Ajo Sidi
Ini tentang Ajo Sidi. Ini tentang si Pembual. Juga tentang Kakek Garin yang menggorok lehernya sendiri dengan pisau cukur yang diasahnya sendiri. Entah pisau cukur siapa, mungkin pisau cukur Ajo Sidi, mungkin pisau cukur seorang lain yang minta tolong diasahkan pada Kakek Garin. Karena memang demikianlah keseharian Kakek Garin yang terkenal sebagai pengasah pisau di samping melaksanakan tugasnya sebagai garin pada sebuah surau. Surau yang sepeninggal Kakek Garin papan-papannya hilang satu-satu diambil perempuan untuk kayu api, dan digunakan anak-anak sebagai tempat bermain. Memainkan segala apa yang disukai mereka.
Saya membayangkan Navis. Saya membayangkan senyum penuh satir. Begitu juga cerpen ini kiranya, Robohnya Surau Kami yang di tahun 1955 mendapatkan Hadiah Kedua majalah Kisah. Cerpen yang lahir ketika umur kemerdekaan republik ini masih dapat dihitung dengan jari. Di saat penuh getir, di waktu persaingan politik mulai terdengar bagai tambur di malam buta, semarak partai, kejatuhan kabinet, daerah-daerah dengan ancang-ancang pemberontakan, dan pidato-pidato Soekarno yang mencoba menawar perut lapar di lapangan-lapangan terbuka. Beberapa waktu menjelang Hatta mengundurkan dari dari kursi wakil presiden (dan dengan sendirinya, berakhir pulalah dwitunggal yang terkenal itu). Tahun-tahun ketika Soekarno mulai mengambil kuda-kuda ke arah Demokrasi Terpimpin yang menyatukan tiga aliran sekaligus dalam satu konsep yang kemudian dikenal sebagai NASAKOM.
Ketika gairah politik ‘gembira' di satu sisi, maka keputus-asaan muncul di lain pihak. Mungkin karena harga beras yang tinggi menanjak, kelaparan di mana-mana, antrian panjang ibu-ibu membeli minyak tanah, aksi-aksi sepihak yang sewenang-wenang.... Sehingganya, banyak orang kemudian melarikan diri dari keadaan macam itu, melupakan dunia, dan tak lagi peduli pada kehidupan sosial yang bermasalah. Bukankah beberapa aliran tasawuf pada mulanya juga berawal dari keadaan-keadaan rupa ini?
Dalam beberapa hitungan tahun setelahnya, tujuh jenderal dibenam di Lubang Buaya. Orang-orang PKI kemudian dikejar di mana-mana. Pembantaian, penghilangan nyawa besar-besaran, dan penghukuman tanpa dalil yang jelas menjadi semarak. Tak terkecuali di sini. Saya membayangkan begitu banyak orang bersorak. Tapi ada mungkin yang murung. Sebuah anekdot hadir saat itu, ketika kata ‘ganyang' acap disorakkan, ‘bapakmu PKI, ya?', atau ‘jangan gambar palu-arit lagi, nanti kau dituduh anak PKI!' (dua yang terakhir meminjam dialog Seno Gumira Ajidarma dalam novel terbarunya bertajuk Kalatidha).
Anekdot yang tak sepenuhnya membuat kita terpingkal:
Masjid-masjid diserbu jemaah. Pengajian dan wirid dilangsungkan tiap malam. Bahkan surau-surau tua yang dulu ditingggalkan pun kini sampai tak mampu menampung. Sebab kalau tak datang ke masjid jangan-jangan nanti dicap komunis. Maka seorang lelaki tua-yang sebelumnya diketahui jarang ke masjid dan terkenal tak siak-menangis tersedu-sedu di suatu sudut surau tua, ketika mendengar pengajian pada suatu wirid, oleh seorang dai yang tak kondang-kondang amat. Para jemaah lainnya saling bergumam menyaksikannya: Mungkin lelaki tua itu "termakan kaji", insaf, dan sadar diri.
Orang-orang itu mencoba menenangkan Pak Tua. Jangan terlalu memikirkan yang sudah-sudah, yang lalu biarlah berlalu, dan sebagai-bagainya. Tapi ternyata, semakin ramai jemaah mendekatinya, maka semakin kencanglah tangis si tua itu.
Yang benarnya, "anu" lelaki tua itu terjepit papan surau yang sudah bolong-bolong, yang pakunya banyak tanggal, yang memang sudah tak layak pakai dan menunggu roboh.
Orang-orang kemudian berlomba membangun masjid baru, atau memperbaiki surau lama yang dulu ditinggalkan. Mungkin tak ada lagi rumah ibadah yang akan roboh. Tak ada perempuan-perempuan dan anak-anak yang mengambil satu-satu papan surau untuk kayu api atau untuk medan bermain. Mungkin yang terus roboh adalah prilaku beragama, tidak ‘tempat' secara harfiah. Tetapi Navis menulis cerpen ini jauh sebelumnya, ketika kegamangan beragama menanjak naik dalam batin manusia, paham dan aliran berkelebat masuk, maka atheisme acap memproklamirkan diri, dan surau menjadi lapuk karena ditinggalkan.
Ini cukup tentang Ajo Sidi, si pembual itu. Atau Kakek Garin yang menggorok leher sendiri dengan pisau cukur yang diasahnya sendiri. Salahkah Ajo Sidi karena bercerita (membual) tentang seorang haji (Haji Shaleh)-dan beberapa orang siak lainnya-yang mendemo Tuhan di akhirat karena tak dimasukkan ke surga padahal rajin beribadah, bahkan ada yang berkali-kali naik haji dan bergelar syekh? Dan cerita itu terdengar pula oleh Kakek Garin yang memang seorang yang taat?
Kakek Garin telah mengabdikan diri di surau itu sejak masih muda. Ia tak ingat punya istri, punya anak, punya keluarga seperti orang-orang lain. Tak dipikirkannya hidupnya sendiri. Segala kehidupannya lahir dan batin diserahkannya pada Allah. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat, dari seperempat hasil pemungguhan ikan mas dari kolam di depan surau, dari zakat fitrah orang-orang setahun sekali... dan dari hasil ucapan terimakasih orang yang meminta tolong diasahkan pisau cukur kepadanya. Tetapi Ajo Sidi mengatainya manusia terkutuk, umpan neraka! Memang tidak secara langsung dikatakan Ajo Sidi demikian, tapi bualannya tentang haji-haji yang mendemo Tuhan, mengisyaratkannya.
Seorang yang terkenal pembual, seorang Ajo Sidi, membuat Kakek Garin tersinggung, sekaligus terguncang. Yang disampaikan Ajo Sidi tak sepenuhnya serius. Apa yang disampaikannya hanya anekdot biasa, ringan, layaknya cerita yang umum disuguhkan dan berkembang di kedai-kedai kopi, yang kadang membuat orang terjungkal karena geli. Pun tak tergolong ‘haram' untuk disampaikan di sembarang keadaan karena tidak seberat kajian al-Hallaj yang memproklamirkan Aku adalah Tuhan, Tuhan adalah Aku.
Navis, lewat Ajo Sidi, barangkali ingin mengkritisi prilaku beragama umat di zamannya ketika cerpen ini dibuat. Ketika itu Tuhan acap dilupakan, dan di pihak lain ‘dirangkul' tapi dengan melupakan tempat berpijak. Tetapi ‘Navis' kemudian menjadi tak terbatas ruang dan waktu. Kini, di sesudut lain, demi ketaatan pribadi, demi kesiakan sendiri-sendiri... ada juga karena bertengkar dengan suami, dan lain sebagainya, banyak yang melakukan wisata religius dengan ber-umrah, menghabiskan banyak uang ke tanah suci. Beberapa orang artis di tayangan televisi bahkan pergi haji berkali-kali, diumbar media demikian luas. Tak hanya artis, orang-orang kaya kebanyakan pun demikian, demi mencari ketaatan dan kedamaian diri, ketentraman jiwa, atau mencari jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi-konon tanah suci menjanjikan itu.
Di satu sisi mungkin baik-seorang teman menimbang-nimbang-daripada menghabiskan uang ke tempat-tempat wisata ‘lain' tentu lebih baik berwisata religius ke tanah suci. Namun di sisi lain menjadi paradoks. Ketika Haji Shaleh dan para orang siak lainnya dalam Robohnya Surau Kami mendemo Tuhan karena berpikir mungkin Tuhan silap-mereka begitu yakin akan masuk surga tapi malah dicemplungkan ke neraka-dan atas pertanyaan Haji Shaleh kepada malaikat-Nya-karena Haji Shaleh tidak berani bertanya langsung kepada Tuhan-yang mengatakan bahwa "Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami menyembah Tuhan di dunia?" Maka malaikat memberi jawab: "Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan diri sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat sembayang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri...."
Ketika banyak pintu dan dinding rumah distempeli, dipasangi stiker bertuliskan RUMAH TANGGA MISKIN, maka keinginan berhaji lebih dari satu kali, atau pergi berwisata religius demi ketaatan pribadi dan ketenangan sendiri patut diberi tanda tanya besar. Apalagi mereka yang rela mengeluarkan uang jutaan utuk membangkitkan motivasi spiritual yang menurun dengan mengikuti training-training. Bukankah dalam suatu riwayat pernah disebutkan, bahwa seorang tak jadi pergi haji, tapi ia dinilai mabrur karena memberikan uang perjalanan hajinya itu untuk membantu tetangganya yang sedang kesusahan?
Navis, lewat Robohnya Surau Kami, barangkali juga ingin mengatakan sesuatu. Bahwa ternyata keshalehan semacam keshalehannya Kakek Garin tak tahan uji, ia terlalu mudah terguncang, terlalu mudah dibuat berantakan: Kakek Garin yang terkenal shaleh dan taat menggorok lehernya sendiri dengan pisau cukur yang juga diasahnya sendiri.
Dan Ajo Sidi?
Padang, 2007