Thursday, March 13, 2008

Iwan Fals, Hijau, dan 50:50

Di sini aku sendiri. Datanglah

Bukit yang dingin, bukit yang sepi  

Tak akan membuatmu tersiksa
 

Iwan Fals bernyanyi di tahun 1992. Suaranya tak seberat sekarang. Suara itu, seperti seorang ibu dari dusun yang jauh dan sepi, suara seorang ibu dalam Mushasi-nya Eiji Yoshikawa, yang berteriak-teriak, “Pemuda-pemuda dusun seharusnya tinggal di dusun!”. Ketika itu, Takezo, si Mushasi muda, hendak meninggalkan dusunnya, demi perang, demi cita-cita menjadi Samurai, dan melakukakn sesuatu yang bakal mengesankan sang ayah yang juga seorang samurai. Ia yang sangat ingin membuktikan diri sebagai orang yang harus diperhitungkan, dihormati, bukan hanya sebagai perisau dusun.

Iwan Fals bernyanyi di tahun 1992, dengan suara yang-tentu saja-tak merdu. Dan album Hijau dirilis. Tapi tak ditanggapi meriah. Album itu terbilang tak laku. Hijau. Entah kenapa, mungkin mengambil salah-satu judul lagu dalam album itu. Atau Hijau merupakan sesuatu yang terancam, yang dicemaskan keberadaan dan kelangsungannya.

Tahun-tahun itu, pembangunan pesat di satu sisi, industri maju dan semarak, kota-kota mekar dan gemerlap. Tapi kehancuran terus mengejar dan mengancam di lain pihak. Kita mengingat kawasan-kawasan industri yang lahir, galangan kapal, pabrik pesawat terbang, satelit palapa yang mengorbit ke angkasa, dan lainnya. Sekaligus kita tak bisa melupakan hutan yang habis, langit yang bocor, laut yang tercemar. Dan kita, (yang telah menjadi) si orangkota, yang juga bisa berarti manusia industri, diminta kembali. Tapi bisakah, sementara kata kembali adalah kata yang mengandung kalah dan gagal.

Barangkali sebuah masyarakat yang dibentuk oleh rezim yang menumpuk-numpuk kekayaan dan menghitung-hitungnya, selalu tak pernah mau menanam, selalu menyepelekan kearifan macam apa pun yang hendak diperoleh dari sebuah rangkaian usaha mencipta., dan selalu ingin memetik. Di sana, hasil hari ini menjadi segala-galanya. Ada yang lupa untuk dipikirkan ulang. Bahwa hukum kausalitas ada dan mutlak terjadi. Bahwa apa yang diperbuat hari ini, baik-buruknya, adalah tanggungan manusia yang akan datang. Ia tak cukup lepas hanya untuk hari ini, hari ketika itu.   

Dan usaha menjadi masyarakat industri, juga usaha menjadi manusia yang serba otomatis-praktis, tetap digandrungi. Sebab kota-kota terus memoles diri, dengan plasa, dengan mall. Dan televisi yang telah sampai ke dusun-dusun yang sunyi dan dingin menawarkan sesuatu. Sesuatu yang dulu hanya dibawa dan tersebar lewat cerita para perantau di kedai-kedai kopi ketika waktu lebaran tiba. Gambaran yang menakjubkan sehingga membentuk janji, harapan, peruntungan, dan sebagainya.

Dan kini, Iwan Fals berbicara lagi tentang ‘yang hijau’. Sebuah album bertajuk 50:50 dirilis tahun ini. Tapi tidak terasa lagi kesunyian yang menggetar itu. Iwan kehilangan daya bercerita, juga daya gugah seorang penyampai seperti dalam album Hijau yang dirilis belasan tahun yang lalu itu. Mungkin suasananya berbeda. Ada yang terasa hambar dan melelahkan untuk disimak dalam duabelas lagu di album ini. Entah kenapa. Mungkin Iwan putus-asa. Mungkin kita yang lelah.

Namun perambah hutan tidak pernah lelah. Harimau ditembak, karena si raja rimba itu mengganggu manusia. Karena ia kehilangan mangsa. Kenapa? Apa karena kita suka berburu babi? Mungkin benar. Tapi babi punya regenerasi yang mudah, gampang beranak-pinak, sekali melahirkan bisa banyak anak. Kenyataannya, walaupun sudah banyak kelompok-kelompok buru babi, hama babi tetap merajalela. Sedangkan regenerasi harimau terbilang sulit. Apalagi harimau Sumatera. Lantas kenapa? Di lain daerah di Sumatara, gajah menyerang penduduk, masuk perkampungan, memporak-porandakan rumah dan ladang. Habitatnya mulai terancam dan terus terdesak.

Sementara itu hutan terus juga ditebang, banjir bagai terjadwal di kalender. Dan bumi yang bocor hingga ke perutnya, menyemburkan lumpur panas yang tak mampu disumbat. Kota-kota terus merembes masuk ke daerah-daerah serapan air, bersolek dengan plasa-plasa baru dan mall, dengan beragam industri baru, cerobong-cerobong pabrik dan racun-tuba yang diarahkan ke langit tinggi.

Jika Tan Malaka dalam Madilog bersikeras bahwa hanya dengan industri kita bisa maju, mengingat Indonesia kaya dengan barang tambang, maka Iwan Fals lewat kumpulan lagu berlabel 50:50-setidak-tidaknya dari label itu-menawarkan keseimbangan, jalan tengah antara boros dan kikir, antara malas menggali dan rakus. Antara memajukan industri dan tetap menjaga kelangsungan alamraya. Jika alam terkembang jadikan guru. Maka membunuh guru adalah kejahatan paling tak terampuni.

Puncak kemajuan sebuah peradaban pada akhirnya adalah suatu kesadaran untuk kembali, ke akar-akar, ke mata air yang memancarkan kejernihan dan kesejukan. Ke tempat asal manusia yang kodrati: Alamraya. Suatu saat ada masanya, kesadaran tumbuh, bahwa alamraya, dengan segenap rahasia dan kearifannya, begitu menakjubkan kita. Kita akan merindukannya. Kelak. Entah kepan. Mungkin ketika kita telah kehilangannya begitu banyak. Bukankah kehilangan yang membuat sesuatu menjadi berarti?

Padang, 2007
 

Posted by Tam at 19:32:44 | Permalink | No Comments »

Langkisau Bukit Painan

langkisau bukik langkisau

tanang aie di talao

tangiang kampuang maimbau

taganang si aie mato

langkisau bukik painan

batampek mandi pincuran nago

elok karantau den bajalan

kok lai tabangkik batang tarandam

badabua ombak mahampeh

batu kureta mamanciang ikan

kok lai mujua bundo malapeh

ayam pulang ka pautan

–Langkisau

Apa kita Manusia Ambang, mengutip Goenawan, “tidak cukup mencintai tempat asal, tapi juga gagal menambatkan hati ke tempat yang baru?” 

***

Seseorag menciptakan lagu itu. Elly Kasim menyanyikannya di tahun yang entah. Begitu lirih dan pilu. Saya mengunjungi kota itu. Juga bukit itu. Dari atasnya kita bisa melihat kota Painan yang kecil. Indah dan menakjubkan. Ada terlihat pantai Batu Kureta yang melekuk agak ke barat. Di ujung lekuk yang lain, terlihat pelabuhan kapal agak ke selatan.

Painan memang hanya sebuah lekuk. Sekitar tahun 70-an pelaut-pelaut Bugis banyak berdatangan ke sini. Bermukim, menciptakan hidup. Ada beberapa yang kawin dengan penduduk asli. Di Painan akan kita temukan beberapa orang peranakannya.

Mungkin saja. Karena Painan-dan beberapa kota kecil lain di Pesisir itu seperti Salido dan Indrapura yang terletak lebih ke selatan memang terkenal sebagai Bandar-bandar transit sejak dahulu. Di lepas pantai Samudra Hindia, di pulau cingkuk misalnya ada berdiri sebuah benteng Belanda.

Pelaut-pelaut Bugis yang datang ke situ punya kapal-kapal besar, bagan dan pukat yang lebih mutakhir. Nelayan-nelayan pribumi kalah saing.  Dan di sekitar tahun 70-an itu pelaut-peluat Bugis yang terkenal handal itu mulai menyusut kehadirannya di kota kecil itu. Dan bahkan mulai terkikis habis. Entah peristiwa apa yang menyertainya. Beberapa orang mencatat, ada bentrok terjadi. Kapal-kapal Bugis dibakar penduduk asli di lepas pantai.

Walaupun begitu, Painan tetap menawan dengan alamnya yang elok.

Tapi Painan, kota kecil yang menawan itu, acap tak banyak memberi peruntungan. Seperti daerah lain di ranah ini banyak orang yang bertolak. Meninggalkan keindahan dan keelokan itu. Seperti sajak Takdir, “aku tinggalkan tasik yang tenang tiada beriak”.

Painan memang kota yang tenang. Ombak pantainya lembut tak berdebur seperti ombak Pantai Purus. Mungkin lebih tepatnya kota ini lamban. Ia mendekati kota mati. Di hari sabtu, kota ini akan tambah sepi. Anak-anak sekolah biasanya telah pulang ke daerah-daerah pinggiran painan. ke Bayang, Tarusan, Batangkapeh, Kambang, Belaisalasa, …

Maka seseorang-dan banyak orang-ingin ke Jakarta, Batam, Semarang, atau kota-kota besar lainnya. Merantau. Mencari peruntungan. Ingin merubah nasib. Menggeliat. Painan tidak menjanjikan itu. Ia hanya kota kecil. Sebuah transit yang penuh kenangan.

Dan orang-orang yang berangkat itu selalu akan kembali pulang. Nanti. Mengabarkan hasil pencarian selama ini. Mereka mungkin tak pernah mencintai Jakarta, Batam, Semarang, Surabaya, atau… kota-kota lainnya yang ketika akhir lebaran tiba akan lebih sering mengadakan razia para pendatang gelap. Ah, pendatang gelap. Bagaimana istilah ini dirumuskan kepada mereka, penduduk sebuah negara, yang tengah berada di dalam negaranya sendiri?

Elly Kasim bernyanyi. Dan jauh di Jawa sana ada yang terus merindukan kampung halaman. Apalagi RRI pusat, di hari-hari tertentu akan menyiarkan program “Minang Maimbau” yang menyiarkan lagu-lagu minang ternama, Aneh mungkin, kita disuruh berangkat, tapi sekaligus dipanggil pulang.

Padang, 2007

   

 

Posted by Tam at 19:15:50 | Permalink | Comments (1) »


Sarjana dan Hama

Sekolah telah membuat banyak orang menjadi murung. Bangku sekolah tidak jarang telah memisahkan pikiran-pikiran manusia dari kenyataan di sekelilingnya. Ali Syaria’ti pernah mengatakan, “Dalam kebudayaan dan sistem pendidikan modern, kaum muda kita dididik dan dilatih dalam benteng-benteng yang terlindung dan tak tertembus.”

Tetapi apalah bedanya? Tidak sekolah pun, siapa pun barangkali akan tetap rentan menjadi murung. Banyak hal yang membuat orang menjadi mudah murung akhir-akhir ini. Cuaca buruk misalnya, yang menyebabkan ladang terserang hama; orang-orang tidak bisa naik menakik getah ke rimba; nelayan tak berani melaut. Mendengar berita kecelakaan di mana-mana, gunung api yang siap meletus, dan entah…

Saya kira, sekolah-yang menyebabkan orang mudah murung itu-barangkali hanyalah usaha meretas jalan untuk menjadi pegawai negeri, atau bekerja di kantor-kantor pemerintahan, menerima gaji tetap setiap bulan, dan jika pensiun nanti bisa dapat tunjangan: sebuah usaha untuk tidak menjadi murung tentunya. Walaupun itu ‘sekolah’ Pertanian sekalipun. Saya tak bermaksud mengatakan seorang yang sekolah dan memperolah gelar sarjana pertanian harus pula menjadi petani, tapi coba perkirakan, berapakah mahasiswa pertanian yang tergerak turun ke ladang, benar-benar berkeinginan menjadi petani, setidak-tidaknya bergerak dalam usaha memajukan pertanian?

Menjadi petani? Bergerak untuk memajukan pertanian barangkali adalah cita-cita semua mahasiswa pertanian. Bahkan di luar itu. Semoga saja. Tapi untuk terjun lansung ke ladang dan ke sawah? Bukankah mereka punya laboratorium hidup di kampus-kampus mereka? Tentu. Tetapi itu hanya dikunjungi di tahun-tahun masa perkuliahan.  

Toh, untuk memajukan pertanian kita tak harus menjadi petani, tak harus langsung turun ke sawah-sawah, ke ladang-ladang, memegang cangkul dan sabit, kedong dan parang, bajak dan sikat.

Barangkali tak salah. Saya berpikir, apalah yang bisa dibuat oleh seorang (yang hanya) sarjana pertanian untuk memajukan pertanian kita, sedang doktor atau profesor pertanian pun, atau apalah namanya, barangkali belum (tentu) mengetahui hama baru apa yang menjangkiti tanaman pertanian di “kampong” mereka sendiri, yang harus segera mendapatkan penanggulangan serius. Seberapa besar peran “orang-orang pertanian yang terdidik” itu dalam memajukan pertanian itu sendiri? Dan seberapa jauh mereka terjun ke tengah ladang, memberikan ilmu mereka bagi kemajuan pertanian? Ini pun barangkali juga pernyataan yang tak sepenuhnya keliru: Para petani kita dewasa ini seperti berjalan sendiri, mengatur sendiri penanggulangan hama, pembibitan bibit unggul, pemakaian pupuk, hanya dengan mengandalkan kemampuan mereka yang terbatas.  

Seseorang saya bayangkan berkata: “Dulu ada proyek-proyek percontohan pemakaian bibit unggul, penyuluhan-penyuluhan tentang pupuk dan pestisida yang aman dan tepat, penanggulangan hama …. Dewasa ini semua itu seperti sepi. Apa yang harus kita katakan. Dari rona mukanya, seseorang itu tampaknya pasrah. Hama yang merajalela ditanggulangi sebisa ilmunya saja. Ia (mungkin banyak orang lainya) tak terlalu berharap lagi ada penyuluhan-penyuluhan semacam itu. Bukankah fakultas-fakultas pertanian, lebih banyak menciptakan orang-orang yang akan diperkerjakan sebagai pegawai di kantor-kantor pemerintahan?

Tetapi setidak-tidaknya mereka yang belajar di fakultas-fakultas pertanian tidak lagi menjadi petani yang harus menanggungkan keganasan hama yang semakin beragam dan aneh-aneh, dan tak jelas apa penyebabnya yang (hampir) tak ada obat pemberantasnya. Dan selalu kita hanya bisa berharap pada sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya kita harapkan.

Sementara untuk mengharapkan pemerintah semata-mata adalah bagian dari kesia-siaan itu. Bukankah pemerintah masih berkutat perihal impor beras dan pasokan dalam negeri yang tidak mencukupi karena kegagalan panen dan sebagainya. Tapi kita mungkin tak lupa, kegagalan-kegagalan itu tak selalu disebabkan takdir musim dan cuaca yang tak bisa dilawan, tapi barangkali termasuk keengganan kita untuk mencari, meneliti, dan menemukan penangkalnya. Bukankah yang membesarkan hati kita kadang hanyalah harapan-harapan kosong belaka? Maka ramalan Indonesia akan mencapai swasembada mutlak barangkali tak akan pernah tercapai.  

(Padang-Pesisir, 2007)

Posted by Tam at 19:04:26 | Permalink | No Comments »

 

Ajo Sidi


Ini tentang Ajo Sidi. Ini tentang si Pembual. Juga tentang Kakek Garin yang menggorok lehernya sendiri dengan pisau cukur yang diasahnya sendiri. Entah pisau cukur siapa, mungkin pisau cukur Ajo Sidi, mungkin pisau cukur seorang lain yang minta tolong diasahkan pada Kakek Garin. Karena memang demikianlah keseharian Kakek Garin yang terkenal sebagai pengasah pisau di samping melaksanakan tugasnya sebagai garin pada sebuah surau. Surau yang sepeninggal Kakek Garin papan-papannya hilang satu-satu diambil perempuan untuk kayu api, dan digunakan anak-anak sebagai tempat bermain. Memainkan segala apa yang disukai mereka.

Saya membayangkan Navis. Saya membayangkan senyum penuh satir. Begitu juga cerpen ini kiranya, Robohnya Surau Kami yang di tahun 1955 mendapatkan Hadiah Kedua majalah Kisah. Cerpen yang lahir ketika umur kemerdekaan republik ini masih dapat dihitung dengan jari. Di saat penuh getir, di waktu persaingan politik mulai terdengar bagai tambur di malam buta, semarak partai, kejatuhan kabinet, daerah-daerah dengan ancang-ancang pemberontakan, dan pidato-pidato Soekarno yang mencoba menawar perut lapar di lapangan-lapangan terbuka. Beberapa waktu menjelang Hatta mengundurkan dari dari kursi wakil presiden (dan dengan sendirinya, berakhir pulalah dwitunggal yang terkenal itu). Tahun-tahun ketika Soekarno mulai mengambil kuda-kuda ke arah Demokrasi Terpimpin yang menyatukan tiga aliran sekaligus dalam satu konsep yang kemudian dikenal sebagai NASAKOM.

Ketika gairah politik ‘gembira’ di satu sisi, maka keputus-asaan muncul di lain pihak. Mungkin karena harga beras yang tinggi menanjak, kelaparan di mana-mana, antrian panjang ibu-ibu membeli minyak tanah, aksi-aksi sepihak yang sewenang-wenang…. Sehingganya, banyak orang kemudian melarikan diri dari keadaan macam itu, melupakan dunia, dan tak lagi peduli pada kehidupan sosial yang bermasalah. Bukankah beberapa aliran tasawuf pada mulanya juga berawal dari keadaan-keadaan rupa ini?   

Dalam beberapa hitungan tahun setelahnya, tujuh jenderal dibenam di Lubang Buaya. Orang-orang PKI kemudian dikejar di mana-mana. Pembantaian, penghilangan nyawa besar-besaran, dan penghukuman tanpa dalil yang jelas menjadi semarak. Tak terkecuali di sini. Saya membayangkan begitu banyak orang bersorak. Tapi ada mungkin yang murung. Sebuah anekdot hadir saat itu, ketika kata ‘ganyang’ acap disorakkan, ‘bapakmu PKI, ya?’, atau ‘jangan gambar palu-arit lagi, nanti kau dituduh anak PKI!’ (dua yang terakhir meminjam dialog Seno Gumira Ajidarma dalam novel terbarunya bertajuk Kalatidha).

Anekdot yang tak sepenuhnya membuat kita terpingkal:

Masjid-masjid diserbu jemaah. Pengajian dan wirid dilangsungkan tiap malam. Bahkan surau-surau tua yang dulu ditingggalkan pun kini sampai tak mampu menampung. Sebab kalau tak datang ke masjid jangan-jangan nanti dicap komunis. Maka seorang lelaki tua-yang sebelumnya diketahui jarang ke masjid dan terkenal tak siak-menangis tersedu-sedu di suatu sudut surau tua, ketika mendengar pengajian pada suatu wirid, oleh seorang dai yang tak kondang-kondang amat. Para jemaah lainnya saling bergumam menyaksikannya: Mungkin lelaki tua itu “termakan kaji”, insaf, dan sadar diri.

Orang-orang itu mencoba menenangkan Pak Tua. Jangan terlalu memikirkan yang sudah-sudah, yang lalu biarlah berlalu, dan sebagai-bagainya. Tapi ternyata, semakin ramai jemaah mendekatinya, maka semakin kencanglah tangis si tua itu.

Yang benarnya, “anu” lelaki tua itu terjepit papan surau yang sudah bolong-bolong, yang pakunya banyak tanggal, yang memang sudah tak layak pakai dan menunggu roboh. 

Orang-orang kemudian berlomba membangun masjid baru, atau memperbaiki surau lama yang dulu ditinggalkan. Mungkin tak ada lagi rumah ibadah yang akan roboh. Tak ada perempuan-perempuan dan anak-anak yang mengambil satu-satu papan surau untuk kayu api atau untuk medan bermain. Mungkin yang terus roboh adalah prilaku beragama, tidak ‘tempat’ secara harfiah. Tetapi Navis menulis cerpen ini jauh sebelumnya, ketika kegamangan beragama menanjak naik dalam batin manusia, paham dan aliran berkelebat masuk, maka atheisme acap memproklamirkan diri, dan surau menjadi lapuk karena ditinggalkan.

Ini cukup tentang Ajo Sidi, si pembual itu. Atau Kakek Garin yang menggorok leher sendiri dengan pisau cukur yang diasahnya sendiri. Salahkah Ajo Sidi karena bercerita (membual) tentang seorang haji (Haji Shaleh)-dan beberapa orang siak lainnya-yang mendemo Tuhan di akhirat karena tak dimasukkan ke surga padahal rajin beribadah, bahkan ada yang berkali-kali naik haji dan bergelar syekh? Dan cerita itu terdengar pula oleh Kakek Garin yang memang seorang yang taat?

Kakek Garin telah mengabdikan diri di surau itu sejak masih muda. Ia tak ingat punya istri, punya anak, punya keluarga seperti orang-orang lain. Tak dipikirkannya hidupnya sendiri. Segala kehidupannya lahir dan batin diserahkannya pada Allah. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat, dari seperempat hasil pemungguhan ikan mas dari kolam di depan surau, dari zakat fitrah orang-orang setahun sekali… dan dari hasil ucapan terimakasih orang yang meminta tolong diasahkan pisau cukur kepadanya. Tetapi Ajo Sidi mengatainya manusia terkutuk, umpan neraka! Memang tidak secara langsung dikatakan Ajo Sidi demikian, tapi bualannya tentang haji-haji yang mendemo Tuhan, mengisyaratkannya. 

Seorang yang terkenal pembual, seorang Ajo Sidi, membuat Kakek Garin tersinggung, sekaligus terguncang. Yang disampaikan Ajo Sidi tak sepenuhnya serius. Apa yang disampaikannya hanya anekdot biasa, ringan, layaknya cerita yang umum disuguhkan dan berkembang di kedai-kedai kopi, yang kadang membuat orang terjungkal karena geli. Pun tak tergolong ‘haram’ untuk disampaikan di sembarang keadaan karena tidak seberat kajian al-Hallaj yang memproklamirkan Aku adalah Tuhan, Tuhan adalah Aku.

Navis, lewat Ajo Sidi, barangkali ingin mengkritisi prilaku beragama umat di zamannya ketika cerpen ini dibuat. Ketika itu Tuhan acap dilupakan, dan di pihak lain ‘dirangkul’ tapi dengan melupakan tempat berpijak. Tetapi ‘Navis’ kemudian menjadi tak terbatas ruang dan waktu. Kini, di sesudut lain, demi ketaatan pribadi, demi kesiakan sendiri-sendiri… ada juga karena bertengkar dengan suami, dan lain sebagainya, banyak yang melakukan wisata religius dengan ber-umrah, menghabiskan banyak uang ke tanah suci. Beberapa orang artis di tayangan televisi bahkan pergi haji berkali-kali, diumbar media demikian luas. Tak hanya artis, orang-orang kaya kebanyakan pun demikian, demi mencari ketaatan dan kedamaian diri, ketentraman jiwa, atau mencari jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi-konon tanah suci menjanjikan itu.

Di satu sisi mungkin baik-seorang teman menimbang-nimbang-daripada menghabiskan uang ke tempat-tempat wisata ‘lain’ tentu lebih baik berwisata religius ke tanah suci. Namun di sisi lain menjadi paradoks. Ketika Haji Shaleh dan para orang siak lainnya dalam Robohnya Surau Kami mendemo Tuhan karena berpikir mungkin Tuhan silap-mereka begitu yakin akan masuk surga tapi malah dicemplungkan ke neraka-dan atas pertanyaan Haji Shaleh kepada malaikat-Nya-karena Haji Shaleh tidak berani bertanya langsung kepada Tuhan-yang mengatakan bahwa “Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami menyembah Tuhan di dunia?” Maka malaikat memberi jawab: “Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan diri sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat sembayang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri….”

Ketika banyak pintu dan dinding rumah distempeli, dipasangi stiker bertuliskan RUMAH TANGGA MISKIN, maka keinginan berhaji lebih dari satu kali, atau pergi berwisata religius demi ketaatan pribadi dan ketenangan sendiri patut diberi tanda tanya besar. Apalagi mereka yang rela mengeluarkan uang jutaan utuk membangkitkan motivasi spiritual yang menurun dengan mengikuti training-training. Bukankah dalam suatu riwayat pernah disebutkan, bahwa seorang tak jadi pergi haji, tapi ia dinilai mabrur karena memberikan uang perjalanan hajinya itu untuk membantu tetangganya yang sedang kesusahan?         

Navis, lewat Robohnya Surau Kami, barangkali juga ingin mengatakan sesuatu. Bahwa ternyata keshalehan semacam keshalehannya Kakek Garin tak tahan uji, ia terlalu mudah terguncang, terlalu mudah dibuat berantakan: Kakek Garin yang terkenal shaleh dan taat menggorok lehernya sendiri dengan pisau cukur yang juga diasahnya sendiri.

Dan Ajo Sidi?

Padang, 2007

Posted by Tam at 18:56:15 | Permalink | No Comments »