Wednesday, April 2, 2008

sajak

BUKIT PAINAN

           

            untuk Ervanita

“aku pernah ingin mengajakmu ke bukit itu.”

“ketika seumuranmu, ibuku dibawa perahu bugis ke pulau terdekat. kau lihat, matahari hanya sebesar telur penyu. laut bercerita tentang nenek moyangmu. asal-usul semakin haru biru. pasir-pasir melonjak dalam matamu. seperti hantu dari masalalu, kelepak terompah kuda, bendi yang dipacu terpaksa, dan erang sapi-sapi di padang terbuka.”

“aku masih belum lupa warna peta yang kita beri tanda. ke sini, ke sini kelak kita akan pergi. kau menunjuk arahnya. ada jejak peniti pada ujung jarimu.”

“tapi kau terlanjur menjadi oranglain.”

“aku kesakitan menanggalkanmu dari tubuhku. seperti menanggalkan desa asul-usul, tanah tanpa jawaban, musim hujan yang berlarut-larut, dan air sungai yang keruh perlahan-lahan dari riwayatku. kita tak dapat lagi berencana. membangun rumah dari semuanya. aku pernah memberimu gelang dari pelepah pinang. kita pernah berjanji untuk tak saling meninggalkan. merajut sarang di satu dahan yang tinggi. membiarkan elang-elang itu berkitar-kitar di atas kepala kita.”

“tapi kita tak pernah jadi bepergian.”

“lengkung teluk painan, biduk-biduk nelayan, dan kota kecil bau ikan, pelabuhan kapal agak ke selatan, pekan tripang, lokan, dan umang-umang. batu kureta di barat daya. derak pedati yang sesak muatan. lenguh kerbau di tanjakan. mengajarkan kita melupakan.”      

Posted by Tam at 00:40:13

Sajak

pagi ke berapa ini, sudah kembali sepi

Masih kau di sana, aku rindu sekali. Menyelami matamu

Merenangi garis hitam bibirmu

Hidup ini begitu mencekam tanpamu

Mendekatlah

Apa kau tak lelah

Bersandarlah

Kita sewaktu-waktu bisa kalah bukan? Lalu menyerah. Matamu basah,
matamu penuh asap, sayang. Sudahlah, jangan tiup lagi bara itu.

Aku akan menyapu awan-awan di pipimu.

Besok kita beli minyak tanah.

Air sudah kau masak?

Buatkan aku kopi, beri aku nasi

Lupakan tentang kianat kita

sendiri-sendiri

Suapi aku dengan tanganmu

Aku ingin menciumi nasib pahitmu

Cucilah baju. Sapu saja halamanmu

Retak langit ini

Sekelilingmu anak-anak

Menangis banyak

Pagi ke berapa lagi ini

Sudah, sudah

Kembali padaku

Jarak ini kejam, cintaku

Posted by Tam at 00:35:07
Comments

5 Responses to “sajak”

  1. Anonymous says:

    oi, kanciang! pacar den waang ambiak pitaruh. ang jadian puisi lo tuh. kama utak ang. rancak bana umpan di tangan, jan lah mamanciang di tabek urang, kalapir. lai bautak ang? tanyo lah ka paja tu, inyo dak namuah jo waang lai doh. lai jaleh diang. nyo suka ka den cek’e. dima ang kini? tunggu di situ, den turuik. cakak wak lai. pira’un ang mah. awas dak ang tunggu yo, den ramuak-ramuak an kapalo jaga waang tu, tau raso

    salam

  2. Tam says:

    batoh!

  3. Anonymous says:

    aaa nan batoh diang. kalamak paruik ang se iduik ko mah. baok amai ang bagai, dak katakuik gai den ka waang doh. sok gaya ang mah. kini tako se lah lai ha. ang tanyo ka paja gadih nantun, ma nan katuju dek inyo di antaro kito koh. lai jaleh diang tu…

  4. Anonymous says:

    hehehe…yg hari ini dimuat di Kompas…selamat ya…!!!

    salam, komang ira

  5. Artikel di blog ini sangat menarik dan bagus. Anda bisa lebih mempromosikan artikel Anda di lintasberita.com dan jadikan artikel Anda Topik yang terbaik bagi para pembaca di seluruh Indonesia. Nantikan segera plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi untuk Blogspot dan Wordpress dengan instalasi mudah & singkat. Salam!

Leave a Reply