al-Suyuthi memperluasnya sehingga memasukkan astronomi, ilmu ukur, kedokteran, dan sebagainya. Hal ini mungkin berkenaan, karena ada beberapa ayat al-Quran yang berbicara mengenai kajian-kajian ilmu tersebut di atas. Al-Suyuthi mengutip Abu Bakar ibn al-Arabi yang mengatakan bahwa Ulumul Qur&#8217;an terdiri dari 775 ilmu. Hal ini didasarkan kepada jumlah kata yang terdapat dalam al-Qur&#8217;an mengandung makna zahir, batin, terbatas dan tak terbatas. Perhitungan ini masih dilihat dari sudut <i>mufratnya</i> kata-katanya. Adapun jika dilihat dari sudut hubungan kalimat-kalimatnya, maka jumlahnya menjadi tidak terhitung.</p>
<p><a title="_ftnref6" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn6" name="_ftnref6">[6]</a>Ash-Shiddieqy<a title="_ftnref7" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn7" name="_ftnref7">[7]</a> memandang segala macam pembahsan Ulumul Quran itu kembali kepada beberapa pokok persoalan saja, yaitu:</p>
<p>1. Persoalan Nuzul. Persoalan ini menyangkut dengan ayat-ayat yang diturunkan di Makkah yang disebut Makkiah, ayat-ayat yang diturunkan di Madinah yang disebut Madaniah, ayat-ayat yang diturunkan ketika Nabi berada di kampung yang disebut <i>Hadhariah</i>. Ayat-ayat yang diturunkan ketika Nabi dalam perjalanan disebut <i>Safariah</i>, ayat-ayat yang diturunkan pada malam hari disebut <i>Lailiah</i>, yang diturunkan di musim dingin disebut <i>Syitaiah</i>, yang diturunkan di musim panas disebut <i>Shaifiah</i>, dan yang diturunkan ketika Nabi di tempat tidur disebut <i>Fisasyiah</i>. Persoalan ini juga meliputi hal yang menyangkut sebab-sebab turunnya ayat, yang mula-mula turun, yang terakhir turun, yang berulang-ulang turun, yang turun terpisah-pisah, yang turun sekaligus, yang pernah diturunkan kepada seorang Nabi, dan yang belum pernah sama sekali.</p>
<p>2. Persoalan <i>Sanad</i><a title="_ftnref8" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn8" name="_ftnref8">[8]</a>. Persoalan ini meliputi hal-hal yang menyangkut sanad yang <i>Mutawatir</i>,<a title="_ftnref9" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn9" name="_ftnref9">[9]</a> yang <i>Ahad</i>,<a title="_ftnref10" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn10" name="_ftnref10">[10]</a> yang <i>Syaz</i>,<a title="_ftnref11" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn11" name="_ftnref11">[11]</a> bentuk-bentuk <i>qiraat</i> Nabi, para periwayat dan para penghapal al-Qur&#8217;an, dan cara <i>tahmul</i> (penerima wahyu).</p>
<p>3. Persoalan <i>ada&#8217; al-qiraan</i> (cara membaca al-Qur&#8217;an). Hal ini menyangkut <i>waaf</i> (cara berhenti), <i>ibtida&#8217;</i> (cara memulai), <i>imalah madd</i> (bacaan yang dipanjangkan), <i>takhtif hamzah</i> (meringankan bacaan hamzah), <i>Idgham</i> (memasukkan bunyi huruf yang <i>sakin</i> kepada bunyi huruf sesudahnya).</p>
<p>4. Pembahasan yang menyangkut lafal al-Quran, yaitu tentang yang <i>gharib</i> (pelik), <i>mu&#8217;rab</i> (menerima perubahan akhir kata), <i>majaz</i> (metafora), <i>musytarak</i> (lafal yang mengandung lebih dari satu makna), <i>muradif</i> (sinonim), <i>isti&#8217;arah</i> (metafor), dan <i>tasybih</i></p>
<p>5. Pesoalan makna al-Qur&#8217;an yang berhubungan dengan hukum, yaitu ayat-ayat yang bermakna <i>‘amm</i> (umum) yang dimaksudkan khusus, <i>‘amm</i> (umum) yang dimaksudkan Sunnah, yang <i>nash</i>, yang zahir, yang <i>mujmal</i> (bersifat global), yang <i>mufashshal</i> (dirinci), yang <i>manthuq</i> (makna yang berdasarkan pengutaraan), yang <i>mafhum</i> (makna yang berdasarkan pemahaman), <i>muthlaq</i> (tidak terbatas), yang <i>muqayyad</i> (terbatas), yang <i>muhkam</i> (kukuh, jelas), <i>mutasyabih</i> (samar), yang <i>musykil</i> (maknanya pelik), yang <i>nasikh</i> (menghapus) dan <i>mansukh</i> (dihapus), <i>muqaddam</i> (didahulukan), <i>muakhkhar</i> (dikemudiankan), <i>ma&#8217;mul</i> (diamalkan) pada waktu tertentu, dan yang hanya <i>ma&#8217;mul</i> (diamalkan) oleh seorang saja.</p>
<p>6. Persoalan makna al-Qur&#8217;an yang berhubungan dengan lafal, yaitu <i>fashl</i> (pisah), <i>washl</i> (berhubung), <i>ijaz</i> (singkat), <i>ithnab</i><i>musawah</i> (sama), <i>qashr</i> (pendek).</p>
<p>Demikianlah Ash-Shiddieqy memberi ruang lingkup Ulumul Qur&#8217;an. Namun, persoalan-persoalan yang dikemukakannya juga tidak keluar dari ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab. Pandangan ini tampaknya sejalan dengan pendapat al-Zarqani yang tidak setuju memasukkan ilmu-ilmu astronomi, kosmologi, ekonomi, kedokteran ke dalam pembahasan Ulumul Qur&#8217;an. Al-Zarqani menolak pandangan al-Suyuthi yang memandang ilmu-ilmu tersebut terakhir ini sebagai pembahasan Ulumul Quran. Al-Zarqani mengakui bahwa al-Qur&#8217;an menganjurkan agar kaum muslimin mempelajarinya dan mendalami ilmu-ilmu tersebut, terutama ketika diperlukan. Akan tetapi ilmu yang dianjurkan al-Quran untuk mempelajarinya berbeda dengan ilmu yang masalahnya atau hukumnya ditunjukkan oleh al-Qur&#8217;an dan ilmu yang mengabdi kepada al-Qur&#8217;an. Menurut dia, ilmu yang pertama tidak termasuk dalam kategori Ulumul Qur&#8217;an. Sedangkan dua terakhir jelas mempunyai hubungan dengan al-Qur&#8217;an.<a title="_ftnref12" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn12" name="_ftnref12">[12]</a> &#160;&#160;&#160;&#160;</p>
<p>Dari keterangan di atas dapat dipahami bahwa pada dasarnya, dan yang menjadi pokok pembahasan Ulumul Quran itu adalah ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab. Namun, melihat kenyataan adanya ayat-ayat yang menyangkut berbagai aspek kehidupan dan tuntutan yang semakin besar kepada petunjuk al-Qur&#8217;an, maka untuk menafsirkan ayat-ayat menyangkut disiplin ilmu tertentu memerlukan pengetahuan tetnang ilmu tersebut. Penafsiran ayat-ayat <i>kauniah<a title="_ftnref13" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn13" name="_ftnref13">[13]</a></i> memerlukan pengetahuan astronomi, ayat-ayat ekonomi memerlukan ilmu ekonomi, dan ayat-ayat politik memerlukan ilmu politik, dan seterusnya.&#160;</p>
<p>&#160;<br /></font></p>
<h1><font size="3">C. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Ulumul Qur&#8217;an</font></h1>
<p><font size="3">Di masa Rasulullah SAW dan para sahabat, Ulumul Qur&#8217;an belum dikenal sebagai suatu ilmu yang berdiri sendiri dan tertulis. Para sahabat adalah orang-orang Arab asli yang dapat merasakan struktur bahasa Arab yang tinggi dan memahami apa yang diturunkan kepada Rasul SAW. Bila mereka menemukan kesulitan dalam memahami ayat-ayat tertentu, mereka dapat menanyakan langsung kepada Rasul SAW.</p>
<p>Adapun mengenai kemampuan Rasul memahami al-Qur&#8217;an tentunya tidak diragukan lagi karena Dialah yang menerimanya dari Allah SWT, dan Allah mengajarinya segala sesuatu.</p>
<p>Ada tiga faktor yang menyebabkan Ulumul Qur&#8217;an tidak dibukukan pada masa Rasul dan sahabat, yaitu:</p>
<p>1. Kondisinya tidak mermbutuhkan karena kemampuan mereka yang besar dan untuk memahami al-Qur&#8217;an dan Rasul dapat menjelaskan maksudnya.</p>
<p>2. Para sahabat sedikit sekali yang pandai menulis.</p>
<p>3. Adanya larangan Rasul untuk menuliskan selain al-Qur&#8217;an.</p>
<p>Semuanya ini merupakan faktor yang menyebabkan tidak tertulisnya ilmu ini baik di masa Nabi maupun di zaman sahabat.<a title="_ftnref14" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn14" name="_ftnref14">[14]</a></p>
<p>Di zaman Kahlifah Ustman, wilayah Islam bertambah luas sehingga terjadi pembauran antara penakluk Arab dan bangsa-bangsa yang tidak mengetahui bahasa Arab. Keadaan demikian menimbulkan kekhawatiran sahabat akan tercemarnya keistimewaan bahasa Arab dari bangsa Arab. Bahkan kekhawatiran akan terjadinya perpecahan di kalangan kamu Muslimin tentang bacaan al-Qur&#8217;an selama mereka tidak memiliki sebuah al-Qur&#8217;an yang menjadi standar bagi bacan mereka. Untuk menjaga agar tidak terjadinya kekhawatiran itu, disalinlah dari tulisan-tulisan aslinya sebuah al-Qur&#8217;an yang disebut <i>Mushhaf Imam.</i> Dengan terlaksananya penyalinan ini maka berarti Ustman telah meletakkan dasar Ulumul Qur&#8217;an yang disebut <i>Rasm al-Qur&#8217;an</i> atau <i>‘Ilm al-Rasm al-Ustmani.</i><a title="_ftnref15" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn15" name="_ftnref15">[15]</a></p>
<p>Di masa Ali terjadi perkembangan baru dalam ilmu al-Qur&#8217;an. Karena melihat banyaknya umat Islam yang berasal dari bangsa non-Arab, kemerosotan dalam bahasa Arab, dan kesalahan pembacaan al-Qur&#8217;an, Ali menyuruh Abu al-Aswad al-Duali (w. 69 H.) untuk menyusun kaidah-kaidah bahasa Arab. Hal ini dilakukan untuk memelihara bahasa Arab dari pencemaran dan menjaga al-Qur&#8217;an dari keteledoran pembacanya. Tindakan Khalifah Ali ini dianggap perintis bagi lahirnya <i>ilmu nahwu</i> dan <i>I&#8217;rab al-Qur&#8217;an.</i><a title="_ftnref16" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn16" name="_ftnref16">[16]</a></p>
<p>Setelah berakhirnya zaman Khalifah yang Empat, timbul zaman Bani Umayyah. Kegiatan para sahabat dan tabi&#8217;in terkenal dengan usaha-usaha mereka yang tertumpu pada penyebaran ilmu-ilmu al-Qur&#8217;an melalui jalan periwayatan dan pengajaran secara lisan, bukan melalui tulisan dan catatan. Kegiatan-kegiatan ini dipandang sebagai persiapan bagi masa pembukuannya.</p>
<p>Pada masa ini dianggap sebagai peletak batu pertama bagi apa yang disebut ilmu tafsir, <i>asbab al-nuzul,</i> ilmu <i>nasikh</i> dan <i>mansukh,</i> ilmu <i>gharib al</i>-<i>Qur&#8217;an</i> dan lainnya.<a title="_ftnref17" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn17" name="_ftnref17">[17]</a></p>
<p>Ulumul Qur&#8217;an memasuki masa pembukuannya pada abad ke-2 H. Para ulama memberikan prioritas perhatian mereka kepada ilmu tafsir karena fungsinya sebagai <i>Umm al-‘Ulum</i> (induk ilmu-ilmu al-Qur&#8217;an). Para penulis pertama dalam tafsir adalah Syu&#8217;bah Ibn al-Hajjaj (w. 160 H.), Sufyan ibn ‘Uyaynah dan Wali&#8217; Ibn al-Jarrah.</p>
<p>Pada abad ke-3 lahir ilmu <i>asbab al-nuzul</i>, ilmu <i>nasikh</i> dan <i>mansukh</i>, ilmu tentang ayat Makkiah dan Madaniah, <i>qiraat</i>, <i>I&#8217;rab</i> dan <i>istinbath</i></p>
<p>Abad ke-4 lahir ilmu <i>gharib al-Qur&#8217;an</i>. Abad ke-5 lahir ilmu <i>amtsal al-Qur&#8217;an</i>. Abad ke-6 di samping banyak ulama yang melnajutkan pengembangan ilmu-ilmu al-Qur&#8217;an yang telah ada, lahir pula ilmu <i>mabhat al-Qur&#8217;an</i>. Ilmu ini menerangkan lafal-lafal ql-Qur&#8217;an yang masksudnya apa dan siapa tidak jelas.&#160;&#160;&#160;</p>
<p>Pada Abad ke-8 muncul beberapa ulama yang menyusun ilmu-ilmu tentang al-Qur&#8217;an. Ibn Abi al-Ishba&#8217; menulis tentang <i>badai&#8217; al-Qur&#8217;an,</i> yang membahas macam-macam keindahan bahasa dalam al-Qur&#8217;an. Ibn Qayyim menulis tentang <i>aqsam al-Qur&#8217;an</i>, yang membahas tentang sumpah-sumpah al-Quran.</p>
<p>Pada Abab ke-9, Jalaluddin al-Suyithi menyusun dua kitab, <i>al-Tahbir fi ‘Ulum al-Tafsir</i> dan <i>al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur&#8217;an</i>. Kedua kitab ini dianggap puncak karang-mengarang dalam Ulumul Qur&#8217;an. Setelah abad ini hampir tidak ada lagi yang mampu melampaui karyanya. Ini terjadi sebagai akibat meluasnya sifat taklid.</p>
<p>Sejak penghujung abab ke-13 H. sampai saat ini perhatian para ulama terhadap penyusunan kitab-kitab Ulumul Qur&#8217;an bangkit kembali. Kebangkitan ini bersamaan dengan masa kebangkitan modern dalam perkembangan ilmu-ilmu agama lainnya.</p>
<p>Dalam bahasa Indonesia, ada beberapa buku Ulumul qur&#8217;an yang dikarang oleh ulama Indonesia sendiri, di antaranya kitab <i>Ilmu-ilmu al-Qur&#8217;an</i> karya T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, <i>Pengantar Ilmu Tafsir</i> karya Rifa&#8217;at Syauki Nawawi dan Ali Hasan, dan yang terbaru berjudul <i>Membumikan Al-Qur&#8217;an</i> karya ahli tafsir Indonesia M. Quraish Shihab.&#160;</p>
<p></font> (penggalian hukum dari al-Qur&#8217;an).</p>
<h1><font size="3">D.&#160;&#160;&#160; Pembagian dan Cabang-cabang Ulumul Qur&#8217;an</font></h1>
<p><font size="3">Ilmu-ilmu Qur&#8217;an pada dasarnya terbagi ke dalam dua kategori,<a title="_ftnref18" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn18" name="_ftnref18">[18]</a> yaitu:</p>
<p>1. Ilmu <i>Riwayah</i>, yaitu ilmu-ilmu yang hanya dapat diketahui melalui jalan riwayat, seperti bentuk-bentuk <i>qiraat</i>, tempat-tempat turunnya al-Qur&#8217;an, waktu-waktu turunnya, dan sebab-sebab turunnya.</p>
<p>2. Ilmu <i>Dirayah</i>, yaitu ilmu-ilmu yang diketahui melalui perenungan, berpikir, dan penyelidikan, seperti mengetahui pengertian lafal yang gharib, makna-makna yang menyangkut hukum, penafsiran ayat-ayat yang perlu ditafsirkan.</p>
<p>Menurut T.M Hasbi Ash-Shiddieqy, ada tujuh belas ilmu-ilmu al-Qur&#8217;an yang terpokok.<a title="_ftnref19" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn19" name="_ftnref19">[19]</a></p>
<p>1. Ilmu Mawathin al-Nuzul</p>
<p>Ilmu ini menerangkan tempat-tempat turun ayat, masanya, awalnya, dan akhirnya.</p>
<p>2. Ilmu tawarikh al-Nuzul</p>
<p>Ilmu ini menjelaskan masa turun ayat dan urutan turunnya satu persatu, dari permulaan sampai akhirnya serta urutan turun surah dengan sempurna.&#160;</p>
<p>3. Ilmu Asbab al-Nuzul</p>
<p>Ilmu ini menjelaskan sebab-sebab turunnya ayat.</p>
<p>4. Ilmu Qiraat</p>
<p>Ilmu ini menerangkan bentuk-bentuk bacaan al-Qur&#8217;an yang telah diterima dari Rasul SAW. Ada sepuluh Qiraat yang sah dan beberapa macam pula yang tidak sah.</p>
<p>5. Ilmu Tajwid</p>
<p>Ilmu ini menerangkan cara membaca al-Qur&#8217;an dengan baik. Ilmu ini menerangkan di mana tempat memulai, berhenti, bacaan panjang dan pendek, dan sebagainya.</p>
<p>6. Ilmu Gharib al-Qur&#8217;an</p>
<p>Ilmu ini menerangkan makna kata-kata yang ganjil dan tidak terdapat dalam kamus-kamus bahasa Arab yang biasa atau tidak terdapat dalam percakapan sehari-hari. Ilmu ini berarti menjelskan makna kata-kata yang pelik dan tinggi.</p>
<p>7. Ilmu I&#8217;rab al-Qur&#8217;an</p>
<p>Ilmu ini menerangkan baris kata-kata al-Qur&#8217;an dan kedudukannya dalam susunan kalimat.</p>
<p>8. Ilmu Wujuh wa al-Nazair</p>
<p>Ilmu ini menerangkan kata-kata al-Qur&#8217;an yang mengandung banyak arti dan menerangkan makna yang dimaksud pada tempat tertentu.&#160;</p>
<p>9. Ilmu Ma&#8217;rifah al-Muhkam wa al-Mutasyabih</p>
<p>Ilmu ini menjelaskan ayat-ayat yang dipandang muhkam (jelas maknanya) dan yang mutasyabihat (samar maknanya, perlu ditakwil).</p>
<p>10. Ilmu Nasikh wa al-Mansukh</p>
<p>Ilmu ini menerangkan ayat-ayat yang dianggap <i>mansukh</i> (yang dihapuskan) oleh sebagian <i>mufassir<a title="_ftnref20" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn20" name="_ftnref20">[20]</a>.</i></p>
<p>11. Ilmu Badai&#8217; al-Qur&#8217;an</p>
<p>Ilmu ini bertujuan menampilkan keindahan-keindahan al-Qur&#8217;an dari sudut kesusastraan, keanehan-keanehan, dan ketinggian balaghahnya.</p>
<p>12. Ilmu I&#8217;jaz al-Qur&#8217;an</p>
<p>Ilmu ini menerangkan kekuatan susunan dan kandungan ayat-ayat al-Qur&#8217;an sehingga dapat membungkam para sastrawan Arab.</p>
<p>13. Ilmu Tanasub Ayat al-Qur&#8217;an</p>
<p>Ilmu ini menerangkan persesuaian dan keserasian antara suatu ayat dan ayat yang di depan dan yang di belakangnya.</p>
<p>14. Ilmu Aqsam al-Qur&#8217;an</p>
<p>Ilmu ini menerangkan arti dan maksud-maksud sumpah Tuhan yang terdapat dalam al-Qur&#8217;an.</p>
<p>15. Ilmu Amtsal al-Qur&#8217;an</p>
<p>Ilmu ini menerangkan maskud perumpamaan-perumpamaan yang dikemukan al-Qur&#8217;an.</p>
<p>16. Ilmu Jidal al-Qur&#8217;an</p>
<p>Ilmu ini membahas bentuk-bentuk dan cara-cara debat dan bantahan al-Qur&#8217;an yang dihadapkan kepada kamu Musyrik yang tidak bersedia menerima kebenaran dari Tuhan.</p>
<p>17. Ilmu Adab Tilawah al-Qur&#8217;an&#160;&#160;</p>
<p>Ilmu ini memaparkan tata-cara dan kesopanan yang harus diikuti ketika membaca al-Qur&#8217;an.</p>
<p>
Ramli Abdul Wahid menambahkan ilmu tafsir sebagai bagian dari Ulumul Qur&#8217;an<a title="_ftnref21" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn21" name="_ftnref21">[21]</a>. Ilmu tafsir berfungsi sebagai alat untuk mengungkap isi dan pesan yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur&#8217;an. Menurunya, Ulumul Qur&#8217;an lebih umum dari ilmu tafsir karena ulumul Qur&#8217;an ialah segala ilmu-ilmu yang mempunyai hubungan dengan al-Qur&#8217;an. Ilmu tafsir tidak kurang penting dari ilmu-ilmu tersebut di atas, terutama setelah berkembang dengan menampilkan berbagai metodologi, corak, dan alirannya.<br />
&#160;<br />
Ulumul Qur&#8217;an merupakan kumpulan berbagai ilmu yang berhubungan dengan al-Quran. Pada dasarnya, ilmu-ilmu ini adalah ilmu agama dan bahasa Arab. Namun, menyangkut ayat-ayat tertentu seperti ayat-ayat <i>kauniah</i> dan perjalanan bulan dan bintang diperlukan pengetahuan kosmologi<a title="_ftnref22" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn22" name="_ftnref22">[22]</a> dan astronomi. Karena itu, ilmu ini mempunyai ruang lingkup yang luas dan dalam sejarahnya selalu mengalami perkembangan.</p>
<p>Pintu ilmu ini selalu terbuka kepada setiap ulama yang datang kemudian untuk memasuki persoalan-persoalan yang belum terjamah para ulama terdahulu karena faktor-faktor tertentu.&#160;</p>
<p>Dengan ilmu ini seseorang akan dapat menunjukkan dan mempertahankan kesucian dan kebenaran al-Qur&#8217;an. Betapa pentingnya ilmu ini sehingga Al-Zarqani memberikan perumpamaan Ulumul Qur&#8217;an sebagai anak kunci bagi para mufassir.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</p>
<p>
<br clear="all" /></font></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<font size="3"><a title="_ftn1" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> Ramli Abdul Wahid, <i><u>Ulumul Quran</u></i>, Grafindo, Jakarta, 1996, hal. 7.</p>
<p><a title="_ftn2" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> Ibid, hal. 7-8.</p>
<p><a title="_ftn3" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> Ibid, hal 8.</p>
<p><a title="_ftn4" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> Ibid, hal 9</p>
<p><a title="_ftn5" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</a> Ibid, hal. 10</p>
<p><a title="_ftn6" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref6" name="_ftn6">[6]</a> Muhammad Abd al-Azim al-Zarqani, op. cit Hal. 23</p>
<p><a title="_ftn7" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref7" name="_ftn7">[7]</a> Hasbi TM Ash-Ahiddieqy, <i>Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran/Tafsir,</i> Bulan Bintang, Jakarta, 197, hal 103-104.</p>
<p><a title="_ftn8" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref8" name="_ftn8">[8]</a> <i>Sanad</i> secara bahasa berarti sandaran. Dalam istilah ilmu hadits, sanad berarti rangkaian para periwayat hadits dari Nabi sampai kepada Penulis atau pengumpulnya.</p>
<p><a title="_ftn9" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref9" name="_ftn9">[9]</a> <i>Mutawatir</i> berarti berita yang diriwayatkan oleh orang-orang yang jumlah mereka membuat tidak masuk akal bila dikatakan bahwa mereka sepakat untuk mengada-adakan berita itu. Mereka ini menerima berita tersebut dari sejumlah orang yang keadaanya sama dengan mereka, dan begitulah jalan periwayatnya sampai sumber pertama, yaitu Nabi.&#160;</p>
<p><a title="_ftn10" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref10" name="_ftn10">[10]</a> Ahad berarti berita yang diriwayatkan oleh satu orang periwayat atau lebih tetapi jumlahnya tidak sampai mencapai jumlah periwayat yang mutawatir.</p>
<p><a title="_ftn11" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref11" name="_ftn11">[11]</a> Syaz secara bahasa berarti aneh atau asing. Dalam istilah ilmu hadts berarti hadits yang diriwayatkan oleh seorang yang terpercaya, tetapi riwayatnya menyalahi riwayat orang banyak yang terpercaya. Namun dalam ilmu Qiraat, syaz berarti qiraat yang sanadnya tidak sahih.</p>
<p><a title="_ftn12" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref12" name="_ftn12">[12]</a> Ramli Abdul Wahid, MA., op. cit,,, hal. 15</p>
<p><a title="_ftn13" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref13" name="_ftn13">[13]</a> <i>Kauniah</i>, ayat-ayat yang bersifat ilmu.</p>
<p><a title="_ftn14" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref14" name="_ftn14">[14]</a> al-Shahih, Shubhi, <i>Mabahits fi ‘Ulum al-Qur&#8217;an,</i> Dar altlm li al-Malayin<i>,</i> Beirut, 1977, hal. 120.</p>
<p><a title="_ftn15" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref15" name="_ftn15">[15]</a> Al-Zarqani, op. cit., hal 30.</p>
<p><a title="_ftn16" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref16" name="_ftn16">[16]</a> Ibid</p>
<p><a title="_ftn17" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref17" name="_ftn17">[17]</a> Ramli Abdul Wahid, op. cit., hal. 17.</p>
<p><a title="_ftn18" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref18" name="_ftn18">[18]</a> Ramli Abdul Wahid, op. cit., hal 23.</p>
<p><a title="_ftn19" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref19" name="_ftn19">[19]</a> T.M Hasbi Ash-Shiddieqy, <i>Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur&#8217;an/ tafsir, op. cit., hal 105-106.&#160;</i></p>
<p><a title="_ftn20" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref20" name="_ftn20">[20]</a> <i>Mufassir</i>, orang yang melakukan penafsiran terhadap teks al-Qur&#8217;an</p>
<p><a title="_ftn21" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref21" name="_ftn21">[21]</a> ramil Abdul Wahid, op. cit., hal 27.</p>
<p><a title="_ftn22" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref22" name="_ftn22">[22]</a> Kosmologi, Ilmu jagat raya, ilmu langit</p>
<p></font>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urangmudiak.blog.com/2008/03/11/artikel/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://urangmudiak.blog.com/2008/03/11/</link>
		<comments>http://urangmudiak.blog.com/2008/03/11/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Mar 2008 19:37:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tam</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<font size="3"><font size="5"><b>Tubuh yang Diperdebatkan<br /></b></font><br />
<br />
<i><b>RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi<br /></b></i><br />
RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi diperdebatkan banyak kalangan dewasa ini. Semakin santer pasca terbit dan beredarnya majalah Playboy versi Indonsia. Walaupun rangkaian "peristiwa" sebelumnya turut menjadi latar-goyang ngebor Inul, film "Buruan Cium Gue", gambar telanjang Anjasmara, diantaranya-tetapi akan dan setelah terbitnya majalah playboy seperti menjadi semarak.<br />
<br />
Mengenai pornografi dan pornoaksi, dalam sebuah edisi Catatan Pinggir bertanggal 23 April 2006, Goenawan Mohamad menuturkan: Gambar persetubuhan tanpa tedeng-aling, yang merupakan peninggalan kerajaan muslim di India selama tiga abad sejak 1526, dibuat di lembaran yang berjumlah terbatas. Baru di abad ke-20 seni rupa zaman Moghal itu diketahui orang ramai.<a title="_ftnref1" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a>&#160;<br />
<br />
Dari keterangan di atas, pornografi telah ada dan berkembang jauh abab sebelum ia giat diperbincangkan hari ini. Jauh hari sebelum Ananda Early berpose setengah telanjang di majalah yang berlambang kelinci itu.<br />
<br />
Pornografi memang produk kapitalisme hari ini-maka mungkin ia mengalahkan dirinya sendiri, lanjut Goenawan. Di tahun 1950-an, Hollywood adalah tempat di mana seks ditawarkan ke konsumen. Di awal tahun 1950-an pula ketika seks masih tabu di media Amerika, Hugh Hefner menerbitkan <i>Playboy</i>. Pada nomor pertama majalah itu langsung terjual 50.000 eksemplar. Sejak itu, ia menanjak. Ia praktis telah membebaskan orang Amerika dalam bicara soal seks. Majalah pesaing muncul, lebih berani: Hustler, Penthouse, Maxim, sejak tahun 1890-an, bisnis <i>Playboy</i> merosot. Sebentar lagi tampaknya semua akan merosot: teknologi telah membuat kelangkaan hampir mustahil. DVD porno segera mengejar, dan akhirnya ia sendiri dikejar. <i>Blue film</i> di internet bermunculan, semakin lama semakin gampang, di mana saja, kapan saja.<a title="_ftnref2" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a><br />
<br />
Pornografi dan Pornoaksi mulai marak diperbincangan memang, setelah beberapa tahun reformasi bergulir, pasca jatuhnya rezim Soeharto. Ketika media massa dan elektronik telah berkembang dengan pesat dan terbuka, dan bahkan cenderung tak terkontrol. Amandemen Undang-undang pun giat dilakukan. Jika pun masa Orde Baru ada permasalahan yang menyangkut pornografi dan pornoaksi, tapi hal ini tidak tercatat dan tersorot lebih semarak. Apalagi keinginan adanya undang-undang yang "mengatur" tubuh manusia ini, banyak bermunculan dari golongan agamais yang pada masa Orde Baru, pergerakan mereka dikekang cukup signifikan oleh pemerintah. Termasuk juga "haramnya" amandemen bagi Konstitusi ketika itu.&#160;<br />
<br />
Padahal jika ditilik lebih jauh lagi, di Indonesia, usaha "pengekangan" melalui undang-undang, terhadap pornografi dan pornoaksi, bukanlah barang baru. Di tahun 1917, Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) telah disusun untuk mengatur kedua hal ini. Tapi, seperti dilaporkan Muhamad Tahir Azhari, ternyata tidak efektif. Setelah kemerdekaan, ada KUHP undang-undang no. 1 tahun 1945, dan UU no. 72 tahun 1958.<a title="_ftnref3" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a><br />
<br />
Membaca Goenawan, ketika RUU disusun, dan nantinya kemudian tak lagi menjadi draf/rancangan, sebenarnya Pornografi sendiri telah dan tak akan mungkin terbendung. Meminjam kalimat Goenawan lagi, "teknologi telah membuat kelangkaan hampir mustahil." Goenawan barangkali ingin menawarkan, antara membuat perangkat perlindungan secara lahir-yang berpotensi untuk gagal, atau lebih diarahkan dalam usaha membentuk sistem bathiniah yang tangguh, dengan artian lain: RUU tertolak dengan sendirinya, tetapi bagaimana subjeknya (manusianya) mampu memandang kedua hal itu pada sudut pandang lain, tidak sesuatu yang membangkitkan gairah seksual. Seperti misalnya, bagaimana tradisi mandi di tepian di Minangkabau-dalam tradisi mandi di Minangkabau, tepian laki-laki dan perempuan tidak berjarak begitu jauh, satu sama lain bisa saling mengaksikan, laki-laki bisa melihat perempuan yang hanya memakai kain basahan yang menutupi dari lutut hingga sedikit di atas payudara-atau cara perempuan-perempuan Bali berpakaian.<br />
<br />
Goenawan menambahkan, Jika anda bertanya <i>apa</i> itu "pornografi", jawab yang didapat akan selalu bisa didebat. Ada sebuah kanvas Basuki Abdullah yang melukiskan para bidadari mandi di air terjun hutan, sebuah tema dari dongeng Jaka Tarub. Karya ini tak pernah dianggap cabul oleh banyak orang Indonesia, termasuk Bung Karno. Tapi mungkin ia akan diharamkan Majelis Ulama Indonesia, Front Pembela Islam, Majelis Mujahidin, dan Partai Keadilan Sejahtera.<a title="_ftnref4" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a><br />
<br />
Perbedaan ini akhirnya harus diselesaikan-dan di situlah <i>bagaimana</i> sebuah keputusan diambil jadi soal yang menentukan. "Nilai-nilai bersama" dalam masyarakat tak jatuh seperti pulung. Tiap masyarakat mengandung dimensi politik: apa yang disebut "nilai-nilai bersama" sebenarnya merupakan merupakan hasil persaingan hegemoni.<a title="_ftnref5" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</a><br />
<br />
Ada yang menyelesaikan persaingan ini dengan aksi sepihak: memaksakan nilau-nilai sendiri ke seluruh bangunan sosial, terkadang dengan kekerasan, seperti yang dilakukan Taliban di Afganistan dan Front Pembela Islam di Indonesia. Tapi ada yang menawarkan ukuran-ukuran lain, sebuah proses yang lazimnya menghasilkan kompromi. Ada pula yang menyelesaikannya melalui pengadilan.<a title="_ftnref6" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn6" name="_ftnref6">[6]</a><br />
<br />
Mengutip Goenawan lagi, tampak di sini ada dua ukuran yang dipakai dalam memandang pornografi dan pornoaksi-dua ukuran ("berdosa" dan "berbahaya"-pen) yang terkadang campur-aduk. Katanya lagi, kita sering alpa bahwa yang "berdosa" belum tentu "berbahaya", misalnya ketika anda bangkit syahwat memandangi Angelina Jolie. Sebaliknya, kendarailah mobil tanpa SIM: anda secara publik "berbahaya", tapi Quran dan Injil tak akan menganggap anda "berdosa". Atas dasar yang mana kita menentang pornografi? Karena berdosa atau karena berbahaya?<a title="_ftnref7" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn7" name="_ftnref7">[7]</a><br />
<br />
Jika kita tiba-tiba syahwat melihat Angelina Jolie telanjang, lalu memperkosa seseorang, maka untuk itu pornografi berbahaya. Jika dalam kasus tradisi mandi di Minangkabau, seperti yang telah disebutkan, orang-orang menganggapnya biasa-biasa saja, maka pornoaksikah ini? Kemudian berdosa ataukah berbahaya itu? Di sinilah barangkali "nilai-nilai bersama", seperti yang dikatakan Goenawan, patut menjadi ukuran.<br />
<br /></font>
<h1><i><font size="3">Perempuan, Pornografi dan Pornoaksi</font></i></h1>
<font size="3">Menyinggung masalah pornografi dan pornoaksi berarti acapkali berhubungan erat dan menyangkut dengan perempuan. Selama ini, jika berbicara tentang pornografi dan pornoaksi yang terbayang selalu mengenai kaum yang satu itu, karena pornografi dan pornoaksi acapkali disandingkan dengan kata Payudara, Pingul, dsb yang melekat pada diri perempuan. Tapi tidak mutlak demikian sebenarnya.&#160;&#160;<br />
<br />
Mengutip Tempo, RUU pornografi dan pornoaksi sebenarnya merupakan bentuk kekhawatiran atas eksploitasi tubuh, seksualitas, kecabulan, dan/atau erotika.<a title="_ftnref8" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn8" name="_ftnref8">[8]</a> Jadi pornografi dan pornoaksi tidak sepenuhnya berhubungan atau "bermasalah" dengan satu jenis kelamin saja. Hanya saja, karena perbedaan bentuk tubuh perempuan dan laki-lakilah, yang kemudian, cara pandang pun ikut berbeda terhadapnya. Tidak tepat jika hanya perempuan yang "menanggung-akibat' dari RUU yang terdiri dari 93 pasal dan 11 bab ini.<br />
<br /></font>
<h1><font size="3">Islam Menilai Pornografi dan Pornoaksi</font></h1>
<font size="3">Dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer susunan Drs. Peter Salim, Porno berarti cabul. Sedangkan untuk pornografi sendiri meruapakan penggambaran erotis, baik lewat tulisan maupun lukisan, untuk membangkitkan nafsu seks, dan atau bahan untuk membangkitkan nafsu seks. Sedangkan untuk kata pornoaksi sendiri disebutkan merupakan tingkah laku, gerak-gerak yang dibuat-buat di muka umum untuk membangkitkan nafsu seks.<a title="_ftnref9" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn9" name="_ftnref9">[9]</a><br />
<br />
Dalam buku Pornografi dan Pornoaksi Ditinjau dari Hukum Islam menjelaskan pengertian pornoaksi, mengutip Pasal 412 bahwa,<a title="_ftnref10" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn10" name="_ftnref10">[10]</a><br />
<br />
"Untuk dapat dipidana, perbuatan itu diharuskan bahwa tulisan, gambar, benda atau rekaman itu secara keseluruhan melanggar kesusilaan. Sifat melanggar kesusilaaan memang dapat ditentukan oleh bagian atau bagian-bagian dari tulisan, gambar, benda atau rekaman jika bagian atau bagian-bagian ini dalam hubungannya dengan keseluruhan menentukan sifat dari keseluruhannya itu, dan tidak dinetralisir oleh isi lainnya dari tulisan, gambar, benda atau rekaman itu."&#160;<br />
<br />
Majelis Ulama Indonesia dalam menanggapi semakin maraknya pornografi dan pornoaksi, seperti dikutip Neng Djubaidah dalam buku yang sama,&#160; mengeluarkan Keputusan Fatwa nomor 287 tahun 2001 tentang pornografi dan pornoaksi&#160; dengan dasar-dasar hukum sebagai berikut:<br />
<br />
Pertama, Ayat-ayat al-Quran<br />
<br />
<i>Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.</i> <i>(Al-Isra: 32)</i><br />
<br />
Ayat-ayat yang menggunakan kata "jangan mendekati" seperti ayat di atas, menurut Quraish Shihab dalam sebuah Jilid Tafsir Al-Mishbah, biasanya merupakan larangan mendekati sesuatu yang dapat merangsang jiwa/nafsu untuk melakukannya<a title="_ftnref11" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn11" name="_ftnref11">[11]</a>.&#160;<br />
<br />
Dalam ayat lain disebutkan,<br />
<br />
<i>Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yangmerekaperbuat."</i><i><br />
<br />
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (An-nur: 30-31).</i><br />
<br />
<i>Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Ahzab: 59)<br /></i><br />
Menyoal tentang perbedaan penafsiran terhadap jilbab dalam ayat ke 59 surat Al-Ahzab, Quraish Shihab dalam salah-satu jilid tafsirnya lebih menekankan pada "Menjadikan mereka lebih mudah dikenal sehingga mereka tidak diganggu".<br />
<br />
Ayat di atas, menurutnya lagi, tidak memerintahkan wanita muslimah memakai jilbab, karena agaknya ketika itu sebagian mereka telah memakainya, hanya saja cara memakainya yang belum mendukung apa yang dikehendaki ayat ini.<a title="_ftnref12" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn12" name="_ftnref12">[12]</a>&#160;<br />
<br />
Kedua, Hadis-hadis Rasulullah Saw<a title="_ftnref13" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn13" name="_ftnref13">[13]</a><br />
<br />
1. Hadis Rasulullah yang melarang orang berpakaian tembus pandang, erotis sensual dan sejenisnya, hadis yang melarang kaum perempuan berpakaian (transparan), diriwayatkan Imam Malik, juga diriwayatkan Imam Ahmad.<br />
<br />
2. Hadis yang melarang orang berkhalwat, diriwayatkan Imam Bukhari dari Ibnu Abbas, dan hadis tentang penghuni neraka di antaranya kaum perempuan yang berpakaian (seperti) telanjang, berlenggang-lenggok, menggoda atau memikat, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan dapat mencium baunya surga, diriwayatkan Muslim.<br />
<br />
3. Hadis tentang batas aurat perempuan dan melarang kaum perempuan berpakaian tipis (transparan), diriwayatkan Abu Daud.<br />
<br />
Ketiga, Kaidah-kaidah Ushul Fiqih dan Fiqih<a title="_ftnref14" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn14" name="_ftnref14">[14]</a>:<br />
<br /></font>
<ol start="1" type="1">
<li><font size="3">Kaidah ushul fiqh menyatakan "semua hal yang dapat menyebabkan terjadinya perbuatan haram adalah haram."</font></li>
<li><font size="3">Kaidah-kaidah Fiqih:</font></li>
</ol>
<font size="3">a. Menghindarkan mafsadat adalah lebihbaik didahulukan dari mendatangkan maslahat.<br />
<br />
b. Segala mudarat harus dihilangkan.<br />
<br />
c. Melihat pada sesuatu yang haram adalah haram.<br />
<br />
d. Segala sesuatu yang lahir dari sesuatu yang haram adalah haram.<br />
<br />
<br />
Berdasarkan sumber-sumber hukum dan kaidah ushul fiqh dan fiqh di atas, MUI merumuskan hukum sebagai berikut:<a title="_ftnref15" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn15" name="_ftnref15">[15]</a><br />
<br /></font>
<ol start="1" type="1">
<li><font size="3">Menggambarkan secara langsung atau tidak langsung tingkah laku erotis, baik dengan lukisan, gambar, tulisan, suara, reklame, iklan, maupun ucapan; baik melalui media cetak maupun elektronik yang dapat membangkitkan nafsu birahi adalah haram.</font></li>
<li><font size="3">Membiarkan aurat terbuka atau berpakaian ketat atau tembus pandang adengan maksud untuk diambil gambarnya, baik untuk cetak maupun divisualisasikan adalah haram.</font></li>
<li><font size="3">Melakukan pengambilan gambar sebagaimana&#160; dimaksud pada angka 2 adalah haram.</font></li>
<li><font size="3">Melakukan hubungan atau adegan seksual di hadapan orang, melakukan pengambilan gambar hubungan seksual atau adegan seksual, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, dan melihat hubungan atau adegan seksual adalah haram.</font></li>
<li><font size="3">Memperbanyak, mengedarkan, menjual, membeli dan melihat atau memperlihatkan gambar orang, baik cetak atau visula, yang terbuka auratnya atau berpakaian ketat atau tembus pandang yang dapat membangkitkan nafsu birahi, atau gambar hubungan seksual atau adegan seksual adalah haram.</font></li>
<li><font size="3">Berbuat intim atau berdua-duaan (khalwat) antara laki-laki dengan perempuan yang bukan mahramnya, dan perbuatan sejenis lainnya yangm ndekati dan mendorong melakukan hubungan seksual di luar pernikahan adalah haram.</font></li>
<li><font size="3">Memperlihatkan aurat yakni bagian tubuh antara pusar dan lutut bagi laki-laki serta seluruh bagian tubuh wanita selain muka, telapak tangan, dan telapak kaki adalah haram, kecuali dalam hal-hal yang dibenarkan secara syar'i.</font></li>
<li><font size="3">Memakai pakaian tembus pandang, atau ketat yang dapat memperlihatkan lekuk tubuh adalah haram.</font></li>
</ol>
<font size="3"><br />
<br />
Hanya saja, jika merunut pada hukum-hukum di atas, banyak prilaku dan hasil kebudayaan bangsa yang "haram" karenanya. Penari Jaipong dan terlebih lagi penari Ronggeng, memakai pakaian ketat yang terbuka bidang bahunya, dan dengan pola-pola tarian yang seronok. Atau cara berpakaian orang Irian, Dayak Pedalaman, Kubu, dan Mentawai misalnya. Jika hukum ini diterapkan, jelas, ada beberapa kebudayaan yang terhapus atau terlarang kemudian. Seperti dikatakan Goenawan, seperti yang telah dikutip sebelumnya, ada yang menyelesaikan persaingan ini dengan aksi sepihak: memaksakan nilau-nilai sendiri ke seluruh bangunan sosial, terkadang dengan kekerasan, seperti yang dilakukan Taliban di Afganistan dan Front Pembela Islam di Indonesia. Tapi ada yang menawarkan ukuran-ukuran lain, sebuah proses yang lazimnya menghasilkan kompromi. Ada pula yang menyelesaikannya melalui pengadilan.<br />
<br />
Pada persoalan inilah RUU pornografi dan pornoaksi menjadi rumit dirumuskan dan banyak dipertentangkan. Kita selayaknya tidak memaksakan suatu nilai dengan aksi sepihak, tapi berusaha untuk menghadirkan sebuah kompromi dalam menilai ini, barangkali dengan menawarkan ukuran-ukuran lain, yang dalam bahasa Goenawan disebut sebagai "nilai-nilai bersama" yang semestinya diterima semua lapisan.&#160;&#160;<br />
<br />
<br />
Dampak negatif dari penyebaran pornografi dan pertunjukan pornoaksi yang sudah merebak sampai ke pedesaan merupakan kenyataan yang sudah sangat memprihatinkan. Karena itu, pemerintah dan lembaga-lembaga lain yang terkait harus segera mengambil tindakan yang cepat, tepat, dan benar untuk memberantas dan menanggulangi dan mencegah dampak yang lebih negatif. Pembrantasan, penanggulangan dan pencegahan itu tak lain harus melalui peraturan perundang-undangan tersendiri yang telepas dari KUHP maupun RUU-KUHP, yaitu peraturan perundang-undangan tentang Penanggulangan Pornografi dan Pornoaksi.<br />
<br />
KUHP maupun RUU-KUHP menjadi penting. Namun dalam penmyusunannya perlu juga dipertimbangan bagaimana budaya bangsa Indonesia sendiri di tempatkan dalam hal ini. Jangan sampai KUHP maupun RUU-KUHP tersebut malah menghilang-hancurkan nilai luhur kebudayaan bangsa yang selama ini terbukti tidak menghadirkan ancaman dan bahaya. Dari kedua pertentangan inilah kita menilai pornografi dan pornoaksi sebagai sesuatu yang "berdosa" atau "berbahaya"?<br />
<br />
<br clear="all" /></font>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<font size="3"><a title="_ftn1" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir, Tempo, 23 April 2006.<br />
<br />
<a title="_ftn2" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> Ibid.<br />
<br />
<a title="_ftn3" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> Muhamad Tahir Azhari, Kata Pengantar untuk bukua Pornografi dan Pornoaksi Ditinjau dari Kukum Islam, Neng Djugbaidah SH. MH. Lentera, Jakarta, 2002&#160;&#160;<br />
<br />
<a title="_ftn4" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> op, cit, Goenawan Mohamad.<br />
<br />
<a title="_ftn5" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</a> Ibid.<br />
<br />
<a title="_ftn6" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref6" name="_ftn6">[6]</a> Ibid.<br />
<br />
<a title="_ftn7" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref7" name="_ftn7">[7]</a> Ibid.<br />
<br />
<a title="_ftn8" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref8" name="_ftn8">[8]</a> Majalah TEMPO, edisi 16 Februari 2006.<br />
<br />
<a title="_ftn9" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref9" name="_ftn9">[9]</a> Drs. Peter Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, 2001<br />
<br />
<a title="_ftn10" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref10" name="_ftn10">[10]</a> op. cit, Neng Djubaidah, hal. 13<br />
<br />
<a title="_ftn11" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref11" name="_ftn11">[11]</a> Quraish Shihab, tafsir al-Mishbah Vol. 7, Lentera Hati, Jakarta, 2002, cet. Pertama, hal. 442<br />
<br />
<a title="_ftn12" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref12" name="_ftn12">[12]</a> Ibid. Vol. 11, hal. 231.<br />
<br />
<a title="_ftn13" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref13" name="_ftn13">[13]</a> Op. cit, Neng Djubaidah, hal. 47.<br />
<br />
<a title="_ftn14" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref14" name="_ftn14">[14]</a> Ibid. hal. 48.<br />
<br />
<a title="_ftn15" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref15" name="_ftn15">[15]</a> Ibid. hal. 48-49<br />
<br /></font>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><font size="3"><font size="5"><b>Tubuh yang Diperdebatkan<br /></b></font></p>
<p><i><b>RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi<br /></b></i><br />
RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi diperdebatkan banyak kalangan dewasa ini. Semakin santer pasca terbit dan beredarnya majalah Playboy versi Indonsia. Walaupun rangkaian &#8220;peristiwa&#8221; sebelumnya turut menjadi latar-goyang ngebor Inul, film &#8220;Buruan Cium Gue&#8221;, gambar telanjang Anjasmara, diantaranya-tetapi akan dan setelah terbitnya majalah playboy seperti menjadi semarak.</p>
<p>Mengenai pornografi dan pornoaksi, dalam sebuah edisi Catatan Pinggir bertanggal 23 April 2006, Goenawan Mohamad menuturkan: Gambar persetubuhan tanpa tedeng-aling, yang merupakan peninggalan kerajaan muslim di India selama tiga abad sejak 1526, dibuat di lembaran yang berjumlah terbatas. Baru di abad ke-20 seni rupa zaman Moghal itu diketahui orang ramai.<a title="_ftnref1" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a>&#160;</p>
<p>Dari keterangan di atas, pornografi telah ada dan berkembang jauh abab sebelum ia giat diperbincangkan hari ini. Jauh hari sebelum Ananda Early berpose setengah telanjang di majalah yang berlambang kelinci itu.</p>
<p>Pornografi memang produk kapitalisme hari ini-maka mungkin ia mengalahkan dirinya sendiri, lanjut Goenawan. Di tahun 1950-an, Hollywood adalah tempat di mana seks ditawarkan ke konsumen. Di awal tahun 1950-an pula ketika seks masih tabu di media Amerika, Hugh Hefner menerbitkan <i>Playboy</i>. Pada nomor pertama majalah itu langsung terjual 50.000 eksemplar. Sejak itu, ia menanjak. Ia praktis telah membebaskan orang Amerika dalam bicara soal seks. Majalah pesaing muncul, lebih berani: Hustler, Penthouse, Maxim, sejak tahun 1890-an, bisnis <i>Playboy</i> merosot. Sebentar lagi tampaknya semua akan merosot: teknologi telah membuat kelangkaan hampir mustahil. DVD porno segera mengejar, dan akhirnya ia sendiri dikejar. <i>Blue film</i> di internet bermunculan, semakin lama semakin gampang, di mana saja, kapan saja.<a title="_ftnref2" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></p>
<p>Pornografi dan Pornoaksi mulai marak diperbincangan memang, setelah beberapa tahun reformasi bergulir, pasca jatuhnya rezim Soeharto. Ketika media massa dan elektronik telah berkembang dengan pesat dan terbuka, dan bahkan cenderung tak terkontrol. Amandemen Undang-undang pun giat dilakukan. Jika pun masa Orde Baru ada permasalahan yang menyangkut pornografi dan pornoaksi, tapi hal ini tidak tercatat dan tersorot lebih semarak. Apalagi keinginan adanya undang-undang yang &#8220;mengatur&#8221; tubuh manusia ini, banyak bermunculan dari golongan agamais yang pada masa Orde Baru, pergerakan mereka dikekang cukup signifikan oleh pemerintah. Termasuk juga &#8220;haramnya&#8221; amandemen bagi Konstitusi ketika itu.&#160;</p>
<p>Padahal jika ditilik lebih jauh lagi, di Indonesia, usaha &#8220;pengekangan&#8221; melalui undang-undang, terhadap pornografi dan pornoaksi, bukanlah barang baru. Di tahun 1917, Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) telah disusun untuk mengatur kedua hal ini. Tapi, seperti dilaporkan Muhamad Tahir Azhari, ternyata tidak efektif. Setelah kemerdekaan, ada KUHP undang-undang no. 1 tahun 1945, dan UU no. 72 tahun 1958.<a title="_ftnref3" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a></p>
<p>Membaca Goenawan, ketika RUU disusun, dan nantinya kemudian tak lagi menjadi draf/rancangan, sebenarnya Pornografi sendiri telah dan tak akan mungkin terbendung. Meminjam kalimat Goenawan lagi, &#8220;teknologi telah membuat kelangkaan hampir mustahil.&#8221; Goenawan barangkali ingin menawarkan, antara membuat perangkat perlindungan secara lahir-yang berpotensi untuk gagal, atau lebih diarahkan dalam usaha membentuk sistem bathiniah yang tangguh, dengan artian lain: RUU tertolak dengan sendirinya, tetapi bagaimana subjeknya (manusianya) mampu memandang kedua hal itu pada sudut pandang lain, tidak sesuatu yang membangkitkan gairah seksual. Seperti misalnya, bagaimana tradisi mandi di tepian di Minangkabau-dalam tradisi mandi di Minangkabau, tepian laki-laki dan perempuan tidak berjarak begitu jauh, satu sama lain bisa saling mengaksikan, laki-laki bisa melihat perempuan yang hanya memakai kain basahan yang menutupi dari lutut hingga sedikit di atas payudara-atau cara perempuan-perempuan Bali berpakaian.</p>
<p>Goenawan menambahkan, Jika anda bertanya <i>apa</i> itu &#8220;pornografi&#8221;, jawab yang didapat akan selalu bisa didebat. Ada sebuah kanvas Basuki Abdullah yang melukiskan para bidadari mandi di air terjun hutan, sebuah tema dari dongeng Jaka Tarub. Karya ini tak pernah dianggap cabul oleh banyak orang Indonesia, termasuk Bung Karno. Tapi mungkin ia akan diharamkan Majelis Ulama Indonesia, Front Pembela Islam, Majelis Mujahidin, dan Partai Keadilan Sejahtera.<a title="_ftnref4" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a></p>
<p>Perbedaan ini akhirnya harus diselesaikan-dan di situlah <i>bagaimana</i> sebuah keputusan diambil jadi soal yang menentukan. &#8220;Nilai-nilai bersama&#8221; dalam masyarakat tak jatuh seperti pulung. Tiap masyarakat mengandung dimensi politik: apa yang disebut &#8220;nilai-nilai bersama&#8221; sebenarnya merupakan merupakan hasil persaingan hegemoni.<a title="_ftnref5" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</a></p>
<p>Ada yang menyelesaikan persaingan ini dengan aksi sepihak: memaksakan nilau-nilai sendiri ke seluruh bangunan sosial, terkadang dengan kekerasan, seperti yang dilakukan Taliban di Afganistan dan Front Pembela Islam di Indonesia. Tapi ada yang menawarkan ukuran-ukuran lain, sebuah proses yang lazimnya menghasilkan kompromi. Ada pula yang menyelesaikannya melalui pengadilan.<a title="_ftnref6" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn6" name="_ftnref6">[6]</a></p>
<p>Mengutip Goenawan lagi, tampak di sini ada dua ukuran yang dipakai dalam memandang pornografi dan pornoaksi-dua ukuran (&#8220;berdosa&#8221; dan &#8220;berbahaya&#8221;-pen) yang terkadang campur-aduk. Katanya lagi, kita sering alpa bahwa yang &#8220;berdosa&#8221; belum tentu &#8220;berbahaya&#8221;, misalnya ketika anda bangkit syahwat memandangi Angelina Jolie. Sebaliknya, kendarailah mobil tanpa SIM: anda secara publik &#8220;berbahaya&#8221;, tapi Quran dan Injil tak akan menganggap anda &#8220;berdosa&#8221;. Atas dasar yang mana kita menentang pornografi? Karena berdosa atau karena berbahaya?<a title="_ftnref7" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn7" name="_ftnref7">[7]</a></p>
<p>Jika kita tiba-tiba syahwat melihat Angelina Jolie telanjang, lalu memperkosa seseorang, maka untuk itu pornografi berbahaya. Jika dalam kasus tradisi mandi di Minangkabau, seperti yang telah disebutkan, orang-orang menganggapnya biasa-biasa saja, maka pornoaksikah ini? Kemudian berdosa ataukah berbahaya itu? Di sinilah barangkali &#8220;nilai-nilai bersama&#8221;, seperti yang dikatakan Goenawan, patut menjadi ukuran.</p>
<p></font></p>
<h1><i><font size="3">Perempuan, Pornografi dan Pornoaksi</font></i></h1>
<p><font size="3">Menyinggung masalah pornografi dan pornoaksi berarti acapkali berhubungan erat dan menyangkut dengan perempuan. Selama ini, jika berbicara tentang pornografi dan pornoaksi yang terbayang selalu mengenai kaum yang satu itu, karena pornografi dan pornoaksi acapkali disandingkan dengan kata Payudara, Pingul, dsb yang melekat pada diri perempuan. Tapi tidak mutlak demikian sebenarnya.&#160;&#160;</p>
<p>Mengutip Tempo, RUU pornografi dan pornoaksi sebenarnya merupakan bentuk kekhawatiran atas eksploitasi tubuh, seksualitas, kecabulan, dan/atau erotika.<a title="_ftnref8" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn8" name="_ftnref8">[8]</a> Jadi pornografi dan pornoaksi tidak sepenuhnya berhubungan atau &#8220;bermasalah&#8221; dengan satu jenis kelamin saja. Hanya saja, karena perbedaan bentuk tubuh perempuan dan laki-lakilah, yang kemudian, cara pandang pun ikut berbeda terhadapnya. Tidak tepat jika hanya perempuan yang &#8220;menanggung-akibat&#8217; dari RUU yang terdiri dari 93 pasal dan 11 bab ini.</p>
<p></font></p>
<h1><font size="3">Islam Menilai Pornografi dan Pornoaksi</font></h1>
<p><font size="3">Dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer susunan Drs. Peter Salim, Porno berarti cabul. Sedangkan untuk pornografi sendiri meruapakan penggambaran erotis, baik lewat tulisan maupun lukisan, untuk membangkitkan nafsu seks, dan atau bahan untuk membangkitkan nafsu seks. Sedangkan untuk kata pornoaksi sendiri disebutkan merupakan tingkah laku, gerak-gerak yang dibuat-buat di muka umum untuk membangkitkan nafsu seks.<a title="_ftnref9" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn9" name="_ftnref9">[9]</a></p>
<p>Dalam buku Pornografi dan Pornoaksi Ditinjau dari Hukum Islam menjelaskan pengertian pornoaksi, mengutip Pasal 412 bahwa,<a title="_ftnref10" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn10" name="_ftnref10">[10]</a></p>
<p>&#8220;Untuk dapat dipidana, perbuatan itu diharuskan bahwa tulisan, gambar, benda atau rekaman itu secara keseluruhan melanggar kesusilaan. Sifat melanggar kesusilaaan memang dapat ditentukan oleh bagian atau bagian-bagian dari tulisan, gambar, benda atau rekaman jika bagian atau bagian-bagian ini dalam hubungannya dengan keseluruhan menentukan sifat dari keseluruhannya itu, dan tidak dinetralisir oleh isi lainnya dari tulisan, gambar, benda atau rekaman itu.&#8221;&#160;</p>
<p>Majelis Ulama Indonesia dalam menanggapi semakin maraknya pornografi dan pornoaksi, seperti dikutip Neng Djubaidah dalam buku yang sama,&#160; mengeluarkan Keputusan Fatwa nomor 287 tahun 2001 tentang pornografi dan pornoaksi&#160; dengan dasar-dasar hukum sebagai berikut:</p>
<p>Pertama, Ayat-ayat al-Quran</p>
<p><i>Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.</i> <i>(Al-Isra: 32)</i></p>
<p>Ayat-ayat yang menggunakan kata &#8220;jangan mendekati&#8221; seperti ayat di atas, menurut Quraish Shihab dalam sebuah Jilid Tafsir Al-Mishbah, biasanya merupakan larangan mendekati sesuatu yang dapat merangsang jiwa/nafsu untuk melakukannya<a title="_ftnref11" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn11" name="_ftnref11">[11]</a>.&#160;</p>
<p>Dalam ayat lain disebutkan,</p>
<p><i>Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yangmerekaperbuat.&#8221;</i><i></p>
<p>Katakanlah kepada wanita yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (An-nur: 30-31).</i></p>
<p><i>Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: &#8220;Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.&#8221; Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Ahzab: 59)<br /></i><br />
Menyoal tentang perbedaan penafsiran terhadap jilbab dalam ayat ke 59 surat Al-Ahzab, Quraish Shihab dalam salah-satu jilid tafsirnya lebih menekankan pada &#8220;Menjadikan mereka lebih mudah dikenal sehingga mereka tidak diganggu&#8221;.</p>
<p>Ayat di atas, menurutnya lagi, tidak memerintahkan wanita muslimah memakai jilbab, karena agaknya ketika itu sebagian mereka telah memakainya, hanya saja cara memakainya yang belum mendukung apa yang dikehendaki ayat ini.<a title="_ftnref12" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn12" name="_ftnref12">[12]</a>&#160;</p>
<p>Kedua, Hadis-hadis Rasulullah Saw<a title="_ftnref13" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn13" name="_ftnref13">[13]</a></p>
<p>1. Hadis Rasulullah yang melarang orang berpakaian tembus pandang, erotis sensual dan sejenisnya, hadis yang melarang kaum perempuan berpakaian (transparan), diriwayatkan Imam Malik, juga diriwayatkan Imam Ahmad.</p>
<p>2. Hadis yang melarang orang berkhalwat, diriwayatkan Imam Bukhari dari Ibnu Abbas, dan hadis tentang penghuni neraka di antaranya kaum perempuan yang berpakaian (seperti) telanjang, berlenggang-lenggok, menggoda atau memikat, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan dapat mencium baunya surga, diriwayatkan Muslim.</p>
<p>3. Hadis tentang batas aurat perempuan dan melarang kaum perempuan berpakaian tipis (transparan), diriwayatkan Abu Daud.</p>
<p>Ketiga, Kaidah-kaidah Ushul Fiqih dan Fiqih<a title="_ftnref14" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn14" name="_ftnref14">[14]</a>:</p>
<p></font></p>
<ol start="1" type="1">
<li><font size="3">Kaidah ushul fiqh menyatakan &#8220;semua hal yang dapat menyebabkan terjadinya perbuatan haram adalah haram.&#8221;</font></li>
<li><font size="3">Kaidah-kaidah Fiqih:</font></li>
</ol>
<p><font size="3">a. Menghindarkan mafsadat adalah lebihbaik didahulukan dari mendatangkan maslahat.</p>
<p>b. Segala mudarat harus dihilangkan.</p>
<p>c. Melihat pada sesuatu yang haram adalah haram.</p>
<p>d. Segala sesuatu yang lahir dari sesuatu yang haram adalah haram.</p>
<p>
Berdasarkan sumber-sumber hukum dan kaidah ushul fiqh dan fiqh di atas, MUI merumuskan hukum sebagai berikut:<a title="_ftnref15" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftn15" name="_ftnref15">[15]</a></p>
<p></font></p>
<ol start="1" type="1">
<li><font size="3">Menggambarkan secara langsung atau tidak langsung tingkah laku erotis, baik dengan lukisan, gambar, tulisan, suara, reklame, iklan, maupun ucapan; baik melalui media cetak maupun elektronik yang dapat membangkitkan nafsu birahi adalah haram.</font></li>
<li><font size="3">Membiarkan aurat terbuka atau berpakaian ketat atau tembus pandang adengan maksud untuk diambil gambarnya, baik untuk cetak maupun divisualisasikan adalah haram.</font></li>
<li><font size="3">Melakukan pengambilan gambar sebagaimana&#160; dimaksud pada angka 2 adalah haram.</font></li>
<li><font size="3">Melakukan hubungan atau adegan seksual di hadapan orang, melakukan pengambilan gambar hubungan seksual atau adegan seksual, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, dan melihat hubungan atau adegan seksual adalah haram.</font></li>
<li><font size="3">Memperbanyak, mengedarkan, menjual, membeli dan melihat atau memperlihatkan gambar orang, baik cetak atau visula, yang terbuka auratnya atau berpakaian ketat atau tembus pandang yang dapat membangkitkan nafsu birahi, atau gambar hubungan seksual atau adegan seksual adalah haram.</font></li>
<li><font size="3">Berbuat intim atau berdua-duaan (khalwat) antara laki-laki dengan perempuan yang bukan mahramnya, dan perbuatan sejenis lainnya yangm ndekati dan mendorong melakukan hubungan seksual di luar pernikahan adalah haram.</font></li>
<li><font size="3">Memperlihatkan aurat yakni bagian tubuh antara pusar dan lutut bagi laki-laki serta seluruh bagian tubuh wanita selain muka, telapak tangan, dan telapak kaki adalah haram, kecuali dalam hal-hal yang dibenarkan secara syar&#8217;i.</font></li>
<li><font size="3">Memakai pakaian tembus pandang, atau ketat yang dapat memperlihatkan lekuk tubuh adalah haram.</font></li>
</ol>
<p><font size="3"></p>
<p>Hanya saja, jika merunut pada hukum-hukum di atas, banyak prilaku dan hasil kebudayaan bangsa yang &#8220;haram&#8221; karenanya. Penari Jaipong dan terlebih lagi penari Ronggeng, memakai pakaian ketat yang terbuka bidang bahunya, dan dengan pola-pola tarian yang seronok. Atau cara berpakaian orang Irian, Dayak Pedalaman, Kubu, dan Mentawai misalnya. Jika hukum ini diterapkan, jelas, ada beberapa kebudayaan yang terhapus atau terlarang kemudian. Seperti dikatakan Goenawan, seperti yang telah dikutip sebelumnya, ada yang menyelesaikan persaingan ini dengan aksi sepihak: memaksakan nilau-nilai sendiri ke seluruh bangunan sosial, terkadang dengan kekerasan, seperti yang dilakukan Taliban di Afganistan dan Front Pembela Islam di Indonesia. Tapi ada yang menawarkan ukuran-ukuran lain, sebuah proses yang lazimnya menghasilkan kompromi. Ada pula yang menyelesaikannya melalui pengadilan.</p>
<p>Pada persoalan inilah RUU pornografi dan pornoaksi menjadi rumit dirumuskan dan banyak dipertentangkan. Kita selayaknya tidak memaksakan suatu nilai dengan aksi sepihak, tapi berusaha untuk menghadirkan sebuah kompromi dalam menilai ini, barangkali dengan menawarkan ukuran-ukuran lain, yang dalam bahasa Goenawan disebut sebagai &#8220;nilai-nilai bersama&#8221; yang semestinya diterima semua lapisan.&#160;&#160;</p>
<p>
Dampak negatif dari penyebaran pornografi dan pertunjukan pornoaksi yang sudah merebak sampai ke pedesaan merupakan kenyataan yang sudah sangat memprihatinkan. Karena itu, pemerintah dan lembaga-lembaga lain yang terkait harus segera mengambil tindakan yang cepat, tepat, dan benar untuk memberantas dan menanggulangi dan mencegah dampak yang lebih negatif. Pembrantasan, penanggulangan dan pencegahan itu tak lain harus melalui peraturan perundang-undangan tersendiri yang telepas dari KUHP maupun RUU-KUHP, yaitu peraturan perundang-undangan tentang Penanggulangan Pornografi dan Pornoaksi.</p>
<p>KUHP maupun RUU-KUHP menjadi penting. Namun dalam penmyusunannya perlu juga dipertimbangan bagaimana budaya bangsa Indonesia sendiri di tempatkan dalam hal ini. Jangan sampai KUHP maupun RUU-KUHP tersebut malah menghilang-hancurkan nilai luhur kebudayaan bangsa yang selama ini terbukti tidak menghadirkan ancaman dan bahaya. Dari kedua pertentangan inilah kita menilai pornografi dan pornoaksi sebagai sesuatu yang &#8220;berdosa&#8221; atau &#8220;berbahaya&#8221;?</p>
<p><br clear="all" /></font></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<font size="3"><a title="_ftn1" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir, Tempo, 23 April 2006.</p>
<p><a title="_ftn2" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> Ibid.</p>
<p><a title="_ftn3" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> Muhamad Tahir Azhari, Kata Pengantar untuk bukua Pornografi dan Pornoaksi Ditinjau dari Kukum Islam, Neng Djugbaidah SH. MH. Lentera, Jakarta, 2002&#160;&#160;</p>
<p><a title="_ftn4" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> op, cit, Goenawan Mohamad.</p>
<p><a title="_ftn5" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</a> Ibid.</p>
<p><a title="_ftn6" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref6" name="_ftn6">[6]</a> Ibid.</p>
<p><a title="_ftn7" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref7" name="_ftn7">[7]</a> Ibid.</p>
<p><a title="_ftn8" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref8" name="_ftn8">[8]</a> Majalah TEMPO, edisi 16 Februari 2006.</p>
<p><a title="_ftn9" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref9" name="_ftn9">[9]</a> Drs. Peter Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, 2001</p>
<p><a title="_ftn10" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref10" name="_ftn10">[10]</a> op. cit, Neng Djubaidah, hal. 13</p>
<p><a title="_ftn11" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref11" name="_ftn11">[11]</a> Quraish Shihab, tafsir al-Mishbah Vol. 7, Lentera Hati, Jakarta, 2002, cet. Pertama, hal. 442</p>
<p><a title="_ftn12" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref12" name="_ftn12">[12]</a> Ibid. Vol. 11, hal. 231.</p>
<p><a title="_ftn13" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref13" name="_ftn13">[13]</a> Op. cit, Neng Djubaidah, hal. 47.</p>
<p><a title="_ftn14" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref14" name="_ftn14">[14]</a> Ibid. hal. 48.</p>
<p><a title="_ftn15" href="http://editor.blog.com/posts/new/#_ftnref15" name="_ftn15">[15]</a> Ibid. hal. 48-49</p>
<p></font>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urangmudiak.blog.com/2008/03/11/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>esai</title>
		<link>http://urangmudiak.blog.com/2008/03/11/esai/</link>
		<comments>http://urangmudiak.blog.com/2008/03/11/esai/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Mar 2008 16:05:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tam</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<font size="4"><b>HUMANISME RABAB</b><br />
<br />
<br />
<font size="3">Hampir subuh. Pertunjukan rabab belum juga menampakkan tanda-tanda akan diakhiri. Penonton sudah banyak yang pulang karena tak kuat lagi menahan kantuk. Sejak selesai Isya, saya, dan penonton lainnya, telah mendengarkan si tukang rabab itu menggesek rababnya. Tapi rabab harus tetap dilanjutkan walau tak seorang penonton pun yang tersisa. Sampai suara lain menggantikannya, suara yang lebih menyanyat dan pilu dari gesekan itu. Sampai azan subuh datang ke telinga, sampai fajar bangkit dari tidurnya.<br />
<br />
Meja panjang, yang kali ini beralih fungsi menjadi panggung sederhana, tempat perempuan itu bersila bersama si lelaki perabab, terlihat bergoyang. Seakan mau ambruk. <i>Raun sabalik</i> dimulai, saya ingat, sebagai pembuka pertunjukan rabab di malam itu. Meja panjang yang bergoyang menjadi olok-olokan para penonton. Olok-olokan itu kini diiringi gelak tawa. Bertimpal-timpal. Seperti asap nipah yang membubung ke udara, gelas-gelas kopi, teko-teko yang hitam, percakapan-percakapan yang tidak penting.<br />
<br />
Pada rabab, mungkin atau tidaknya kebenaran cerita barangkali tidak begitu penting. Ketakterdugaan bisa muncul di mana-mana. Ia seperti dirayakan. Seorang dari dusun yang jauh dan sepi, karena miskin, pergi merantau ke Jambi, lalu karena sesuatu hal, terdampar di Medan, menumpang hidup pada seorang Tukang Sate Pariaman beberapa lama. Lalu dibawa untung ke Malaysia. Bisa-bisa saja, tanpa terduga oleh kita, si pendengar yang setia. Dan setiba di Malaysia, ia dapat berbahasa Jepang dengan lancar. Karena dahulu, entah di mana, tanpa terduga, dan muncul tiba-tiba ketika dibutuhkan si Pencerita, ternyata ia pernah mengikuti les bahasa Jepang. Karena dia pandai berbahasa Jepang, oleh majikannya yang seorang China Malaysia itu, ia dinaikkan pangkat, menjadi penerjemah si Majikan yang sering berhubungan kerja dengan orang Jepang, menjadi berdasi, menjadi terpercaya, dan kaya raya. Si Majikan punya anak gadis pula, yang cantik, bak puti turun dari langit. Lalu mereka kawin. Lalu mereka bahagia.<br />
<br />
Rabab, hiburan bagi hidup yang miskin, yang cemas, yang sakit karena rusuh memandang masa depan yang tak berketentuan. Ia jelas berbeda dengan sinetron Cinta Fitri, atau semacamnya. Saya menonton sinetron itu beberapa kali. Sinetron itu juga berbicara tentang si Miskin yang malang, lantas kaya-raya karena baik hati dan tak sombong. Tetapi kita malah tambah cemas. Sinetron itu tak dekat, berada di wilayah yang kadang sulit terjangkau. Ia lebih sering berbicara tentang pertemuan orang-orang penting di kantor-kantor besar, makan malam di restoran mewah, dan semacamnya. Ia tak hadir seperti apa-adanya. Apakah karena ia memakai pemain-pemain yang divisualkan-dan ternyata tak sesuai, terlalu cantik, terlalu gagah? Sementara pada rabab tidak. Pada rabab, cerita lebih menusuk ke dalam, kita mencari-cari sesuatu ke dalam kita, membayangkan orang yang serupa dengan yang ada dalam cerita. Dan ada, dan kita menemukannya.<br />
<br />
Rabab memang tak tepat disandingkan dengan sinetron. Seorang tukang rabab bisa saja menggelar rabab di atas biduk yang tertambat di tepi pantai, atau di dangau-dangau di tengah sawah di sore-sore hari, sementara sinetron tidak. Rabab penawar raga yang letih sehabis bekerja di lading dan sawah, atau sepulang menangkap ikan dari lautan (itulah kenapa, bahasanya tidak sehalus bahasa orang bersaluang-yang merupakan kesenian Darek), sementara sinetron malah menambah runyam. Datanglah ke Kambang sana, mungkin masih akan kita temukan orang-orang tua yang menidurkan anaknya dengan berabab. Mereka memberi harapan-harapan tentang dunia yang akan baik-baik saja, masa depan yang cerah dan tak menakutkan, hidup yang (ternyata memang carut-marut) harus dijalani dengan bersenang hati dan sebagainya. Karena hidup seperti roda, walau saat ini kita di bawah, nanti, nanti, entah bila, kita akan naik. Selalu ada harapan.<br />
<br />
Rabab menawarkan itu. Walaupun harapan yang ditawarkan itu lebih terasa hanya sebagai omong-kosong. Walau orang-orang itu pun akan tahu, ini benar-benar omong kosong. Dunia nyata ini, di mana kita hidup ini, tak segampang itu menampilkan ketakterdugaan, keajaiban, kemujuran demi kemujuran. Ah, tak penting. Sebab di tengah dunia yang hiruk-pikuk, di tengah kesusahan hidup yang gampang membuat kita putus-asa, di tengah rasa sakit yang kadang seakan tak berkesudahan, kita membutuhkan itu. Dunia yang baik-baik saja. Hidup yang akan lebih baik dari sebelumnya. Kita harus menepis kecurigaan, kekhawatiran. Ia ingin kita menikmati hidup yang carut-marut ini. Lupakan tentang pemanasan global, lupakan tentang manusia yang terus-menerus tak bisa dibersihkan dari kebejatan moral, lupakan tentang bumi yang terus tua dan segala macamnya. Hidup ini baik-baik saja. Kita sudah terlalu cemas. Manusia di bumi ini sudah terlalu dibelenggu kegelisahan dan ketakutannya sendiri. Tentang perang nuklir, tentang ancaman negara barbar, tentang kaum kafir yang terus-menerus merongrong, tentang ketakutan-ketakutan yang membuat kita diliput kecurigaan terus-menerus, dalam kewaspadaan yang berlebihan.<br />
<br />
Kita membutuhkan kehidupan yang tak curiga. Kita butuh bercakap-cakap atau bertemu di jalan-jalan dengan orang yang sama sekali tidak kita kenal. Sekedar bertanya kabar, ke mana tujuan, warna kesukaan, anak-anak di rumah, orangtua, pacar, segala yang terasa dan ingin kita tanyakan. Tanpa perlu bertukar nomor telepon, tanpa perlu tahu nama masing-masing, tanpa perlu setelah itu saling mengunjungi. Kita butuh itu.<br />
<br />
Dan di kota ini, kota dengan embel-embel yang menakutkan, "Kujaga dan Kubela ini" yang semakin menjadikan kita was-was, semakin menjadikan kita jadi penuh curiga. Kita seakan-akan tengah menghadapi ribuan pasukan terjun payung yang sebentar lagi akan mendarat di Bandar Udara Ketaping. Atau seribu kapal perang tengah memenuhi lepas pantai Padang untuk melabuhkan batalion-batalion tentara. Atau seakan tengah berlangsung migrasi besar-besaran pencopet, maling, penodong, pelacur, dan lain sebagainya ke kota kita ini. Padahal, kota ini tak ada apa-apa. Kota ini salah-satu kota paling aman se-Indonesia. Padang Kota Tercinta, saya kira telah cukup menyejukkan hati, kalau kita tetap ingin berembel-embel.<br />
<br />
Pada akhirnya, cerita rabab terlalu sering, bahkan setahu saya hampir semuanya akan diakhiri kebahagiaan. Tetapi satu yang ditegaskan: bekerja, berusaha, bergiat, dan tak putus-asa. Bergerak. Tak ada keberhasilan tanpa itu. Tukang Rabab menegaskan itu dalam beberapa ceritanya. Ia sering berkisah tentang mereka yang melarat, lalu pergi merantau, merubah nasib, berusaha dengan keras, dan bahagia. Asril Anak Padangpanjang yang pernah tertangkap karena dituduh mencuri di pelabuhan Teluk Bayur, akhirnya jadi perwira polisi di Jawa sana. Asal jujur, asal mau bekerja keras. Maka, tahukah kita, bahwa rabab telah menganjurkan antrosentris. Manusia, manusia, manusialah yang menentukan hidupnya sendiri.<br />
<br /></font></font>
<p>&#160;</p>
<address><font size="4"><font size="3">Pesisir-Padang, 2008</font></font></address>
<font size="4"><font size="3"><br />
<br /></font></font>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><font size="4"><b>HUMANISME RABAB</b></p>
<p>
<font size="3">Hampir subuh. Pertunjukan rabab belum juga menampakkan tanda-tanda akan diakhiri. Penonton sudah banyak yang pulang karena tak kuat lagi menahan kantuk. Sejak selesai Isya, saya, dan penonton lainnya, telah mendengarkan si tukang rabab itu menggesek rababnya. Tapi rabab harus tetap dilanjutkan walau tak seorang penonton pun yang tersisa. Sampai suara lain menggantikannya, suara yang lebih menyanyat dan pilu dari gesekan itu. Sampai azan subuh datang ke telinga, sampai fajar bangkit dari tidurnya.</p>
<p>Meja panjang, yang kali ini beralih fungsi menjadi panggung sederhana, tempat perempuan itu bersila bersama si lelaki perabab, terlihat bergoyang. Seakan mau ambruk. <i>Raun sabalik</i> dimulai, saya ingat, sebagai pembuka pertunjukan rabab di malam itu. Meja panjang yang bergoyang menjadi olok-olokan para penonton. Olok-olokan itu kini diiringi gelak tawa. Bertimpal-timpal. Seperti asap nipah yang membubung ke udara, gelas-gelas kopi, teko-teko yang hitam, percakapan-percakapan yang tidak penting.</p>
<p>Pada rabab, mungkin atau tidaknya kebenaran cerita barangkali tidak begitu penting. Ketakterdugaan bisa muncul di mana-mana. Ia seperti dirayakan. Seorang dari dusun yang jauh dan sepi, karena miskin, pergi merantau ke Jambi, lalu karena sesuatu hal, terdampar di Medan, menumpang hidup pada seorang Tukang Sate Pariaman beberapa lama. Lalu dibawa untung ke Malaysia. Bisa-bisa saja, tanpa terduga oleh kita, si pendengar yang setia. Dan setiba di Malaysia, ia dapat berbahasa Jepang dengan lancar. Karena dahulu, entah di mana, tanpa terduga, dan muncul tiba-tiba ketika dibutuhkan si Pencerita, ternyata ia pernah mengikuti les bahasa Jepang. Karena dia pandai berbahasa Jepang, oleh majikannya yang seorang China Malaysia itu, ia dinaikkan pangkat, menjadi penerjemah si Majikan yang sering berhubungan kerja dengan orang Jepang, menjadi berdasi, menjadi terpercaya, dan kaya raya. Si Majikan punya anak gadis pula, yang cantik, bak puti turun dari langit. Lalu mereka kawin. Lalu mereka bahagia.</p>
<p>Rabab, hiburan bagi hidup yang miskin, yang cemas, yang sakit karena rusuh memandang masa depan yang tak berketentuan. Ia jelas berbeda dengan sinetron Cinta Fitri, atau semacamnya. Saya menonton sinetron itu beberapa kali. Sinetron itu juga berbicara tentang si Miskin yang malang, lantas kaya-raya karena baik hati dan tak sombong. Tetapi kita malah tambah cemas. Sinetron itu tak dekat, berada di wilayah yang kadang sulit terjangkau. Ia lebih sering berbicara tentang pertemuan orang-orang penting di kantor-kantor besar, makan malam di restoran mewah, dan semacamnya. Ia tak hadir seperti apa-adanya. Apakah karena ia memakai pemain-pemain yang divisualkan-dan ternyata tak sesuai, terlalu cantik, terlalu gagah? Sementara pada rabab tidak. Pada rabab, cerita lebih menusuk ke dalam, kita mencari-cari sesuatu ke dalam kita, membayangkan orang yang serupa dengan yang ada dalam cerita. Dan ada, dan kita menemukannya.</p>
<p>Rabab memang tak tepat disandingkan dengan sinetron. Seorang tukang rabab bisa saja menggelar rabab di atas biduk yang tertambat di tepi pantai, atau di dangau-dangau di tengah sawah di sore-sore hari, sementara sinetron tidak. Rabab penawar raga yang letih sehabis bekerja di lading dan sawah, atau sepulang menangkap ikan dari lautan (itulah kenapa, bahasanya tidak sehalus bahasa orang bersaluang-yang merupakan kesenian Darek), sementara sinetron malah menambah runyam. Datanglah ke Kambang sana, mungkin masih akan kita temukan orang-orang tua yang menidurkan anaknya dengan berabab. Mereka memberi harapan-harapan tentang dunia yang akan baik-baik saja, masa depan yang cerah dan tak menakutkan, hidup yang (ternyata memang carut-marut) harus dijalani dengan bersenang hati dan sebagainya. Karena hidup seperti roda, walau saat ini kita di bawah, nanti, nanti, entah bila, kita akan naik. Selalu ada harapan.</p>
<p>Rabab menawarkan itu. Walaupun harapan yang ditawarkan itu lebih terasa hanya sebagai omong-kosong. Walau orang-orang itu pun akan tahu, ini benar-benar omong kosong. Dunia nyata ini, di mana kita hidup ini, tak segampang itu menampilkan ketakterdugaan, keajaiban, kemujuran demi kemujuran. Ah, tak penting. Sebab di tengah dunia yang hiruk-pikuk, di tengah kesusahan hidup yang gampang membuat kita putus-asa, di tengah rasa sakit yang kadang seakan tak berkesudahan, kita membutuhkan itu. Dunia yang baik-baik saja. Hidup yang akan lebih baik dari sebelumnya. Kita harus menepis kecurigaan, kekhawatiran. Ia ingin kita menikmati hidup yang carut-marut ini. Lupakan tentang pemanasan global, lupakan tentang manusia yang terus-menerus tak bisa dibersihkan dari kebejatan moral, lupakan tentang bumi yang terus tua dan segala macamnya. Hidup ini baik-baik saja. Kita sudah terlalu cemas. Manusia di bumi ini sudah terlalu dibelenggu kegelisahan dan ketakutannya sendiri. Tentang perang nuklir, tentang ancaman negara barbar, tentang kaum kafir yang terus-menerus merongrong, tentang ketakutan-ketakutan yang membuat kita diliput kecurigaan terus-menerus, dalam kewaspadaan yang berlebihan.</p>
<p>Kita membutuhkan kehidupan yang tak curiga. Kita butuh bercakap-cakap atau bertemu di jalan-jalan dengan orang yang sama sekali tidak kita kenal. Sekedar bertanya kabar, ke mana tujuan, warna kesukaan, anak-anak di rumah, orangtua, pacar, segala yang terasa dan ingin kita tanyakan. Tanpa perlu bertukar nomor telepon, tanpa perlu tahu nama masing-masing, tanpa perlu setelah itu saling mengunjungi. Kita butuh itu.</p>
<p>Dan di kota ini, kota dengan embel-embel yang menakutkan, &#8220;Kujaga dan Kubela ini&#8221; yang semakin menjadikan kita was-was, semakin menjadikan kita jadi penuh curiga. Kita seakan-akan tengah menghadapi ribuan pasukan terjun payung yang sebentar lagi akan mendarat di Bandar Udara Ketaping. Atau seribu kapal perang tengah memenuhi lepas pantai Padang untuk melabuhkan batalion-batalion tentara. Atau seakan tengah berlangsung migrasi besar-besaran pencopet, maling, penodong, pelacur, dan lain sebagainya ke kota kita ini. Padahal, kota ini tak ada apa-apa. Kota ini salah-satu kota paling aman se-Indonesia. Padang Kota Tercinta, saya kira telah cukup menyejukkan hati, kalau kita tetap ingin berembel-embel.</p>
<p>Pada akhirnya, cerita rabab terlalu sering, bahkan setahu saya hampir semuanya akan diakhiri kebahagiaan. Tetapi satu yang ditegaskan: bekerja, berusaha, bergiat, dan tak putus-asa. Bergerak. Tak ada keberhasilan tanpa itu. Tukang Rabab menegaskan itu dalam beberapa ceritanya. Ia sering berkisah tentang mereka yang melarat, lalu pergi merantau, merubah nasib, berusaha dengan keras, dan bahagia. Asril Anak Padangpanjang yang pernah tertangkap karena dituduh mencuri di pelabuhan Teluk Bayur, akhirnya jadi perwira polisi di Jawa sana. Asal jujur, asal mau bekerja keras. Maka, tahukah kita, bahwa rabab telah menganjurkan antrosentris. Manusia, manusia, manusialah yang menentukan hidupnya sendiri.</p>
<p></font></font></p>
<p>&#160;</p>
<address><font size="4"><font size="3">Pesisir-Padang, 2008</font></font></address>
<p><font size="4"><font size="3"></p>
<p></font></font>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://urangmudiak.blog.com/2008/03/11/esai/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
